Perkuat Persatuan, Jangan Umbar Kekerasan
Jumat, 15 Juli 2016 | 15:05 WIB
Jakarta -- Perayaan hari raya Idul Fitri atau lebaran sejatinya harus digunakan untuk mempersatukan diri dari berbagai macam perpecahan yang terjadi selama ini. Bukan mengumbar aksi kekerasan seperti aksi bom bunuh diri di Mapolres Solo, juga bom-bom lain menjelang Idul Fitri di Masjid Nabawi, dan Bandara Istanbul, Turki.
Yang terakhir, yang terjadi pada Jumat (15/7) dini hari WIB, adalah teror truk di Nice, Prancis. Lebih dari 80 orang tewas dilindas truk itu.
"Di Indonesia momentum perayaan Idul Fitri menunjukkan adanya persatuan antara keluarga, kerabat, kampung, negara dan juga agama. Jadi jangan Idul Fitri dijadikan momentum untuk mengajarkan kekerasan atau pun perpecahan antarsesama umat, seperti yang dilakukan kelompok-kelompok radikal," ujar peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Adnan Anwar, di Jakarta, Jumat (15/7).
Pria yang juga tokoh pemuda Nahdlatul Ulama (NU) ini mengatakan, dalam agama Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kebencian atau pun kekerasan, yang tentunya dapat merusak fondasi persatuan bangsa dan juga agama dalam menjalankan tali silaturahmi yang selama ini sudah berjalan dengan baik sesuai tradisi di Indonesia.
"Agama Islam yang rahmatan lil ialamin ini mengajarkan kepada umatnya bagaimana pentingnya menjaga persatuan dan menjalin silaturahmi antarsesama umat," ujar pria yang pernah menjabat sebagai Wakil Sekjen PBNU ini.
Sementara itu, Islam yang dijadikan 'kendaraan' oleh kelompok tertentu untuk melakukan kekerasan, menurutnya telah disalahtafsirkan dengan mengajarkan perpecahan dan kebencian, termasuk kepada umat Islam yang tidak sepaham dan dianggap kafir.
Dijelaskan alumnus Fisip Universitas Airlangga Surabaya ini, sejatinya Idul Fitri juga bisa diartikan sebagai puncak dari pelaksanaan ibadah puasa pada bulan Ramadhan. Idul Fitri sendiri memiliki keterkaitan makna dengan tujuan akhir yang ingin diraih dari pelaksanaan kewajiban berpuasa yang bisa diartikan sebagai hari kemenangan bagi umat Islam.
Pria yang juga menjadi penghubung PBNU dengan negara-negara di Timur Tengah ini mengatakan bahwa silaturahim adalah sarana aktivitas yang sangat penting untuk dilakukan dalam rangka meningkatkan tali persaudaraan demi terwujudnya persatuan umat yang lebih kuat. Karena kekuatan silaturahim umat yang begitu besar dampaknya akan berujung pada kekuatan persatuan nasional yang lebih baik ke depannya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




