Udin dan Sabar, Dua Buron Jaringan Abu Umar
Minggu, 12 Februari 2012 | 15:54 WIB
Keduanya dianggap sama berbahayanya, dengan salah satu memegang beberapa senjata api laras panjang dan laras pendek, sementara yang satunya adalah pelatih militer.
Identitas dua teroris jaringan Abu Umar yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dicari penyidik Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri, adalah Udin Bubur, serta Sabar alias Bacho alias Ridho. Hal ini diungkapkan oleh sumber penyidik di lingkungan Densus 88, kepada Beritasatu.com di Jakarta, hari ini.
"Keduanya sama berbahayanya. Udin kami yakini memegang sebuah senjata api laras panjang M 16 miliknya sendiri, dan ditambah lima lagi senjata api laras panjang dan pendek yang diterimanya dari Abu Umar. (Sementara) Sabar adalah pelatih militer," ungkap sumber penyidik yang tak mau disebutkan namanya itu.
Mengingat potensi inilah, penyidik Polri pun tidak mengendurkan pencarian mereka. Apalagi kelompok Abu Umar yang diketahui sebagai jaringan Negara Islam Indonesia (NII) non-struktural ini diyakini sudah mempunyai beberapa plot, mulai dari penyerangan Kedubes Singapura di Jakarta, hingga penyerangan komunitas Syiah.
Polisi juga berharap mereka berdua menyerah, sebagaimana Mulyadi yang masuk daftar DPO, yang datang dan menyerah Rabu (8/2) malam ke Mabes Polri. Mulyadi dan dua orang buron itu, adalah anggota jaringan yang dipimpin Muhammad Ichwan (41) alias Zulfikar alias Abdullah Omar alias Abu Umar, alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman, yang ditangkap Juli 2011.
Seperti diberitakan, Abu Umar ditangkap saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina Selatan via Tawau, Malaysia. Dia juga dituduh merencanakan penyerangan di Kedutaan Singapura, Jakarta.
Sebelumnya, pihak Polri menyatakan, dana operasional aktivitas kelompok Abu Umar dalam upayanya untuk melancarkan aksi teror dihasilkan dari jual-beli senjata api dan dana pribadi. Mereka juga menyiapkan rencana menculik dan membunuh kelompok Syiah dengan sebutan operasi Ightilat. Namun operasi ini belum terencana, karena terburu terbongkar oleh polisi.
Umar sendiri sudah dicari polisi sejak tahun 1999, karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil. Dia juga terlibat dalam penyediaan senjata api yang digunakan di dalam menyerang anggota Brimob di Loki, Ambon, pada 2005, yang menewaskan lima orang Brimob.
Penyerangan ini dimotori oleh Djaja alias Asep Dahlan yang kini mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur. Asep dikenal sebagai anggota Mujahidin Ambon yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah.
Identitas dua teroris jaringan Abu Umar yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dicari penyidik Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Mabes Polri, adalah Udin Bubur, serta Sabar alias Bacho alias Ridho. Hal ini diungkapkan oleh sumber penyidik di lingkungan Densus 88, kepada Beritasatu.com di Jakarta, hari ini.
"Keduanya sama berbahayanya. Udin kami yakini memegang sebuah senjata api laras panjang M 16 miliknya sendiri, dan ditambah lima lagi senjata api laras panjang dan pendek yang diterimanya dari Abu Umar. (Sementara) Sabar adalah pelatih militer," ungkap sumber penyidik yang tak mau disebutkan namanya itu.
Mengingat potensi inilah, penyidik Polri pun tidak mengendurkan pencarian mereka. Apalagi kelompok Abu Umar yang diketahui sebagai jaringan Negara Islam Indonesia (NII) non-struktural ini diyakini sudah mempunyai beberapa plot, mulai dari penyerangan Kedubes Singapura di Jakarta, hingga penyerangan komunitas Syiah.
Polisi juga berharap mereka berdua menyerah, sebagaimana Mulyadi yang masuk daftar DPO, yang datang dan menyerah Rabu (8/2) malam ke Mabes Polri. Mulyadi dan dua orang buron itu, adalah anggota jaringan yang dipimpin Muhammad Ichwan (41) alias Zulfikar alias Abdullah Omar alias Abu Umar, alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman, yang ditangkap Juli 2011.
Seperti diberitakan, Abu Umar ditangkap saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina Selatan via Tawau, Malaysia. Dia juga dituduh merencanakan penyerangan di Kedutaan Singapura, Jakarta.
Sebelumnya, pihak Polri menyatakan, dana operasional aktivitas kelompok Abu Umar dalam upayanya untuk melancarkan aksi teror dihasilkan dari jual-beli senjata api dan dana pribadi. Mereka juga menyiapkan rencana menculik dan membunuh kelompok Syiah dengan sebutan operasi Ightilat. Namun operasi ini belum terencana, karena terburu terbongkar oleh polisi.
Umar sendiri sudah dicari polisi sejak tahun 1999, karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil. Dia juga terlibat dalam penyediaan senjata api yang digunakan di dalam menyerang anggota Brimob di Loki, Ambon, pada 2005, yang menewaskan lima orang Brimob.
Penyerangan ini dimotori oleh Djaja alias Asep Dahlan yang kini mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur. Asep dikenal sebagai anggota Mujahidin Ambon yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




