AAEI: January Effect di Bawah Bayang-bayang Omicron
Senin, 3 Januari 2022 | 05:27 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - January Effect yang biasanya terjadi pada awal tahun tidak akan berpengaruh banyak pada indeks harga saham gabungan (IHSG). Demikian menurut Direktur PT Ekuator Swarna Investama dan Ketua Bidang Pendidikan dan Humas Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Yohanis Hans Kwee.
Sejalan dengan kasus varian baru Covid-19 yakni Omicron terus menyebar. Sebagai contoh, belum lama ini, Amerika Serikat (AS) melaporkan lebih dari 441.000 kasus virus Covid-19 dalam sehari, saat varian baru Omicron terus menyebar. Lonjakan kasus ini, tercatat sebagai yang tertinggi sejak pandemi merebak di AS.
Berdasarkan data dari, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS atau CDC melaporkan 441.278 kasus Corona terdeteksi dalam sehari tertinggi sepanjang Senin (27/12/2021) waktu setempat. Angka ini, merupakan jumlah kasus harian tertinggi yang pernah dilaporkan ke CDC.
Baca Juga: Hari Terakhir Perdagangan 2021, IHSG Ditutup Melemah ke 6.581,48
Begitu juga pada benua Eropa, seperti Inggris yang mencatatkan kasus infeksi dari Omicron mencapai 100.000. Otoritas Inggris setidaknya melaporkan rekor 129.471 kasus baru Covid-19 pada hari Selasa (28/12/2021) waktu setempat. Sementara Prancis juga melaporkan kasus di atas angka itu untuk pertama kalinya. Prancis melaporkan rekor tertinggi 179.807 kasus.
Hans melanjutkan, hal ini yang menjadi perhatian utama dari para pelaku pasar dalam bertransaksi di pasar modal mengenai seberapa parah varian baru. Begitu juga para investor dalam negeri. Varian Omicron mungkin akan meningkat signifikan 2 minggu setelah tahun baru. Dalam sepekan IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6,562 sampai 6,529 dan resistance di level 6,621 sampai 6,688.
Hal senada yang diucapkan, oleh pengamat pasar modal dari Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Reza Priyambada menjelaskan, fenomena Januari Efek bisa terjadi apabila para investor melakukan aksi beli di pasar modal. Sedangkan saat ini, indeks masih diterpa dengan sentimen negatif dari adanya varian Omicron yang menyebabkan ketidakpastian kembali hadir dan cenderung membuat investor wait and see.
"Sama seperti halnya dengan window dressing, hal itu terjadi karena para pelaku pasarnya melakukan aksi beli," ujarnya.
Reza melanjutkan, hal itu juga yang menyebabkan pelaku pasar lebih cenderung memanfaatkan momentum dan berinvestasi pada instrumen yang berjangka waktu short term. Salah satu contohnya yakni pada saham sektor teknologi yang belum lama ini mengalami lonjakan market cap karena tingginya animo dari para investor.
Saham teknologi juga masuk dalam rekomendasi Reza untuk dicermati. Secara rinci, saham-saham itu di antaranya yakni MTDL, CASH, DMMX yang pertumbuhanya diperkirakan meningkat. Begitu juga, saham sektor kesehatan seperti IRRA, KAEF dan PRDA yang diproyeksikan akan meningkat sejalan dengan isu dari varian Omicron.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




