Tidak Semua Persalinan Bisa Diberi Oksitosin Sintesis

Rabu, 16 April 2014 | 20:49 WIB
H
B
Penulis: Herman | Editor: B1
Ilustrasi ibu hamil.
Ilustrasi ibu hamil. (Visualphotos)

Jakarta – Pemberian oksitosin sintesis untuk merangsang kontraksi yang kuat pada dinding rahim memang cukup membantu dalam proses persalinan. Namun dokter obstetri dan ginekologi Ardiansjah Dara Sjahruddin mengatakan, tidak semua orang bisa melakukan proses induksi tersebut karena bisa membahayakan si ibu maupun bayi dalam kandungan.

Dalam melakukan induksi, menurutnya ada waktu yang harus diperhatikan. Misalnya bila tidak ada tanda-tanda kontraksi di usia kehamilan yang sudah melewati cukup bulan di atas 42 minggu.

"Pemberian oksitosin sintesis merupakan upaya medis untuk mempermudah lahirnya bayi secara normal, karena pemberian oksitosin sintesis dapat memicu terjadinya kontraksi," jelas Ardiansjah Dara Sjahruddin saat diskusi SOHO #BetterU di Jakarta, Rabu (16/4).

Indikasi lainnya adalah bila pertumbuhan janin terhambat, adanya kelainan kongenital major, dan terjadi ketuban pecah dini. Lalu indikasi maternal antara lain hipertensi dalam kehamilan, diabetes melitus, dan juga penyakit jantung atau ginjal.

Namun pemberian oksitosin sintesis ini menurut Dara tidak boleh dilakukan bila terjadi plasenta previa, yaitu kondisi plasenta menempel di bagian bawah rahim sehingga bukan berada dalam posisi normal.

"Wanita yang baru melakukan operasi cesar atau pasca miomektomi juga sangat tidak dianjurkan, apalagi bagi yang mengalami disproporsi sefalopelvik," terangnya.

Disproporsi sefalopelvik merupakan keadaan yang menggambarkan ketidak seimbangan antara kepala janin dan panggul ibu, sehingga janin tidak bisa keluar melalui vagina. Penyebabnya karena panggul sempit, janin yang besar, atau keduanya.

Kondisi lainnya yang tidak dianjurkan melakukan pemberian oksitosin sintesis apabila sudah lebih dari lima kali melahirkan, memiliki riwayat partus presipitattus atau persalinan yang berlangsung sangat cepat, regangan uterus berlebihan, serta mengalami fetoplasental seperti janin preterm dengan paru belum matang, gawat janin akut, hingga kelainan letak janin.

"Pasien yang melakukan oksitosin sintesis juga harus mengetahui efek samping yang bisa timbul seperti hiperstimulasi, pendarahan pasca persalinan, robekan rahim, gawat janin, hingga prolaps tali pusat," jelas Dara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon