Naik 48 Persen
Meski Revolusi, Laju Perdagangan RI-Mesir Meningkat
Jumat, 23 Maret 2012 | 20:44 WIB
Minyak sawit mentah adalah komoditi andalan ekspor ke Mesir
Mesir masih dalam suasana revolusi, pasca tumbangnya rezim pimpinan Presiden Hosni Mubarak tahun silam, namun laju pertumbuhan perdagangan RI-Mesir tumbuh baik, meningkat 48 persen.
Menurut data Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai kerja sama perdagangan RI-Mesir pada 2011 mencapai 1,58 miliar dolar AS. Atau meningkat 48,5 persen dibanding tahun sebelumnya, tercatat sebesar 1,07 miliar dolar.
Komoditas perdagangan kedua negara didominasi oleh barang non minyak dan gas (migas). Nilai perdagangan migas hanya tercatat 45,4 juta dolar pada 2011 dibanding 65,0 juta dolar tahun sebelumnya.
Dari data perdagangan tersebut, total nilai ekspor RI ke negara Piramida itu pada 2011 mencapai 1,397 miliar dolar, dibanding impor Mesir 191 juta dolar, atau surplus bagi Indonesia mencapai 1,206 miliar dolar.
Minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menempati urutan teratas, sebagai komoditi andalan ekspor Indonesia ke Mesir, mencapai 457,67 juta dolar pada 2011. Dibanding 211,14 juta dolar tahun sebelumnya, atau meningkat 116,7 persen.
Barang andalan lainnya mencakup komponen otomotif, ban kendaraan bermotor, baterai kendaraan, peralatan kantor, kosmetik, sabun, perhiasaan, pakaian batik, perabotan perkantoran dan rumah tangga, dan pakaian jadi, di samping bahan makanan olahan.
Namun data BPS berbeda dari data Pusat Statistik Mesir (CAPMAS), yang mencatat perdagangan kedua negara sepanjang 2011 meningkat tajam, mencapai 73,7 persen. Yaitu tercatat 942,65 juta dolar dibanding tahun sebelumnya terdata 639,71 juta dolar.
Kepala Fungsi Ekonomi merangkap Pelaksana Tugas Atase Perdagangan KBRI Kairo, Walther Soetjahjo Karjodimedjo, menilai perbedaan kedua pusat statistik itu karena terjadi kemungkinan praktek penulisan under invoice dari pengusaha Mesir.
"Ada kemungkinan pengusaha Mesir melakukan praktek pencatatan under invoice untuk menghindari pajak bea masuk setempat," katanya.
Walther mememberi contoh, bisa satu jenis barang dari Indonesia seharga 10 dolar, maka penguasa Mesir mencatatnya hanya lima dolar untuk menghindari pajak.
Diminati
Pelaku bisnis Mesir, Mohamed Barakat, mengatakan produk dagangan Indonesia kini telah membanjiri Mesir dan diminati oleh warga setempat.
"Warga Mesir telah akrab dengan produk dagangan berkualitas tinggi dari Indonesia yang membanjiri pasar," kata Barakat dalam presentasinya pada acara peluncuran Forum Kerja Sama ASEAN-Mesir (AEBA) di Kairo, Rabu (21/3.
Barakat yang juga Ketua Dewan Bisnis Mesir-Indonesia itu juga memaparkan tentang situasi investasi di Indonesia.
"Saya telah berulang kali berkunjung ke Indonesia dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa prospektifnya menanamkan investasi di Indonesia," ujarnya di hadapan para pelaku bisnis dari ASEAN dan Mesir itu.
Ia juga menyinggung keramahan pemerintah Indonesia menyambut investor asing dan mudahnya menjumpai para menteri terkait di Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia saat ini juga ambil bagian dalam Pameran Industri dan Perdagangan Mesir (Cairo International Fair/CIF) ke-45 untuk mempromosikan beragam barang dagangan Indonesia.
Sebelas perusahaaan Indonesia berpartisipasi dalam CIF tersebut, yaitu PT Sekawan Cosmetic, Nahdi Jewelry, PT Bina Karya Prima, CV Afaq Erfani, Reny Feby Jewelry, PT FG. Artha Sejahtera, PT Harvest Chemical Solutions, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, PT Andaw Ngensowidjaja dan PT Savindo Karya Perdana.
Di samping itu, empat agen produk Indonesia di Mesir juga turut ambil bagian, mencakup Pyramid Glass Company SAE, Al Pharaana for trade, Mohsen El Fayyoumy Trade dan Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd.
Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi, mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam CIF itu sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk mengangkat citra positif Mesir yang sedang berjuang untuk memulihkan perekonomiannya pasca Revolusi 25 Januari 2011.
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luar Negeri Mesir, Mahmoud Eisa, bahkan secara khusus meresmikan stand Indonesia tersebut pada hari pembukaan CIF (18 Maret) dengan pengguntingan pita merah putih.
Mesir masih dalam suasana revolusi, pasca tumbangnya rezim pimpinan Presiden Hosni Mubarak tahun silam, namun laju pertumbuhan perdagangan RI-Mesir tumbuh baik, meningkat 48 persen.
Menurut data Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo, yang dikutip dari Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai kerja sama perdagangan RI-Mesir pada 2011 mencapai 1,58 miliar dolar AS. Atau meningkat 48,5 persen dibanding tahun sebelumnya, tercatat sebesar 1,07 miliar dolar.
Komoditas perdagangan kedua negara didominasi oleh barang non minyak dan gas (migas). Nilai perdagangan migas hanya tercatat 45,4 juta dolar pada 2011 dibanding 65,0 juta dolar tahun sebelumnya.
Dari data perdagangan tersebut, total nilai ekspor RI ke negara Piramida itu pada 2011 mencapai 1,397 miliar dolar, dibanding impor Mesir 191 juta dolar, atau surplus bagi Indonesia mencapai 1,206 miliar dolar.
Minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) menempati urutan teratas, sebagai komoditi andalan ekspor Indonesia ke Mesir, mencapai 457,67 juta dolar pada 2011. Dibanding 211,14 juta dolar tahun sebelumnya, atau meningkat 116,7 persen.
Barang andalan lainnya mencakup komponen otomotif, ban kendaraan bermotor, baterai kendaraan, peralatan kantor, kosmetik, sabun, perhiasaan, pakaian batik, perabotan perkantoran dan rumah tangga, dan pakaian jadi, di samping bahan makanan olahan.
Namun data BPS berbeda dari data Pusat Statistik Mesir (CAPMAS), yang mencatat perdagangan kedua negara sepanjang 2011 meningkat tajam, mencapai 73,7 persen. Yaitu tercatat 942,65 juta dolar dibanding tahun sebelumnya terdata 639,71 juta dolar.
Kepala Fungsi Ekonomi merangkap Pelaksana Tugas Atase Perdagangan KBRI Kairo, Walther Soetjahjo Karjodimedjo, menilai perbedaan kedua pusat statistik itu karena terjadi kemungkinan praktek penulisan under invoice dari pengusaha Mesir.
"Ada kemungkinan pengusaha Mesir melakukan praktek pencatatan under invoice untuk menghindari pajak bea masuk setempat," katanya.
Walther mememberi contoh, bisa satu jenis barang dari Indonesia seharga 10 dolar, maka penguasa Mesir mencatatnya hanya lima dolar untuk menghindari pajak.
Diminati
Pelaku bisnis Mesir, Mohamed Barakat, mengatakan produk dagangan Indonesia kini telah membanjiri Mesir dan diminati oleh warga setempat.
"Warga Mesir telah akrab dengan produk dagangan berkualitas tinggi dari Indonesia yang membanjiri pasar," kata Barakat dalam presentasinya pada acara peluncuran Forum Kerja Sama ASEAN-Mesir (AEBA) di Kairo, Rabu (21/3.
Barakat yang juga Ketua Dewan Bisnis Mesir-Indonesia itu juga memaparkan tentang situasi investasi di Indonesia.
"Saya telah berulang kali berkunjung ke Indonesia dan melihat dengan mata kepala sendiri betapa prospektifnya menanamkan investasi di Indonesia," ujarnya di hadapan para pelaku bisnis dari ASEAN dan Mesir itu.
Ia juga menyinggung keramahan pemerintah Indonesia menyambut investor asing dan mudahnya menjumpai para menteri terkait di Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia saat ini juga ambil bagian dalam Pameran Industri dan Perdagangan Mesir (Cairo International Fair/CIF) ke-45 untuk mempromosikan beragam barang dagangan Indonesia.
Sebelas perusahaaan Indonesia berpartisipasi dalam CIF tersebut, yaitu PT Sekawan Cosmetic, Nahdi Jewelry, PT Bina Karya Prima, CV Afaq Erfani, Reny Feby Jewelry, PT FG. Artha Sejahtera, PT Harvest Chemical Solutions, Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, PT Andaw Ngensowidjaja dan PT Savindo Karya Perdana.
Di samping itu, empat agen produk Indonesia di Mesir juga turut ambil bagian, mencakup Pyramid Glass Company SAE, Al Pharaana for trade, Mohsen El Fayyoumy Trade dan Salim Wazaran Abu Alata Co. Ltd.
Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizi Suwandi, mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam CIF itu sebagai bagian dari upaya Indonesia untuk mengangkat citra positif Mesir yang sedang berjuang untuk memulihkan perekonomiannya pasca Revolusi 25 Januari 2011.
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luar Negeri Mesir, Mahmoud Eisa, bahkan secara khusus meresmikan stand Indonesia tersebut pada hari pembukaan CIF (18 Maret) dengan pengguntingan pita merah putih.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




