Indonesianisme Summit Dukung Pengembangan Proyek Mini Hidro
Sabtu, 10 Desember 2016 | 17:46 WIB
Jakarta - Bahtera Project dan PLN Distribusi Jawa Barat menandatangani MoU pembelian listrik yang disaksikan oleh sejumlah menteri dalam acara Indonesianisme Summit yang diselenggarakan Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) di Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (10/12).
Marketing Director Hidro Turbin Indonesia, Ismaryanto, mengatakan, untuk memasok listrik kepada PLN Distribusi Jawa Barat, Bahtera Project akan membangun pembangkit listrik mini hidro dengan kapasitas 2 x 2 megawatt di Garut, Jawa Barat. Diperkirakan pembangunan tersebut akan rampung dalam waktu dua tahun.
"Projek mini hidro tersebut akan menggunakan turbin air yang diproduksi HITI (Hidro Turbin Indonesia). Turbin air ini merupakan produk dalam negeri yang dihasilkan oleh HITI, perusahaan yang dikembangkan oleh tiga orang alumni ITB," ujar Ismaryanto, alumni ITB tahun 1990 jurusan Teknik Mesin.
Ismaryanto mengatakan, penandatangan nota kesepahaman pembelian listrik tersebut merupakan bentuk dukungan kongkrit terhadap pengembangan produk dalam negeri, sesuai dengan semangat Indonesianisme Summit yakni untuk mencintai produksi Indonesia dan spirit untuk menggalang sinergi dan membentuk jaringan industri antara pemerintah, BUMN, korporasi swasta dan tecnopreneur.
Kehadiran sejumlah menteri dalam acara MoU pembelian listrik di Indonesianisme Summit juga dapat menjadi branding bahwa produk Indonesia pun memiliki daya saing kuat sehingga bisa bersaing dengan produk-produk sejenis dari luar negeri.
Turut menyaksikan acara MoU pembelian listrik itu, antara lain Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Wakil Menteri (Wamen) ESDM Arcandra Thahar, dan Ketua IA-ITB Ridwan Djamaluddin.
Ismaryanto mengatakan, selama ini kebutuhan untuk proyek pembangkit listrik mini hidro banyak diimpor dari China, India dan negara-negara Eropa Timur.
"Kami, alumni ITB tergerak untuk mengembangkan turbin air dan peralatan lainnya karena sebetulnya putera Indonesia sudah menguasai teknologinya, selain karena materialnya juga sudah tersedia di negara kita. Itu sebabnya kami mendirikan HITI dengan tujuan merebut pasar di Indonesia yang selama ini dikuasai produk-produk impor," tambahnya.
Dikatakan, pembangkit mini hidro dengan kapasitas antara satu hingga 10 megawatt tersebut banyak dikembangkan oleh developer di daerah Garut, kawasan Danau Toba, Sulawesi dan Papua.
Sementara itu, Ridwan Djamaluddin menyambut positif MoU pembelian listrik yang berasal dari pembangkit listrik mini hidro tersebut.
"Kita harus membangkitkan marwah kita, para alumni ITB dalam bidang teknologi dan industri dengan mengambil alih dari pihak asing. Kita harus mengembangkan kemandirian dalam industri manufaktur dengan mengembangkan industri inti yang sesuai DNA Indonesia," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




