Jasa Marga Ajak Mahasiswa Cakap Mengemudi

Rabu, 4 Juni 2014 | 12:42 WIB
SH
B
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: B1
Ilustrasi mengemudi
Ilustrasi mengemudi (Beritasatu.com/Emral)

Jakarta - Sebagai bentuk kepedulian terhadap etika berkendara dan keselamatan di jalan raya, khususnya kepada mahasiswa yang merupakan pengemudi pemula, PT Jasa Marga (Persero) Tbkmengadakan kegiatan pelatihan safety driving bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sirkuit Sentul, Bogor, Rabu (4/6). Kegiatan tersebut berjudul "Jasa Marga Highway Safety Driving".

Sekretaris Perusahaan PT Jasa Marga, David Wijayatno kepada pers di sela-sela acara itu mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan di Sirkuit Sentul ini merupakan kesinambungan dari program kepedulian PT Jasa Marga di bidang pendidikan, khususnya bidang keselamatan berlalu lintas.

Program safety driving ini diikuti oleh total 150 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jakarta, yakni Universitas Bina Nusantara, Universitas Siswa Bangsa Internasional, Universitas Tarumanegara, Universitas Pelita Harapan, Universitas Indonesia, Universitas Surya dan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta.

Selain diberikan pemaparan mengenai safety driving, mahasiswa yang mengikuti program ini juga akan mendapatkan kesempatan langsung untuk mencoba praktik mengemudi dengan atlit balap nasional, Rizal Sungkar. Para peserta juga dapat sharing dan berdiskusi langsung dengan para pembicara yang ahli dalam bidang safety driving.

Sebelumnya PT Jasa Marga telah melakukan berbagai kegiatan di bidang tersebut, yaitu kampanye keselamatan di jalan pada konferensi anak Indonesia 2012, penyebaran buku "Aku Tertib Belalu-lintas", pembangunan "Zona Selamat Sekolah", serta "Jasa Marga Goes To Campus" yang telah dilaksanakan akhir Maret 2014.

Menurut data WHO tahun 2013, tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas per 100.000 populasi di Indonesia sebesar 2.246 buah kecelakaan. Ini merupakan angka yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan Jepang, yang mempunyai tingkat fatalitas per 100.000 populiasi hanya di bawah 4 kecelakaan.

Masih menurut data WHO, kelompok umur yang mempunyai tingkat fatalitas tertinggi di Indonesia adalah kelompok umur 22-30 tahun, yaitu sebesar 42 persen.

David mengatakan, kebiasaan mengemudi yang buruk di jalan, khususnya di jalan tol, disebabkan karena tidak adanya pendidikan formal untuk keselamatan berlalu lintas dan situasi berkendara di dalam kota, serta budaya tidak mentaati rambu-rambu atau peraturan berlalu lintas.

Sebagai contoh, kata dia, banyak pengemudi yang menambah kecepatan bila ada yang ingin berpindah jalur, berkendara di jalur kanan karena tidak mempunyai kemampuan mendahului kendaraan dengan benar, serta berkendara di bahu jalan karena tidak sabar atau ingin cepat sampai. Pengemudi juga banyak yang masih belum paham mengenai perbedaan mengemudi di jalan arteri non tol dengan di jalan tol.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon