Yugi Prayanto
Selalu Ada Kesempatan Kedua
Rabu, 10 Desember 2014 | 12:43 WIB
Pada usia 22 tahun, Yugi Prayanto sudah mampu mendirikan perusahaan percetakan, meski skalanya tidak terlalu besar, bahkan akhirnya mati. Jatuh-bangun dalam berbisnis pernah dialaminya. Pasang-surut menjalankan perusahaan sudah dilakoninya. Tapi pria asli Solo-Padang kelahiran Palembang ini tak pernah patah arang.
Bagi Yugi, tiap manusia berhak atas kesempatan kedua, termasuk dalam meraih bisnis yang menguntungkan. Pengalaman jatuh-bangun itulah yang membuatnya sangat sayang kepada siapa pun yang menjadi karyawan, kolega, maupun, mitra bisnis perusahaan yang dinakhodainya.
"Kalau ada yang menyalahi prosedur, ditegur, dan diberi notice dulu, dilihat masalahnya, tidak dipukul rata. Karena bagi saya, setiap orang atau manusia berhak dapat kesempatan kedua. Pertama mungkin khilaf, masih muda, sehingga serudak-seruduk. Asalkan dia punya mimpi baik tentu bisa diperbaiki," kata Yugi Prayanto di Jakarta, baru-baru ini.
Sikap demikian bukan berarti Yugi tidak tegas. Terbukti pengusaha kelahiran 5 April 1967 ini tidak pernah memberi toleransi apabila kesalahan itu menyangkut korupsi. Bagi yang ketahuan korupsi akan dimintanya mundur. "Semua itu dilakukan demi menempatkan seseorang pada posisi yang tepat," ujarnya. Berikut wawancara dengannya.
Bisa diceritakan bagaimana perjalanan karier Anda?
Saya mulai dari SMA di Amerika Serikat (AS), kuliah di sana juga, ikut orangtua. Sempat menjadi ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias) di Kota Houston, Texas. Kembali ke Indonesia, saya bekerja di bank asing, di Citibank dan di American Express (Amex), lalu berhenti dan kemudian mencoba berbisnis sendiri, ya naik-turun. Karier saya ada di properti, asuransi, pasar modal, jasa keuangan, perikanan, juga aktif di Kadin Indonesia.
Dulu, waktu kuliah, saya juga berorganisasi, karena organisasi penting untuk membangun networking. Saya putuskan membuat bisnis sendiri, sempat ikut om dulu. Bisnisnya macam-macam, ada di batu bara, jasa perbaikan mesin pesawat terbang, migas, mini filling plant atau mengubah gas ke kemasan 3 kg, juga kerja sama Kadin untuk budi daya udang, bawal, kerapu, dan perikanan tangkap.
Banyak sekali bisnis yang Anda geluti, mana yang sebenarnya menjadi concern Anda?
Background profesional di pasar modal, saya mempunyai izin broker. Tapi saya ingin menjadi profesional yang mengerti bisnis, yang kalau menjustifikasi satu kata, sebutlah profesional yang berwawasan usaha. Jadi, sebut saja pengusaha profesional yang punya networking luas.
Kalau ditanya bidang apa yang sesuai idealisme, lihat saja bagaimana orang-orang sukses di dunia. Paling prinsip dalam hidup adalah apa yang dijadikan usaha, kerja sama apa yang dibuat untuk usaha, maka harus membuahkan hasil. Apapun jenisnya, mau usaha kecil, sedang, besar, kalau tidak membuahkan hasil tidak bisa dibilang sukses. Apa yang dilakukan, lalu membuahkan hasil dan bermanfaat bagi orang banyak, mulai dari pemegang saham, pegawai, dan masyarakat sekitar juga bisa menikmati dampak ekonomi, itu sukses.
Bagi saya, apa pun usahanya dan seberapa size-nya, apakah budi daya udang, jasa perawatan mesin pesawat terbang, jasa keuangan, properti, yang penting ada hasil. Fokus apa yang dikerjakan, harus ada hasil dari industri yang saya pegang. Sesuai arah Indonesia ke depan, saya pun akan fokus di bidang clean energy, jasa keuangan (asuransi), dan kekayaan alam (perikanan), sedangkan lainnya properti.
Anda sebelumnya banyak membidangi keuangan, tapi sekarang kelautan dan perikanan, kenapa?
Itu karena saya ingin tunjukkan bahwa di tempat mana saja saya bisa menjalankan mandat. Dulu di pasar modal, asuransi, modal ventura, bank, sampai sekarang mengurusi asuransi kerugian, dan sejak lima tahun lalu membidangi kelautan dan perikanan.
Seperti bidang kelautan dan perikanan, ini kan baru, tapi tugas harus dituntaskan dan kata teman-teman cukup berhasil. Mulai dari membuat pendidikan dan pelatihan perkanan di Ambon, melalui kerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan membuat percontohan konkret tambak udang, kerja sama perikanan budi daya dan tangkap sesama pelaku usaha, dan terakhir membuat peta jalan (road map) pengembangan sektor kelautan dan perikanan untuk pemerintahan baru.
Kiat Anda dalam mencapai kesuksesan?
Yang paling utama adalah kepercayaan, lalu bisa bekerja dengan baik atau profesional, dan memiliki hubungan atau akses jaringan (networking) yang luas. Itu bukan hanya ketika menjadi pegawai, tapi juga saat memimpin perusahaan ataupun melakukan joint dan kemitraan. Tiga itu cukup, duit atau modal nomor empat atau lima, modal belakangan akan datang dengan sendirinya.
Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?
Sebagai presiden direktur, saya harus fokus pada tugas, yakni menambah omzet, menambah network ke regulator terkait kebijakan, mencari modal, dan mencari peluang bisnis. Sedangkan sebagai komisaris, tugas saya adalah mengawasi perusahaan, dilihat apakah ada masalah. Kalau bidangnya asuransi, apa yang mesti dibantu dari sisi manajemen, apakah sudah sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kalau bidangnya properti, apa yang bisa dibantu, apakah perlu akses ke pemerintah dan parlemen. Jaringan dengan asosiasi pengusaha dan politik bisa dioptimalkan selama profesional dan transaparan.
Tapi secara umum di bidang apa pun, setiap langkah di perusahaan harus mengikuti aturan. Bagi saya, masalah keuangan sangat prinsip dalam sebuah perusahaan, sehingga tidak ada toleransi. Apabila ada yang korupsi maka harus mundur. Kalau yang hanya menyalahi prosedur bisa ditegur atau diterbitkan notice, dilihat masalahnya tidak bisa dipukul rata. Karena filosofi saya adalah setiap orang atau manusia berhak dapat kesempatan kedua.
Strategi Anda dalam memajukan perusahaan?
Di mana-mana yang dikejar perusahaan adalah omzet. Karena itu, cari orang-orang yang dapat create a business dan buat perusahaan tersebut nyaman sehingga orang mau bekerja sampai pensiun. Ada kalanya orang bekerja tidak hanya mencari gaji, tapi juga kenyamanan. Karena itu, buat perusahaan feels like home. Mereka menjadi confident dan merasa dihargai.
Perusahaan memang harus profit oriented, tapi bukan menghalalkan segala cara. Perusahaan berjalan dengan baik, asalkan kasih kesempatan orang nyaman bekerja, diperlakukan seperti keluarga. Kalaupun misalnya mereka pindah ke perusahaan lain yang gajinya lebih besar, tapi di sana tidak dihargai, mereka akan minta untuk kembali.
Idealnya, sebuah perusahaan memang meng-hire orang-orang pintar, tapi akan lebih baik apabila bisa mendapatkan orang yang loyal dan berhati nurani. Yang pintar biar saja bikin perusahaan sendiri, jadi pengamat atau konsultan.
Adapun dalam mencari mitra bisnis, rekam jejak harus diperhatikan. Punya rekam jejak yang baik, sampai kapan pun akan dihormati sebagai pebisnis profesional. Meski tidak besar size-nya, apabila ada rekam jejak baik maka orang lain akan respek. Sebaliknya ada orang punya modal besar tapi rekam jejak kurang baik, belum tentu ada orang yang respek. Rekam jejak dan integritas terpancar dari apa yang kita lakukan di bisnis, bukan karena besar atau kecilnya modal atau perusahaan.
Keberhasilan apa yang sudah Anda raih dan dianggap paling monumental?
Yang paling bersejarah dalam hidup saya, terutama dari sisi karier, adalah mengegolkan proyek pertama atau saat mulai membuka bisnis. Setelah resign dari bank, saya bikin perusahaan yang bergerak di bidang percetakan di Menteng. Saat itu saya belum menikah dan berusia 22 tahun. Itu benar-benar dapat order dan berjalan lumayan. Meski akhirnya tutup, tapi saya tidak mengeluh. Di sini, saya mengalami proses alam yang pertama dan tidak terlupakan. Pulang sekolah dari luar, pulang ke Indonesia ingin segera menjadi direktur saja. Tapi saya mendapat pelajaran, selama manusia berusaha tanpa pantang mundur, pasti ada jalan.
Bagaimana dengan bisnis Anda saat ini?
Setelah gagal di percetakan, saya coba bisnis batu bara, properti, minyak dan gas, perawatan pesawat (maintenance, repair, and overhaul/MRO), dan perikanan, semua dari nol dan ada hasil. Ada yang sendiri, ada juga joint. Di antaranya, saya mengelola dan memimpin PT Sinar Mitra Karsa yang bergerak di bidang filling plant, mengurusi gas (LNG), pengisian tabung gas. Juga bergerak di MRO, menyediakan tenaga teknis pesawat jet. Alhamdulillah bermanfaat bagi orang lain.
Prinsip yang selama ini Anda pegang teguh dan menjadi pedoman hidup?
Jalankan kerpercayaan, pertahankan rekam jejak yang baik, profesional atau fokus di bidangnya, perluas akses atau networking, dan berdoa, apa pun hasil pasti ada hikmahnya.
Jangan pernah putus asa, jangan pantang menyerah, don't give up. Lihat bagaimana sukses pemilik KFC, seorang pensiunan kolonel yang telah berumur 66 tahun, harus membuat dan menawarkan resep bumbu ayam gorengnya sampai 1.000 kali sebelum akhirnya sukses seperti saat ini.
Cara Anda membangun networking?
Jadilah diri sendiri, jujur, bisa membawa diri, membantu orang dengan tulus, rezeki tidak tertukar. Ini yang membuat kita tegar, punya daya saing, dan pengalaman.
Kartu nama itu penting, harus selalu ada di dompet, ini yang diajarkan almarhum ayah saya. Entah di pesawat, di acara resepsi pernikahan, bertemu orang mesti bagi kartu nama. Lalu, berkomunikasilah dengan orang lain sebanyak-banyaknya, juga dengan organisasi. Tapi kalau sudah eksis, jangan semua organisasi diikuti karena banyak waktu terbuang.
Terakhir, aktif juga di kegiatan sosial dan jangan lupa bergaul dengan orang-orang sederhana yang biasa memandang masalah dengan sederhana, karena belum tentu orang hebat bisa jadi guru yang hebat. Ingat, bisnis itu sama dengan cara hidup. Kita mesti belajar ilmu padi, makin berisi makin merunduk atau low profile.
Obsesi yang masih Anda kejar?
Obsesi dalam kehidupan yang belum tercapai, saya ingin ajarkan kepada generasi muda tentang filosofi hidup bahwa ilmu dan nama baik lebih penting dari uang. Saya akan tinggalkan ilmu yang bisa dibawa sampai mati. Ada legacy yang ingin ditinggalkan.
Maju dari nol. Kekayaan atau nama besar orangtua anggap saja bonus, harus maju dengan dirinya sendiri. Ini nasihat untuk generasi muda dalam berbisnis.
Soal achievement sudah didapat, alhamdulillah. Apa yang saya lakukan bermanfaat bagi masyarakat dan selalu bersyukur. Kita harus bekerja dengan meninggalkan nama baik.
Bagaimana Anda menyeimbangkan hidup antara bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat?
Kalau ada kegiatan yang bisa bawa keluarga, saya ajak mereka. Terkadang saya juga mengajak keluarga untuk nonton bersama. Selagi ada waktu, saya pasti mengajak jalan-jalan mereka.
Peran keluarga bagi Anda?
Keluarga sangat penting. Kalau di rumah ada yang tidak nyaman, di kantor juga tidak nyaman, kembali ke rumah suasana tidak harmonis. Kalau keluarga sering ribut, malaikat pemberi rezeki pun tidak mau datang. Jadi, keluarga harus tenang. Kebahagiaan itu tidak bisa dibeli. Dikasih uang saja tapi jarang berkumpul, itu juga tidak baik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




