Dominasi Indonesia Open, PBSI Masih Hadapi Banyak PR

Senin, 30 September 2013 | 20:47 WIB
SA
YD
Penulis: Shesar Andriawan | Editor: YUD
Simon Santoso
Simon Santoso (Antara/Antara)

Yogyakarta - Gelaran turnamen Indonesia Terbuka Grand Prix Gold (GPG) 2013 di GOR Among Raga, Yogyakarta telah berakhir Minggu (29/9). Indonesia mendapat tiga gelar di nomor ganda putra, tunggal putra, dan ganda campuran.

Sedangkan dua nomor sisa, tunggal putri dan ganda putri lepas karena dikuasai pebulutangkis Tiongkok.

Di sektor tunggal putra, gelar juara berhasil diraih Simon Santoso yang mengalahkan Dionysius Hayom Rumbaka, 21-17, 21-11. Simon telah lama berkutat dengan cedera, sakit gondong, dan masalah kepercayaan diri. Bagi pemain asal Tegal itu, gelar di Yogyakarta menjadi katalisator kepercayaan diri sekaligus pembuktian bahwa ia belum habis.

"Kemenangan ini adalah modal untuk membangun rasa percaya diri saya. Tapi kekurangan saya masih banyak dan perlu kerja keras," aku Simon.

Kabar baik melihat Simon (28) kembali mendaki ke puncak performanya. Namun regenerasi masih menjadi kendala di nomor ini. Hayom (24) masih belum sanggup mengalahkan seniornya, begitu juga Tommy Sugiarto (25) yang kalah dari Simon di semifinal.

Satu yang cukup menjanjikan barangkali adalah pencapaian Jonatan Christie (16) yang di babak ketiga mengalahkan unggulan keempat Moh. Arif Abdul Latif asal Malaysia, 21-16, 18-21, 21-18. Namun di perempat final Jo, panggilan akrabnya, dikandaskan sang senior, Simon.

Pemain muda lain yang menyamai capaian Jonatan hanyalah Wisnu Yuli Prasetyo (19). Sisanya, seperti Riyanto Subagja (20), Muhammad Bayu Pangisthu (17), dan Thomi Azizan Mahbub (18) belum mampu melebihi harapan.

Sementara itu di sektor tunggal putri Suo Di (20) mengalahkan rekan senegara, Yao Xue (22), 21-12, 22-20. Pencapaian terbaik pebulutangkis Indonesia adalah semifinal oleh Maria Febe Kusumastuti (24), dan Aprilia Yuswandari (25).

Tunggal putri lain seperti Bellaterix Manuputty (24), Lindaweni Fanetri (23), dan Hanna Ramadhini (18) mentok di perempat final.

Selepas era Mia Audina, nomor tunggal putri Indonesia tak pernah benar-benar bisa masuk ke jajaran elit dunia. Maria Kristin pernah punya potensi itu, sayang lutut peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008 itu terlalu sering diganggu cedera.

Bisa dibilang saat ini tunggal putri Indonesia tertinggal dari negara-negara lain. Thailand memiliki Ratchanok Inthanon (18) yang menyabet gelar Juara Dunia 2013 dan Porntip Buranaprasertsuk (21) yang konsisten di turnamen kelas super series. Bahkan pada Tiongkok Masters 2013 bulan ini, ia menjungkalkan peringkat satu dunia, Li Xuerui.

Lima tahun lalu, jika ada yang menyebut Thailand akan menyodok jajaran elit bulutangkis dunia, barangkali banyak yang meremehkan pandangan tersebut. Namun, kini Thailand adalah kekuatan serius di dunia bulutangkis.

Selain Thailand, pesaing lain juga datang dari Jepang yang memiliki juara Jepang Terbuka Super Series 2013, Akane Yamaguchi (16) dan Minatsu Mitani (22) yang saat ini ada di peringkat sembilan dunia.

India pun kini memiliki jagoan baru dalam sosok Pusarla Venkata Sindhu (18). Agustus lalu Sindhu dipuji publik India karena menjadi pebulutangkis India pertama yang membawa medali Kejuaraan Dunia Bulutangkis. Seniornya, Saina Nehwal (23) pun masih konsisten bercokol di jajaran elit dengan bertengger di peringkat empat dunia.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, mencari dan mengembangkan pemain tunggal putri menjadi PR yang harus segera diselesaikan PB PBSI.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon