Pemerintah RI Terus Upayakan Pembebasan 10 Sandera WNI

Rabu, 6 April 2016 | 00:28 WIB
LC
B
Penulis: Leonard AL Cahyoputra | Editor: B1
Menlu Retno Marsudi
Menlu Retno Marsudi (Antara/Kemenlu/Rudi Hartanto)

Jakarta – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Menlu RI) Retno L.P Marsudi mengatakan pemerintah terus berusaha untuk membebaskan 10 warga negara Indonesia (WNI) yang masih disandera kelompok militan Abu Sayyaf di Filipina.

"Saya telah mengintensifkan komunikasi dan kerja sama dengan Pemerintah Filipina. Saya telah melakukan kunjungan ke Filipina pada 1 dan 2 April kemarin, dan diterima baik oleh presiden Filipina," kata Retno di Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI), Jakarta, Selasa (5/4).

Selain bertemu dengan Presiden Filipina Benigno S Aquino III, Retno juga melakukan pertemuan terpisah dengan Menlu Filiona Jose Rene D Almendras dan panglima Angkatan Bersenjata Filipina.

Menurut Retno, selama kunjungannya disana, terlihat jelas komitmen Pemerintah Filipina dalam melakukan upaya terbaik pembebasan sandera. Hasilnya, tambah dia, telah disampaikan ke presiden RI.

Sedangkan, tindak lanjutnya pada 4 April adalah dengan melakukan rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator bidang politik Hukum & Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan.

"Setiap hari kami selalu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Filipina. Prinsip utama yang telah dipahami yaitu keselamatan sandera merupakan acuan utama dari berbagai opsi yang ada," ujar dia.

Selain berkomunikasi dengan Pemerintah Filipina, Kemlu RI juga terus melakukan komunikasi dengan kerabat keluarga dari 10 anak buah kapal (ABK) WNI yang disandera. Mantan duta besar Belanda untuk Indonesia ini telah menunjuk dua liaison officer (LO) untuk melakukan komunikasi intensif dengan kerabat keluarga ABK.

"Saat ini, sudah dua kali kami menginformasikan kepada keluarga ABK, yaitu pada Rabu (30/3) dan Senin kemarin. Pihak keluarga ABK juga aktif menghubungi LO kami untuk menanyakan perkembangannya," ucap Menlu Retno.

Dalam konferensi pers, Retno mengatakan kapal tongkang Anand 12 yang membawa 10 sandera WNI telah ditemukan Pemerintah Malaysia di wilayah perairan Lahad Datu, Negara bagian Sabah, Malaysia.

Saat ini, kapal masih berada di tangan Agensi Penguat Kekuasaan Maritim Malaysia (APKMM) dalam rangka uji forensik yang bisa memakan waktu 7-10 hari.

"Komunikasi saya dengan Menlu Malaysia Anifah Aman terbukti sangat berguna dalam menindaklanjuti ditemukannya kapal tongkang Anand 12," tambah dia.

Pemerintah Malaysia, lanjut Retno, menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama jika ada perubahan situasi yang memerlukan kerja sama Malaysia.

Sebelumnya, pada pekan lalu, terjadi pembajakan terhadap kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 berbendera Indonesia yang sedang membawa tujuh ribu ton batu bara dan 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Indonesia. Kesepuluh ABK WNI ini pun disandera oleh kelompok militan Abu Sayyaf.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon