Natal Memberi Semangat untuk Hidup Lebih Baik
Kamis, 24 Desember 2015 | 21:32 WIB
Depok-Natal harus dimaknai sebagai ungkapan bela rasa Allah bagi umat yang tertindas oleh kuasa dosa. Natal menunjukkan betapa Allah yang Maha Mulia rela melepaskan kemuliaanNya dan mengulurkan tangan untuk menyelamatkan umatNya dari belenggu dosa. Yesus datang ke dunia demi keadilan dan kesetiaan supaya umatNya hidup berkenan kepada Allah. Oleh karena itu, Natal harus dimaknai dengan suka cita karena Natal memberi semangat untuk hidup lebih baik.
Demikian dikatakan Pendeta Yohanes I Tuwaidan M.Min dalam kotbah ibadah malam Natal di GKI Palsigunung, Depok, Kamis (24/12) malam.
Ia mengatakan, kelahiran Yesus di palungan, menunjukkan betapa Allah berbela rasa bagi umat yang tertindas dan hina. "Ia yang Maha Mulia itu rela menempati palungan, yang adalah tempat makan ternak. Bukan di hotel, istana, atau di rumah yang megah, tetapi Dia lahir di tempat yang tidak dianggap orang. Yang berada di tempat paling belakang. Tapi, di situlah Allah menunjukkan bela rasaNya bagi umat manusia. Dia sudah mengulurkan tanganNya untuk keselamatan kita. Pertanyaannya apakah kita mau menyambut Dia atau tidak?" tuturnya.
Pendeta Yohanes juga menekankan bahwa, tempat yang terindah untuk Natal adalah hati umat manusia, bukan rumah yang megah, bukan pula istana yang mewah. "Apa artinya rumah yang megah, atau istana yang mewah jika tidak ada kedamaian di sana, tidak ada orang yang mampir, apalagi menginap. Namun, walaupun rumah kita hanyalah sebuah gubuk kecil yang mungkin saja berantakan tidak teratur, tetapi jika ada hati yang terbuka, menyambut kedatangan Tuhan, maka di situ ada damai sejahtera. Banyak orang akan mampir, bahkan mereka bisa merasakan suka cita yang dari Tuhan tersebut," tandasnya.
Ia juga mengingatkan umat agar dalam kehidupan berbangsa dan bernegera, umat juga harus meneladani apa yang sudah Tuhan Yesus perbuat dan bersikap bela rasa. Bersedia membela yang tertindas dan mengulurkan tangan untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Bukan sebaliknya, memanfaatkan kemiskinan dan kekurangan orang lain untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan kelompok.
"Jika Anda seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang berbela rasa bukan pemimpin yang elegan. Pemimpin yang berbela rasa adalah pemimpin yang apa adanya. Bersedia naik mobil rakyat, naik di kelas ekonomi, dan berada di tengah-tengah rakyat dan yang selalu memperhatikan rakyat yang tertindas. Tetapi, pemimpin yang elegan adalah pemimpin yang eksklusif. kalau naik mobil pun yang paling mahal," paparnya.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan umat agar sebagai rakyat Indonesia, umat juga harus menyambut uluran tangan pemerintah yang sudah berbuat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat atau memperbaiki kualitas hidup rakyat. "Jika pemimpin sudah berbela rasa dan mau memperhatikan nasib rakyat, maka kita sebagai rakyat juga harus bersedia diatur, bersedia menyambut uluran tangan pemerintah untuk memperbaiki kehidupan kita," tegasnya.
Oleh karena itu, kata Pendeta Yohanes Tuwaidan, Natal harus dimaknai dengan suka cita. Natal memberi motivasi, membangkitkan, dan mengubah hidup manusia menjadi lebih baik. "Untuk itu, kita harus hidup dengan rajin, tekun, penuh semangat sebagai rakyat indonesia. Walau peran kita kecil, kita harus tetap berkarya bagi banyak orang. Mari kita sambut kasih Allah karena Tuhan ada bersama kita bukan sebagai figur yang elegan tapi figur yang penuh bela rasa," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




