Pertamina Terhimpit Pelemahan Rupiah dan Anjloknya Harga Minyak
Selasa, 15 Desember 2015 | 12:55 WIB
Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto, mengatakan, harga minyak yang jatuh sampai di bawah US$ 40 per barel dan melemahnya Rupiah pada level di atas Rp 14.000, membuat perusahaan dalam kondisi sulit. Pasalnya, kata Dwi, dengan kapasitas dan kompleksitas kilang yang masih rendah, perseroan masih harus mengimpor bahan bakar minyak (BBM).
"Ini membuat kami dalam posisi krisis," kata dia saat membuka "Refining Day 2015", di Jakarta, Selasa (15/12).
Untuk mengatasinya, sebut dia, Pertamina harus bekerja lebih keras dari perusahaan migas internasional. Para perusahaan kelas dunia itu mengatasinya dengan memotong biaya operasi 20 persen dan investasi 30 persen, kemudian dilakukan pula pengurangan tenaga kerja. Pertamina telah melakukan efisiensi. Namun, Pertamina tidak akan melakukan pengurangan pekerja.
"Jadi tantangannya makin berat karena kami tidak bisa salah satu langkah tadi," ujarnya.
Untuk itu, Pertamina juga akan fokus mengurangi impor minyak dan BBM. Impor BBM, sebut Dwi, akan ditekan dengan memaksimalkan produksi dalam negeri.
Tahun ini kapasitas kilang telah naik menjadi 880 ribu barel per hari (bph) setelah beroperasinya Kilang RFCC Cilacap dan Kilang TPPI. Selain itu, Pertamina bakal mengoptimalkan pemanfaatan minyak produksi dalam negeri. Jika perlu, perseroan bakal membentuk satuan tugas.
"Ini supaya bisa semaksimal mungkin mengatasi kenaikan Dolar," tutur Dwi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




