Pertemuan Trilateral Jadi Faktor Bebasnya 4 WNI
Kamis, 12 Mei 2016 | 23:51 WIB
Jakarta – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Repulik Indonesia (Kemlu RI) Arrmanatha Nasir atau Tata mengatakan salah satu faktor keberhasilan pembebasan empat sandera warga negara Indonesia (WNI) adalah dilakukannya pertemuan trilateral di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Pertemuan trilateral tersebut dihadiri oleh para menteri luar negeri dan panglima angkatan militer dari Indonesia, Malaysia dan Filipina.
"Salah satu faktor dimana keberhasilan ini adalah pertemuan trilateral di Yogyakarta kemarin. Sehingga bisa lebih erat maka kita bisa membebaskan empat ABK," ujar Tata, di Jakarta, Kamis (12/5).
Menurut Tata, empat anak buah kapal (ABK) tersebut akan diserahterimakan dari Pemerintah Filipina ke Indonesia dan dibawa ke Tarakan, Kalimantan Utara. Mereka diperkirakan tiba di Jakarta di besok, Jumat (13/5).
Pembebasan empat ABK itu, lanjut terang Tata, merupakan bentuk kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Filipina. Bahkan sejumlah pihak di Filipina, yang bukan dari aspek pemerintah juga ikut membantu.
Namun saat diminta penjelasan lebih lanjut tentang operasi pembebasan, Tata enggan membeberkan detailnya karena ini berhubungan dengan situasi di Filipina selatan yang sangat kompleks.
"Karena itu kami tidak bisa membeberkan secara detail. Yang terpenting adalah WNI telah selamat dan dibebaskan. Untuk detail operasi, kita tidak ingin membeberkan karena keselamatan orang yang membantu kita di Indonesia dan Filipina," jelas dia.
Tata juga membantah, bebasnya empat sandera WNI dikarenakan uang tebusan yang dibayarkan. "Pemerintah Indonesia tidak memiliki kebijakan untuk memberi pembayaran kepada para penyandera," pungkasnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Filipina Rene Almendras mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas "koordinasi yang sangat erat" yang membantu menjamin pembebasan para sandera. Dia mengatakan upaya penyelamatan dibantu oleh kesepakatan baru-baru ini yang bertujuan menghentikan lonjakan penculikan.
Sebelumnya, pada pertemuan trilateral pekan lalu, ketiga menlu sepakat untuk melakukan patroli bersama di jalur air utama antara negara dan membuat saluran hotline agar dapat berkomunikasi lebih cepat dalam keadaan darurat dan saling berbagi informasi intelijen.
Para sandera diantarkan sampai di luar rumah Gubernur Sulu Abdusakur Tan di Jolo, sebuah pulau di sebelah selatan Filipina, yang terkenal menjadi benteng pertahanan kubu Abu Sayyaf.
Tan menyampaikan anggota dari kelompok pemberontak Muslim tersebut telah membantu negosiasi pembebasan.
Pembebasan sandera Indonesia dilakukan melalui pendekatan persuasif serta upaya-upaya bersama dari pihak militer dan polisi, juga pemerintah setempat dan pemerintah provinsi. Selain itu, tidak ada uang tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan sandera asal Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




