Jakpro Targetkan DED Velodrome Rampung di Juli 2016
Rabu, 25 Mei 2016 | 19:19 WIB
Jakarta - PT Jakarta Propertindo (Jakpro) menargetkan detail engineering design (DED) Velodrome akan sudan rampung pada Juli mendatang. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembangunan fisik stadion balap sepeda yang akan digunakan dalam Asian Games.
Presiden Direktur (Presdir) PT Jakpro, Satya Heragandhi mengatakan pihaknya mendapatkan penugasan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk membangun prasarana olah raga dalam ajang Asian Games 2018, khususnya venue Velodrome (area balap sepeda), di Rawamangun, Jakarta Timur.
"Kami terus berupaya segera mewujudkan proyek Velodrome ini. Agar bisa digunakan untuk Asian Games 2018 nanti. Kami berharap proses pembangunannya dapat berjalan lancar," kata Satya dalam keterangan pers di Hotel Crowne, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (25/5).
Setelah melakukan lelang beberapa waktu lalu, akhirnya terdapat satu peserta lelang yang memenangkan lelang, yaitu ES Global dari Inggris. ES Global telah berpengalaman membangun Velodrome di Brazil dan Queensland (Australia).
"ES Global telah merancang desain area balapan sepeda bertaraf internasional. Dari rancangan ini, Velodrome di Jakarta menjadi satu-satunya area balapan sepeda kelas dunia di ASEAN," ujarnya.
Tidak hanya itu, lanjutnya, dalam pengerjaan pembangunan fisik nanti akan diawasi secara ketat oleh UCI (Union Cycliste Internationale). "Kami serius mengerjakan ini, dan diharapkan semua berjalan lancar," ucapnya.
Project Director Velodrome, Dharmananda Lukito, menegaskan, desain konstruksi Velodrome baru ini merupakan besutan dari pakar konstruksi Velodrome dari Inggris ES Global.
Setelah ditetapkan sebagai pemenang, maka prosesnya langsung dilanjutkan penyelesaian DED yang diperkirakan kurang lebih memakan waktu tiga bulan. Jakpro memperkirakan setidaknya Juli nanti sudah final.
Lebih lanjut Dharmananda mengatakan, pelaksanaan fisik di lapangan bisa dilakukan pada Juni mendatang. Dengan begitu diharapkan, seluruh proyek velodrome ini, tuntas pada akhir Juni 2018 maksimum.
"Sebenarnya dari sisi waktu, sangat ketat, namun kami yakin masih bisa dikejar untuk Asian Games 2018 kok," kata Dharmananda.
Terkait anggaran, Dhamananda menuturkan, untuk perhitungan awal untuk proyek hingga tuntas memerlukan dana sekitar US$ 30 juta. Namun, karena kebutuhan pemenuhan standar yang tinggi, mengakibatkan anggaran bertambah menjadi US$ 40 juta.
"Kita memang pertama kali membangun Velodrome bertaraf dan bersertifikasi internasional, memang terjadi perubahan anggaran naik dari estimasi semula," ujarnya.
Untuk memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan oleh UCI, diakuinya tidak mudah. Seperti konstruksi utama main yakni lantai area balap sepeda, terbuat dari kayu yang materialnya secara khusus harus sesuai rekomendasi UCI.
"Kita sih, tetap usulkan pakai kayu dalam negeri yakni kayu Merbau dari Sumatera Selatan, namun kalau UCI menilai tidak memenuhi syarat, ya no option harus impor kayu dari Siberia," jelasnya.
Trek balap sepeda ini, menurut Dharmananda, memiliki lingkar dengan panjang sekitar 250 meter, sedangkan lebar lingkaran 5,5 meter. Kayu yang dipasang ini, tidak boleh lebih sedikitpun atau kurang, karena semua harus penuhi standar UCI.
Kapasitas velodrome ini juga cukup besar yakni mampu menampung hingga 3.000 orang. Dengan rincian, sebanyak 2.000 tempat duduk permanen dan 1.000 tempat duduk tambahan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




