Peringkat Moodys Picu Obligasi Infrastruktur

Rabu, 18 Januari 2012 | 16:29 WIB
DB
B
Penulis: Dion Bisara/WBP | Editor: B1
Anggota Badan Anggaran DPR Wa Ode Nurhayati (tengah) usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan KorupsiJakarta,  Wa Ode diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana  percepatan pembangunan infrastruktur daerah (16/1/12).FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo
Anggota Badan Anggaran DPR Wa Ode Nurhayati (tengah) usai menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan KorupsiJakarta, Wa Ode diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dana percepatan pembangunan infrastruktur daerah (16/1/12).FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo
Upgrade kali ini luar biasa karena langsung dari outlook stable langsung menjadi investment grade. Biasanya ke outlook postive, baru credit rating-nya naik

Pemerintah menyambut baik peringkat layak investasi (investment grade) yang diberikan Moody's Rating.

Kondisi ini diharapkan bisa menjadi momentum ini bisa menarik investor-investor asing ke pembiayaan infrastruktur melalui penerbitan obligasi infrastruktur.

Setelah pada Desember 2011 lalu, Fitch Rating menempatkan Indonesia di level layak investasi, Moody's rating mempertegas peringkat utang berdenominasi rupiah dan valas Republik Indonesia (RI) ke Baa3 dengan prospek stabil dari Ba1. Alasannya, Indonesia mampu meredam dampak krisis global, serta kondisi perbankan domestik yang sehat.

"Upgrade kali ini luar biasa karena langsung dari outlook stable langsung menjadi investment grade. Biasanya ke outlook postive, baru credit rating-nya naik," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto dalam pesan singkatnya kepada wartawan, hari ini.

Dia mengatakan, naiknya peringkat Indonesia versi Moodys juga akan mendorong sumber pembiayaan di sektor infrastruktur diantaranya melalui obligasi infrastruktur. "Pembangunan infrastruktur semakin meningkat karena tersedianya sumber pembiayaan jangka panjang yang murah," tandas Rahmat.

Menurut Rahmat, dengan kenaikan peringkat ini, maka risiko pembalikan modal dari Indonesia mengecil. "Pasar keuangan domestik semakin stabil sehingga kepercayaan investor global meningkat," katanya.

Selain itu, itu, imbal hasil penerbitan surat berharga negara (SBN) Indonesia juga akan semakin rendah, sehingga mengurangi beban utang RI. "Ini terlihat dari berhasilnya global bond 30 tahun dengan volume terbesar di Asia dan imbal hasil (yield) terendah," kata Rahmat.

Pemerintah telah menjual Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) bertenor 30 tahun senilai US$ 1,75 miliar, Selasa (10/01). Obligasi tersebut dijual dengan kupon 5,25 persen dan diskon 1,852 persen sehingga imbal hasilnya sebesar 5,375 persen. Yield ini merupakan yang  terendah sepanjang sejarah RI menerbitkan obligasi 30 tahun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon