PBB Perlu Pendanaan Berkelanjutan dan Tetap Transparan

Kamis, 27 Oktober 2016 | 13:15 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Anggota DPR dari Fraksi PDIP yang juga anggota tetap Parlemen Dunia untuk UN Affairs mewakili Asia Pacific Group, Evita Nursanty (kiri) saat menjadi salah satu panelis dalam Sesi Standing Committee Meeting on UN Affairs di Jenewa, Swiss, Rabu, 26 Oktober 2016.
Anggota DPR dari Fraksi PDIP yang juga anggota tetap Parlemen Dunia untuk UN Affairs mewakili Asia Pacific Group, Evita Nursanty (kiri) saat menjadi salah satu panelis dalam Sesi Standing Committee Meeting on UN Affairs di Jenewa, Swiss, Rabu, 26 Oktober 2016. (Istimewa/Istimewa/Asni Ovier)

Jenewa - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu menerima pendanaan yang lebih pasti secara berkelanjutan. Hal ini  diperlukan agar PBB dapat menjalankan misinya, termasuk dalam rangka menyukseskan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Namun, PBB dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya juga harus lebih efisien dan mengedepankan transparansi serta akuntabilitas dalam pengelolaankeuangan. Hal itu dikatakan aAnggota DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga anggota tetap parlemen dunia untuk UN Affairs mewakili Asia Pacific Group, Evita Nursanty, saat menjadi salah satu panelis dalam Sesi Standing Committee Meeting on UN Affairs dengan topik "Funding The UN: Indonesia's Perspectives" di Jenewa, Swiss, Rabu (26/10).

Pertemuan itu merupakan rangkaian Sidang Parlemen Sedunia ke-135 atau 135th Inter-Parliamentary Union (IPU) Assembly and Related Meetings yang berlangsung pada 23 hingga 27 Oktober 2016.

"Indonesia berharap PBB perlu menerima pendanaan yang lebih pasti secara berkelanjutan, namun kita juga meminta PBB dan lembaga-lembaga yang ada di bawahnya untuk lebih efisien dan transparan," kata Evita.

Indonesia merupakan anggota PBB yang aktif memberikan kontribusi. Pada 2015, total kontribusi Indonesia ke PBB mencapai Rp 366,8 miliar atau sekitar 50% dari total kontribusi Indonesia ke seluruh lembaga internasional.

Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR itu menyebutkan, pada dasarnya, Indonesia menerima banyak program dari PBB, terutama program pembangunan melalui UNDP.  Namun, kata Evita, program PBB di Tanah Air harus selaras dengan inisiatif dan prioritas pembangunan.

"PBB seharusnya lebih memperhatikan prioritas pembangunan nasional Indonesia dalam mendesain program-programnya. Jadi, bukan hanya dengan melibatkan eksekutif, tetapi juga legislatif," ujarnya.

Menurutnya, selama ini anggota DPR berkomunikasi dengan konstituennya secara intensif, sehingga mereka memahami kepentingan masyarakat. Dengan demikian, keterlibatan parlemen dalam penyusunan program PBB di Indonesia dapat memberikan hasil yang lebih efektif.

Namun, disayangkan, saat ini DPR masih kesulitan untuk mengetahui secara rinci program-program PBB yang diperoleh karena mereka terdistribusi antarkementerian, lembaga publik, kelompok masyarakat sipil, dan LSM, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Efektifitas program PBB yang dijalankan di Indonesia masih sulit untuk dievaluasi. Siapa saja yang menerima manfaat dari program PBB? Bagaimana hasilnya?" tanya Evita.

Program PBB berasal dari iuran negara-negara anggotanya. DPR, sesuai fungsinya, berhak untuk memonitor penggunaan anggaran negara, termasuk anggaran yang diserahkan ke PBB sebagai kontribusi Indonesia. DPR juga perlu menjalin komunikasi dengan UN Country Office di Indonesia.

Hal ini selaras dengan resolusi yang baru saja diadopsi PBB pada 25 Juli 2016, yaitu mengenai pentingnya kerja sama dan kolaborasi yang lebih intensif antara PBB, IPU, dan parlemen di tingkat nasional.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon