Gelombang Kejut Gantikan Viagra?
Selasa, 1 November 2011 | 22:28 WIB
Biasa digunakan untuk memecahkan batu ginjal
Gelombang suara bisa secara signifikan mengembalikan keperkasaan laki-laki yang sebelumnya menderita disfungsi ereksi, khususnya bagi mereka yang tidak mempan dengan obat-obatan seperti Viagra.
Para peneliti di Israel mengembangkan sebuah teknik, yang biasa digunakan untuk memecahkan batu ginjal, untuk membuat penis kembali "hidup" dengan gelombang kejut berintensitas rendah.
Gelombang terapi yang disebut "extracorporeal shock wave therapy" itu sebelumnya telah terbukti bisa meningkatkan aliran darah ke jantung dengan memperbesar pembuluh darah. Jadi para ilmuwan itu berspekulasi bahwa gelombang kejut yang sama bisa meningkatkan sirkulasi darah ke penis.
Ilan Gruenwald, salah satu peneliti dari Rambam Medical Center in Haifa, Israel, mengatakan mereka melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan 29 sukarelawan yang rata-rata berusia 61 tahun.
Dalam penelitian itu para sukarelawan diminta untuk menjelaskan fungsi seksual mereka dan mengikuti serangkaian terapi gelombang kejut.
Mereka diberikan terapi gelombang kejut itu sebanyak 300 kali selama tiga menit, pada lima titik di batang penis dalam setiap sesi. Dalam satu minggu mereka diharuskan mengikuti dua sesi terapi.
Eksperimen itu berlangsung selama tiga pekan dan diselingi oleh tiga pekan istirahat sebelum memulai terapi lagi selama tiga pekan berikutnya. Selama eksperimen itu tidak ada sukarelawan yang mengaku mengalami rasa sakit.
Hasilnya delapan orang atau hampir 30 persen pasien yang mengikuti terapi itu bisa kembali memperoleh fungsi seksual normal dan tidak lagi memerlukan pengobatan selama dua bulan.
Rata-rata skor di awal penelitian itu adalah 8,8. Dua bulan setelah eksperimen itu berakhir rata-rata skor meningkat menjadi 10 poin. Untuk kebanyakan laki-laki kenaikan itu berarti dari tidak bisa berhubungan seks sama sekali menjadi bisa berhubungan.
Akan tetapi penelitian itu tidak lepas dari kritik. Menurut beberapa ilmuwan seperti Andrew Kramer, urolog dari Maryland Medical Center, Amerika Serikat, teknik itu sama saja dengan menghantam penis menggunakan palu karena teknologi itu sebenarnya dirancang sebagai penghancur.
Sementara itu karena penelitian itu terhitung berskala kecil, hanya melibatkan 29 sukarelawan, hasilnya diduga tidak valid dan bisa jadi hanya mereka yang pulih hanya karena efek plasebo atau sugesti pasien itu sendiri.
Ada pun sebuah penelitian awal menunjukan bahwa gelombang terapi kejut juga bisa digunakan untuk mengobati pasien yang mengalami gangguan ereksi ringan dan menengah.
Gelombang suara bisa secara signifikan mengembalikan keperkasaan laki-laki yang sebelumnya menderita disfungsi ereksi, khususnya bagi mereka yang tidak mempan dengan obat-obatan seperti Viagra.
Para peneliti di Israel mengembangkan sebuah teknik, yang biasa digunakan untuk memecahkan batu ginjal, untuk membuat penis kembali "hidup" dengan gelombang kejut berintensitas rendah.
Gelombang terapi yang disebut "extracorporeal shock wave therapy" itu sebelumnya telah terbukti bisa meningkatkan aliran darah ke jantung dengan memperbesar pembuluh darah. Jadi para ilmuwan itu berspekulasi bahwa gelombang kejut yang sama bisa meningkatkan sirkulasi darah ke penis.
Ilan Gruenwald, salah satu peneliti dari Rambam Medical Center in Haifa, Israel, mengatakan mereka melakukan sebuah eksperimen yang melibatkan 29 sukarelawan yang rata-rata berusia 61 tahun.
Dalam penelitian itu para sukarelawan diminta untuk menjelaskan fungsi seksual mereka dan mengikuti serangkaian terapi gelombang kejut.
Mereka diberikan terapi gelombang kejut itu sebanyak 300 kali selama tiga menit, pada lima titik di batang penis dalam setiap sesi. Dalam satu minggu mereka diharuskan mengikuti dua sesi terapi.
Eksperimen itu berlangsung selama tiga pekan dan diselingi oleh tiga pekan istirahat sebelum memulai terapi lagi selama tiga pekan berikutnya. Selama eksperimen itu tidak ada sukarelawan yang mengaku mengalami rasa sakit.
Hasilnya delapan orang atau hampir 30 persen pasien yang mengikuti terapi itu bisa kembali memperoleh fungsi seksual normal dan tidak lagi memerlukan pengobatan selama dua bulan.
Rata-rata skor di awal penelitian itu adalah 8,8. Dua bulan setelah eksperimen itu berakhir rata-rata skor meningkat menjadi 10 poin. Untuk kebanyakan laki-laki kenaikan itu berarti dari tidak bisa berhubungan seks sama sekali menjadi bisa berhubungan.
Akan tetapi penelitian itu tidak lepas dari kritik. Menurut beberapa ilmuwan seperti Andrew Kramer, urolog dari Maryland Medical Center, Amerika Serikat, teknik itu sama saja dengan menghantam penis menggunakan palu karena teknologi itu sebenarnya dirancang sebagai penghancur.
Sementara itu karena penelitian itu terhitung berskala kecil, hanya melibatkan 29 sukarelawan, hasilnya diduga tidak valid dan bisa jadi hanya mereka yang pulih hanya karena efek plasebo atau sugesti pasien itu sendiri.
Ada pun sebuah penelitian awal menunjukan bahwa gelombang terapi kejut juga bisa digunakan untuk mengobati pasien yang mengalami gangguan ereksi ringan dan menengah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




