Menteri PPN: Belanja Pemerintah Harus Lebih Tajam
Kamis, 15 Desember 2011 | 14:32 WIB
Belanja pemerintah kami pertajam pada program yang memiliki prioritas tinggi
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Salsiah Alisjahbana mengatakan belanja pemerintah pada tahun anggaran yang akan datang akan lebih dipertajam sehingga penggunaannya menjadi lebih maksimal.
"Belanja pemerintah kami pertajam pada program yang memiliki prioritas tinggi, multiplier efeknya tinggi, dan belanja yang nggak perlu kami sisir lagi," kata Armida di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, belanja pemerintah juga perlu dilakukan efisiensi sehingga anggarannya bisa dialihkan ke belanja modal yang dapat memberikan dampak demi terjaganya pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
"Jadi, belanja barang yang tidak perlu, konsinyering, rapat-rapat yang dilakukan harus bisa lebih efisien agar anggarannya bisa di switch ke belanja modal," ujarnya.
Ditambahkan, pemerintah juga terus memperbaiki pola penyerapan anggran yang hingga saat ini masih menumpuk di akhir tahun anggaran, dan diharapkan pada 2012 penyerapan anggaran bisa sesuai dengan target.
Ia menjelaskan, masalah penyerapan anggaran adalah sebuah masalah klasik yang terus terjadi dari tahun ke tahun, padahal anggaran yang telah dialokasikan dalam APBN adalah untuk menggerakkan perekonomian.
"Jika anggaran lambat terserap, perekonomian juga akan melamban, untuk itu kita harus menjaga agar konsumsi masyarakat terjaga, nah disitulah masuk elemen dari anggaran itu misalnya berbagai kebijakan yang terkait dengan kebijakan sosial, pengentasan kemiskinan salah satunya, dan juga infrastruktur," ujarnya.
Selain itu, kapasitas penyerapan anggaran juga perlu menjadi perhatian bagi Kementerian/Lembaga agar semua anggaran yang telah dialokasikan dapat dipergunakan untuk program yang sesuai serta tepat waktu.
"Kalau kita lihat, jumlah investasi pemerintah sendiri telah dinaikkan, kalau pasa 2010 masih sekitar Rp 80 triliun, 2011 Rp 140 triliun, dan 2012 Rp 168 triliun, memang ini melonjaknya cukup tinggi, mungkin karena dari 2010 ke 2011 dinaikkan cukup tinggi, ternyata kapasitas penyerapan tidak sebanding dengan kenaikan investasi, ini harus diperhatikan," katanya.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Armida Salsiah Alisjahbana mengatakan belanja pemerintah pada tahun anggaran yang akan datang akan lebih dipertajam sehingga penggunaannya menjadi lebih maksimal.
"Belanja pemerintah kami pertajam pada program yang memiliki prioritas tinggi, multiplier efeknya tinggi, dan belanja yang nggak perlu kami sisir lagi," kata Armida di Jakarta, Kamis.
Menurutnya, belanja pemerintah juga perlu dilakukan efisiensi sehingga anggarannya bisa dialihkan ke belanja modal yang dapat memberikan dampak demi terjaganya pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
"Jadi, belanja barang yang tidak perlu, konsinyering, rapat-rapat yang dilakukan harus bisa lebih efisien agar anggarannya bisa di switch ke belanja modal," ujarnya.
Ditambahkan, pemerintah juga terus memperbaiki pola penyerapan anggran yang hingga saat ini masih menumpuk di akhir tahun anggaran, dan diharapkan pada 2012 penyerapan anggaran bisa sesuai dengan target.
Ia menjelaskan, masalah penyerapan anggaran adalah sebuah masalah klasik yang terus terjadi dari tahun ke tahun, padahal anggaran yang telah dialokasikan dalam APBN adalah untuk menggerakkan perekonomian.
"Jika anggaran lambat terserap, perekonomian juga akan melamban, untuk itu kita harus menjaga agar konsumsi masyarakat terjaga, nah disitulah masuk elemen dari anggaran itu misalnya berbagai kebijakan yang terkait dengan kebijakan sosial, pengentasan kemiskinan salah satunya, dan juga infrastruktur," ujarnya.
Selain itu, kapasitas penyerapan anggaran juga perlu menjadi perhatian bagi Kementerian/Lembaga agar semua anggaran yang telah dialokasikan dapat dipergunakan untuk program yang sesuai serta tepat waktu.
"Kalau kita lihat, jumlah investasi pemerintah sendiri telah dinaikkan, kalau pasa 2010 masih sekitar Rp 80 triliun, 2011 Rp 140 triliun, dan 2012 Rp 168 triliun, memang ini melonjaknya cukup tinggi, mungkin karena dari 2010 ke 2011 dinaikkan cukup tinggi, ternyata kapasitas penyerapan tidak sebanding dengan kenaikan investasi, ini harus diperhatikan," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




