ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Stabilkan Pasokan dan Harga, Digitalisasi Pasar Tradisional Perlu Diperluas

Kamis, 1 Februari 2018 | 06:44 WIB
P
B
Penulis: PR | Editor: B1
CEO Etanee Cecep M Wahyudin tengah menjelaskan sistem kerja Etanee Food Marketplace dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Jakarta, Rabu (31/1).
CEO Etanee Cecep M Wahyudin tengah menjelaskan sistem kerja Etanee Food Marketplace dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Jakarta, Rabu (31/1). (Istimewa)

Jakarta - Era disrupsi yang menghantui beberapa sektor kehidupan, termasuk aktifitas pasar tradisional, mulai bisa diatasi. Konsep digitalisasi pasar tradisional diyakini bisa menjaga stabilisasi pasokan dan harga komoditas pangan dan pertanian.

Demikian disampaikan CEO Etanee Cecep M Wahyudin dalam Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2018 di Jakarta, Rabu (31/1). Raker yang dibuka di Istana Merdeka oleh Presiden Joko Widodo ini kemudian dilanjutkan di Hotel Borobudur, Jakarta, hingga Jumat (2/2).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan arahan dalam Raker yang mengusung tema Akselerasi Perdagangan di Era Ekonomi Digital itu. Sekitar 300 orang peserta Raker terdiri dari pejabat eselon I, II, dan III Kemdag, para perwakilan perdagangan di luar negeri termasuk Duta Besar WTO, atase dan konsul perdagangan. Selain itu juga Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI), Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), semua Kepala Dinas Provinsi yang membidangi perdagangan di seluruh Indonesia, serta para pelaku usaha.

Menurut Cecep, digitalisasi pasar tradisional merupakan terobosan di tengah kekhawatiran tergerusnya aktifitas ekonomi rakyat tersebut. Hal itu mengingat dua kendala besar dari pasar tradisional yaitu tidak adanya akses pasar online bagi para pedagang dan kebiasaan konsumen (consumer behavior) untuk berbelanja di pasar tradisional makin menurun, khususnya bagi generasi muda milenial.

ADVERTISEMENT

Dia menjelaskan, baru-baru ini aplikasi digital Etanee Food Marketplace telah mengimplementasikan digitalisasi pasar rakyat di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Program digitalisasi ini untuk mendukung akses pasar lebih luas bagi para pedagang pasar tradisional. "Terbukti, harga dan pasokan daging ayam yang sempat melonjak di Cianjur sekitar dua pekan lalu bisa kembali ke titik normal. Meskipun, kami didemo sekitar 200 pedagang pasar yang menjual dengan harga lebih mahal," kata Cecep yang juga alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Untuk itu, lanjut Cecep, digitalisasi pasar Cipanas menjadi pencetus (trigger) pertama dari digitalisasi pasar tradisional lainnya di Indonesia. Sekaligus, menjadi momentum untuk pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan kesinambungan eksistensi pasar tradisional.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Tjahya Widayanti memberikan apresiasi atas implementasi ekonomi digital melalui Etanee Food Marketplace yang mendorong stabilisasi harga dan pasokan. Pendekatan digitalisasi pasar rakyat itu perlu diperluas karena menghubungkan pedagang-pembeli (supply-demand) walaupun jaraknya berjauhan.
"Kemdag memberi apresiasi atas langkah Etanee Food Marketplace dalam membantu pemerintah untuk melakukan stabilisasi pasokan dan harga komoditas pangan dan pertanian di Tanah Air," kata Tjahya.

Mendag Enggartiasto Lukita dalam pengarahannya kepada peserta Raker menegaskan Indonesia perlu melakukan terobosan dan menyusun strategi menghadapi persaingan pasar, salah satunya dalam sektor digital. Dikatakan, nilai ekonomi digital pada 2015 mencapai US$ 3,5 triliun atau 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan diprediksi meningkat 11 persen per tahun dalam lima tahun ke depan.

"Ekonomi digital telah membuka peluang baru dalam bidang perdagangan, serta menjembatani kepentingan produsen, konsumen, dan pasar tanpa dibatasi ruang dan waktu. Untuk itu kebijakan terpadu sangat dibutuhkan agar pengembangan ekonomi digital dapat menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi nasional," kata Mendag.

Upaya meningkatkan kinerja perdagangan, Enggartiasto telah menyelaraskan tiga mandat Presiden Joko Widodo di bidang perdagangan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Ketiga mandat itu adalah menjaga ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok dan barang penting. Kemudian, mengutamakan penyerapan produk dalam negeri, meningkatkan ekspor dan menjaga neraca perdagangan, juga membangun dan merevitalisasi pasar rakyat.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon