The Raid: Nyaris Tak Memberi Napas Penonton
Minggu, 25 Maret 2012 | 15:18 WIB
Tanpa banyak dialog.
Saat membesut The Raid, Gareth Evans mengaku tidak pernah berpikir jika filmnya tersebut akan dihujani berbagai pujian.
Sebab, sang sutradara hanya berpikir untuk membuat film sebaik mungkin. Terlebih saat itu masalah dana juga menjadi hal yang diperhatikan. Namun rupanya kerja keras dan kesabaran para kru film, membuat film ini menjadi sukses, justru sebelum dirilis di bioskop.
Secara garis besar, The Raid merupakan film aksi yang tidak hanya mengedepankan aksi dar der dor dengan menggunakan senjata api, namun sang sutradara dan penulis skenario rupanya ingin menunjukkan nuansa lain, dengan memberikan porsi besar pada seni bela diri Pencak Silat, yang dikuasai Iko Uwais, sang pemeran utama. Dalam film tersebut Iko juga didapuk menjadi pelatih koreografi untuk adegan-adegan bela diri.
Nama Iko Uwais sendiri mulai dikenal, sejak ia membintangi film Merantau, yang juga mengedepankan ilmu bela diri Pencak Silat.
Tanpa banyak dialog, film The Raid mencoba memberikan cerita yang sederhana, agar penonton mudah untuk memahaminya. Penulis skenario juga sepertinya tidak ingin memberikan sosok sang jagoan sebagai "pemain watak" dengan dialog-dialog dan alur yang memusingkan. Suguhan aksi dar der dor dan bela diri, menjadi ketegangan yang nyaris membuat penonton tidak sempat menarik napas.
Efek yang disajikan pun nyaris sempurna. Cipratan darah, tembakan senjata, hingga bunyi tulang remuk ditunjukkan dengan penanganan para ahli di bidangnya, sehingga membuat penonton merasakan tengah berada dalam pertempuran tersebut.
Cerita The Raid memang cukup sederhana. Bemula saat penggerebekan 20 orang pasukan elite dari kepolisian ke sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit kelas dunia yang berbahaya.
Misinya, menangkap pengelola apartemen, yang juga gembong kejahatan di ibu kota. Namun misi tersebut ketahuan sang pemilik apartemen, sehingga ia mengerahkan para penghuninya untuk membantai pasukan elite tersebut. Petempuran yang tidak seimbang pun berlangsung. Pasukan elite tersebut diserbu ratusan penjahat yang bermukin di apartemen itu.
Film The Raid mendapatkan bank pujian dan penghargaan di tingkat internasional, seperti di ajang People's Choice Awards Midness Toronto Film Festival, Audience Award's Winner Dublin Film Festival, mendapatkan bank positive reviews dan merupakan film Indonesia pertama yang dibeli hak distribusinya oleh Sony Pictures Worldwide untuk wilayah Amerika Serikat.
Selain Iko Uwais, film The Raid dibintangi Perre Sadaq Hamid, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman dan Ananda George.
Jika Anda penggemar film aksi, sepertinya The Raid sangat cocok masuk dalam agenda tontonan Anda.
Saat membesut The Raid, Gareth Evans mengaku tidak pernah berpikir jika filmnya tersebut akan dihujani berbagai pujian.
Sebab, sang sutradara hanya berpikir untuk membuat film sebaik mungkin. Terlebih saat itu masalah dana juga menjadi hal yang diperhatikan. Namun rupanya kerja keras dan kesabaran para kru film, membuat film ini menjadi sukses, justru sebelum dirilis di bioskop.
Secara garis besar, The Raid merupakan film aksi yang tidak hanya mengedepankan aksi dar der dor dengan menggunakan senjata api, namun sang sutradara dan penulis skenario rupanya ingin menunjukkan nuansa lain, dengan memberikan porsi besar pada seni bela diri Pencak Silat, yang dikuasai Iko Uwais, sang pemeran utama. Dalam film tersebut Iko juga didapuk menjadi pelatih koreografi untuk adegan-adegan bela diri.
Nama Iko Uwais sendiri mulai dikenal, sejak ia membintangi film Merantau, yang juga mengedepankan ilmu bela diri Pencak Silat.
Tanpa banyak dialog, film The Raid mencoba memberikan cerita yang sederhana, agar penonton mudah untuk memahaminya. Penulis skenario juga sepertinya tidak ingin memberikan sosok sang jagoan sebagai "pemain watak" dengan dialog-dialog dan alur yang memusingkan. Suguhan aksi dar der dor dan bela diri, menjadi ketegangan yang nyaris membuat penonton tidak sempat menarik napas.
Efek yang disajikan pun nyaris sempurna. Cipratan darah, tembakan senjata, hingga bunyi tulang remuk ditunjukkan dengan penanganan para ahli di bidangnya, sehingga membuat penonton merasakan tengah berada dalam pertempuran tersebut.
Cerita The Raid memang cukup sederhana. Bemula saat penggerebekan 20 orang pasukan elite dari kepolisian ke sebuah gedung apartemen tua yang menjadi markas persembunyian para pembunuh dan bandit kelas dunia yang berbahaya.
Misinya, menangkap pengelola apartemen, yang juga gembong kejahatan di ibu kota. Namun misi tersebut ketahuan sang pemilik apartemen, sehingga ia mengerahkan para penghuninya untuk membantai pasukan elite tersebut. Petempuran yang tidak seimbang pun berlangsung. Pasukan elite tersebut diserbu ratusan penjahat yang bermukin di apartemen itu.
Film The Raid mendapatkan bank pujian dan penghargaan di tingkat internasional, seperti di ajang People's Choice Awards Midness Toronto Film Festival, Audience Award's Winner Dublin Film Festival, mendapatkan bank positive reviews dan merupakan film Indonesia pertama yang dibeli hak distribusinya oleh Sony Pictures Worldwide untuk wilayah Amerika Serikat.
Selain Iko Uwais, film The Raid dibintangi Perre Sadaq Hamid, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Tegar Satria, Verdi Solaiman dan Ananda George.
Jika Anda penggemar film aksi, sepertinya The Raid sangat cocok masuk dalam agenda tontonan Anda.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




