ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BKF: Inflasi 2017 Masih Sekitar 4%

Senin, 30 Januari 2017 | 21:59 WIB
N
B
Penulis: Nasori | Editor: B1
Ilustrasi inflasi
Ilustrasi inflasi (Istimewa)

Jakarta - Kepala Pusat (Kapus) Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Pardjiono mengatakan, laju inflasi 2017 diperkirakan masih berada di sekitar 4% dengan asumsi perubahan pada kisaran 1% sesuai dengan sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

Menurut dia, membaiknya sarana dan prasarana infrastruktur mendukung stabilisasi harga dan pasokan. Di sisi lain, masih terdapat risiko tekanan yang muncul dari komponen administered price, seperti penyesuaian besaran subsidi listrik daya 900VA golongan mampu serta kenaikan biaya administrasi STNK.

"Faktor lain yang menjadi perhatian dalam pengendalian inflasi ini adalah rencana kebijakan harga di sektor energi seiring dengan tren peningkatan harga minyak mentah dan potensi adanya gangguan iklim yang berpengaruh pada produktivitas hortikultura dan kelancaran distribusi," kata Parjiono seperti dikutip laman Kementerian Keuangan, Senin (30/1).

Ia juga menambahkan, pemerintah berkomitmen dalam pengendalian inflasi yang berpengaruh besar di masyarakat. "Pemerintah berupaya dalam mencermati kondisi supply dan demand, terutama bahan pangan pokok dan berkomitmen untuk mengendalikan inflasi komponen volatile food," ujar dia.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Penjaminan dan Manajemen Risiko Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Didiek Madiyono memperkirakan, tingkat inflasi pada 2017 dapat mencapai 4,7%. Ini berarti mendekati batas atas atau maksimum inflasi yang dijaga Bank Indonesia (BI) yaitu di level 5%.

Didiek melihat, inflasi dari tarif kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) dapat menjadi faktor pengerek laju inflasi pada tahun ini. Menurut perkiraan LPS, penyesuaian tarif tenaga listrik 900 volt ampere dan 450 volt ampere, dapat menyumbang inflasi hingga 1%.

"Faktor utama adalah listrik, kemudian ditambah kenaikan harga bahan bakar minyak (nonsubsidi), elpiji, dan cukai rokok, jika digabung kontribusinya bisa 2%," kata dia.

Jika melihat 2016, inflasi cukup terkendali di bias bawah proyeksi BI yakni 3,02 persen (year on year/yoy). Pada tahun ini BI juga memasang target inflasi di rentang 3-5%.

Dalam paparan lainnya, tim ekonom Bank Mandiri juga sebelumnya memperkirakan laju inflasi pada 2017 dapat di atas 4% atau 4,2%, sebagian besar karena kenaikan tarif administered prices.

Dengan perkiraan inflasi tahunan 4,7%, LPS memperkirakan permintaan dan pasokan kredit perbankan juga tidak akan menyentuh dua digit pada 2017. Dia memprediksi, kredit perbankan pada tahun ini tumbuh 9,2%. Sementara BI memprediksi kredit tumbuh 10-12% pada 2017.

"Kami memang konservatif mungkin kalau dari Rencana Bisnis Bank bisa 13%, tapi kita lihat RBB tahun ini tercapainya juga lebih kecil," kata Didiek seperti dikutip Antara.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, inflasi pada Desember 2016 sebesar 0,42%. Dengan demikian tingkat inflasi ‎untuk tahun kalender (Januari-Desember) mencapai 3,02%.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pada Desember lalu, 78 kota mengalami inflasi, sedangkan empat kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota ‎Lhoukseumawe sebesar 2,25%. Sementara inflasi terendah terjadi di Padang Sidampuan dan Tembilahan sebesar 0,02%. Untuk deflasi tertinggi terjadi di kota Manado sebesar 1,52%.

"Secara tahunan inflasi pada 2016 menjadi yang terendah sejak 2010. Inflasi yang terjaga sepanjang tahun ini karena inflasi bulanan yang mampu dijaga," kata dia.

Suhariyanto menuturkan, pada 2011 inflasi mencapai 3,79%. Pada 2012 inflasi naik mencapai 4,3%. Inflasi ini terus melonjak dan nilainya sangat tinggi hingga 8,38% pada 2013, dan hanya turun sedikit menjadi 8,36% pada 2014.

Pemerintah baru bisa menekan inflasi pada tahun berikutnya yakni menjadi 3,35%. Prediksi pemerintah untuk menurunkan inflasi kembali dan menahan tidak melambung hingga 4% pada 2016 tercapai. Sebab inflasi tahun lalu hanya 3,02%.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon