Atlas Incar Produksi Batubara 2,6 Juta Ton
Sabtu, 16 Juni 2012 | 07:05 WIB
IUP Hub Muba, Sumtera Selatan akan menjadi kontribusi terbesar.
PT Atlas Resources Tbk (ARII) hingga akhir tahun ini menargetkan peningkatan produksi dua kali lipat dari menjadi 2,6 juta ton dibanding produksi 2011 yang mendekati 1,3 juta jon.
"Kita harapkan bisa dua kali lipat dari perolehan tahun lalu," kata Direktur Keuangan Atlas Resources, Dono Boestami dalam surat elektroniknya di Jakarta, Jumat (15/6).
Dia mengungkapkan, dari target produksi tersebut, wilayah izin usaha pertambangan (IUP) yang telah beroperasi di Hub Muba, Sumtera Selatan akan menjadi kontribusi terbesar, di samping empat Hub lainnya yakni Berau, Kubar, Oku, dan Papua.
Sejak produksi awal Desember 2011, target kapasitas produksi Hub Muba sekitar 2,75 juta ton per tahun. Muba mempunyai cadangan batubara sebesar 95 juta ton, sementara sumberdaya yang terukur sebesar 314 juta ton. "Sumber produksi Hub Muba terbesar. Tahun depan satu lokasi di Hub Muba sudah mulai beroperasi," kata Dono.
Dia menambahkan, saat ini dari 17 konsesi yang ada, total cadangan batubara yang terekam mencapai 104 juta ton, dengan sumber daya mencapai 377,9 juta ton.
Direktur Komersial Atlas, Aulia Setiadi menambahkan, peningkatan produksi berdampak pada penjualan dan pendapatan perseroan. "Kita akan lihat dengan tren harga. Mungkin jelang akhir tahun akan kelihatan pendapatan kita seperti apa," ungkap Aulia.
Aulia menambahkan, kisaran harga jual batubara Atlas sekitar US$75,9 per ton. "Tahun ini kurang lebih sama," katanya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Dono Boestami menambahkan, terkait penawaran obligasi yang telah dibuka sejak 5 Juni lalu, perseroan memutuskan untuk memperpanjang masa penawaran (bookbulding) yang sedianya berakhir 18 Juni menjadi 20 Juni 2012.
"Saat ini banyak perusahaan yang menawarkan obligasi di pasar. Jadi kita perpanjang msa bookbulding-nya," kata Dono.
Perseroan berenana menerbitkan oblgasi senilai maksimal Rp1,2 triliun dalam tiga seri.
PT Atlas Resources Tbk (ARII) hingga akhir tahun ini menargetkan peningkatan produksi dua kali lipat dari menjadi 2,6 juta ton dibanding produksi 2011 yang mendekati 1,3 juta jon.
"Kita harapkan bisa dua kali lipat dari perolehan tahun lalu," kata Direktur Keuangan Atlas Resources, Dono Boestami dalam surat elektroniknya di Jakarta, Jumat (15/6).
Dia mengungkapkan, dari target produksi tersebut, wilayah izin usaha pertambangan (IUP) yang telah beroperasi di Hub Muba, Sumtera Selatan akan menjadi kontribusi terbesar, di samping empat Hub lainnya yakni Berau, Kubar, Oku, dan Papua.
Sejak produksi awal Desember 2011, target kapasitas produksi Hub Muba sekitar 2,75 juta ton per tahun. Muba mempunyai cadangan batubara sebesar 95 juta ton, sementara sumberdaya yang terukur sebesar 314 juta ton. "Sumber produksi Hub Muba terbesar. Tahun depan satu lokasi di Hub Muba sudah mulai beroperasi," kata Dono.
Dia menambahkan, saat ini dari 17 konsesi yang ada, total cadangan batubara yang terekam mencapai 104 juta ton, dengan sumber daya mencapai 377,9 juta ton.
Direktur Komersial Atlas, Aulia Setiadi menambahkan, peningkatan produksi berdampak pada penjualan dan pendapatan perseroan. "Kita akan lihat dengan tren harga. Mungkin jelang akhir tahun akan kelihatan pendapatan kita seperti apa," ungkap Aulia.
Aulia menambahkan, kisaran harga jual batubara Atlas sekitar US$75,9 per ton. "Tahun ini kurang lebih sama," katanya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Dono Boestami menambahkan, terkait penawaran obligasi yang telah dibuka sejak 5 Juni lalu, perseroan memutuskan untuk memperpanjang masa penawaran (bookbulding) yang sedianya berakhir 18 Juni menjadi 20 Juni 2012.
"Saat ini banyak perusahaan yang menawarkan obligasi di pasar. Jadi kita perpanjang msa bookbulding-nya," kata Dono.
Perseroan berenana menerbitkan oblgasi senilai maksimal Rp1,2 triliun dalam tiga seri.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




