Kasus Talangsari, Penyidik Periksa Jurnalis AS

Selasa, 10 Februari 2015 | 13:35 WIB
BM
B
Penulis: Bayu Marhaenjati | Editor: B1
Wakil Koordinator Bidang Advokasi KontraS, Yati Andriyani (kiri), Mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), MM Billah (kedua kiri), Jurnalis asal Amerika Serikat Allan Nairn (kedua kanan) dan Korban Kasus Talangsari Amir (kanan) ketika menjadi pembicara dalm diskusi pelanggaran Ham berat di kantor Kontras, Jakarta, Jumat (30/1).
Wakil Koordinator Bidang Advokasi KontraS, Yati Andriyani (kiri), Mantan Komisioner Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM), MM Billah (kedua kiri), Jurnalis asal Amerika Serikat Allan Nairn (kedua kanan) dan Korban Kasus Talangsari Amir (kanan) ketika menjadi pembicara dalm diskusi pelanggaran Ham berat di kantor Kontras, Jakarta, Jumat (30/1). (Antara/Reno Esnir)

Jakarta - Subdit Keamanan Negara Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, memeriksa seorang Jurnalis asal Amerika Serikat, Allan Nairn, terkait dugaan kasus pencemaran nama baik terhadap korban dan keluarga pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) Talangsari, Lampung, yang diduga dilakukan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM. Hendropriyono.

"Polisi mau tanya soal wawancara saya dengan Jenderal Hendropriyono. Khususnya, tentang fakta bahwa dia bilang sama saya korban Talangsari bunuh diri. Sebenarnya itu, pembunuhan massal oleh pasukan Hendro. Tapi dia bilang bunuh diri," ujar Nairn, Selasa (10/2).

Dikatakan Nairn, penyidik melontarkan sekitar 20 sampai 40 pertanyaan terkait kasus Talangsari dalam pemeriksaan tadi.

"Hendro memang cerita bahwa orang itu bunuh diri. Dan di website saya, tadi malam, saya mengumumkan rekaman wawancara saya dengan Hendro tentang Talangsari," ungkapnya.

Ia menyampaikan, dirinya juga telah menyampaikan bukti rekaman wawancara itu kepada penyidik.

"Publik juga bisa dengar langsung di website. Itu audio. Bisa dengar suara Hendro saat dia katakan orang (korban) itu bunuh diri," jelasnya.

Nairn menuturkan, dirinya sudah sempat bertemu dengan para korban di Talangsari, termasuk tentara dan polisi di sana. "Jelasnya, itu pembantaian massal oleh Jenderal Hendropriyono," katanya.

Nairn menjelaskan, pada saat wawancara dengannya, Hendro menyebutkan beberapa poin, seperti ada sekitar seratus atau dua ratus korban, kebanyakan korban orang sipil tanpa senjata, termasuk perempuan dan anak-anak.

"Hendro juga bilang sama saya, pasukan dia mengepung pondok-pondok warga Talangsari. Dia langsung bicara sama warga, kata dia, 'Ayo keluar dari pondok. Kalau tidak keluar kami akan menyerang.' Tiba-tiba semua pondok-pondok itu dibakar. Itu yang dikatakan Hendro pada saya," jelasnya.

Menurutnya, dirinya juga membahas beberapa kasus dengan penyidik selain fakta kasus Talangsari.

"Saya sebut bahwa saya dan Hendro juga diskusi soal pembunuhan Munir. Saya tadi bilang kalau polisi memang serius dan mau selidiki kasus Munir, Talangsari, Timor Timur, saya mau bantu beri fakta," paparnya.

"Mudah-mudahan tidak lama lagi saya akan publikasi informasi tentang kerja sama Hendro dengan CIA, kaitannya dengan soal pembunuhan Munir," tambahnya.

Sementara itu, sebagai jurnalis investigasi, Niarn mengaku telah mendapat sejumlah ancaman hingga akan dibunuh.

"Tidak secara langsung dari institusi. Saya terima banyak ancaman dibunuh. Tapi dari siapa enggak tahu. Ada yang tulis mau potong kepala saya begitu," tandasnya.

Diketahui sebelumnya, korban peristiwa Talangsari atas nama Azwar didampingi Tim Advokasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), melaporkan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono, terkait dugaan pencemaran nama baik dan keterlibatannya dalam kasus pelanggaran HAM, di Dusun Talangsari, Lampung, tahun 1989.

Laporan tersebut dibuat di Mabes Polri, medio November 2014 lalu. Namun, akhirnya dilimpahkan ke Subdit Kamneg Ditreskrimum Polda Metro Jaya. Hendropriyono dilaporkan atas Pasal 320 ayat (1) KUHP, terkait pencemaran nama baik atau penghinaan terhadap orang yang sudah meninggal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon