DONALD TRUMP PIMPIN AMERIKA
Reaksi Negatif Pasar Hanya Sementara
Kamis, 10 November 2016 | 11:18 WIBEditor: B1
JAKARTA -- Reaksi negatif pasar terhadap kemenangan Donald Trump hanya sementara. Setelah dua-tiga pekan, publik sudah melupakan kontestasi dalam pemilihan presiden Amerika Serikat dan pasar akan melihat kenyataan dengan lebih tenang. Meski diberikan cap protektif dan cauvinis, presiden AS terpilih dari Partai Republik itu akan tetap menjaga kerja sama ekonomi dengan berbagai negara, termasuk Indonesia.
Kemenangan Trump pada pemilihan Presiden AS, Selasa (8/11) waktu setempat atau Rabu (9/11) WIB, umumnya disambut negatif oleh pasar. Bursa saham Eropa dan Asia kemarin memerah. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup turun 56,36 poin atau 1,03% ke level 5.414,32. Demikian pula indeks Nikkei 225 Jepang turun 919,84 poin (5,36%) ke 16.251,54, Hang Seng Hong Kong turun 494,28 poin (2,16%) ke 22.415,19, SSE Composite Tiongkok merosot 19,52 poin (0,62%) ke 3.128,37, dan Straits Times Singapura anjlok 30,36 poin (1,08%) ke 2.789,88. Hal serupa terjadi di Eropa, dengan indeks FTSE Inggris turun 18,08 poin (0,26%) ke 6.825,05 hingga Rabu pukul 10.30 waktu setempat.
Namun, para manajer investasi AS meyakinkan para investor bahwa siapa pun yang menang sama saja. Setelah sekitar dua pekan, semuanya akan berjalan normal. Pasalnya, tak akan ada kebijakan ekstrem atau 'melenceng' yang bisa dilakukan seorang presiden AS. Indeks Dow Jones Industrial Average di bursa AS pun akhirnya berhasil bergerak naik 91,32 poin (0,5%) ke level 18.424,06 pada Rabu pukul 11.17 waktu setempat, setelah satu jam sebelumnya sempat turun 20,99 poin (0,11%) ke 18.311,75.
Analis Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo juga mengatakan, turunnya indeks bursa saham di bursa Eropa dan Asia -- termasuk Indonesia -- itu merupakan reaksi spontan para pelaku pasar yang mengkhawatirkan Trump mengeluarkan kebijakan yang tidak populer, misalnya kebijakan perdagangan yang arahnya hanya mementingkan Amerika saja. Padahal, hal itu tidak benar, karena sesungguhnya sebagai negara Amerika juga butuh mitra negara lainnya, seperti Taiwan dan bahkan Tiongkok.
"Karena ini merupakan reaksi spontan para pelaku pasar, kami perkirakan hanya akan berlangsung jangka pendek, bahkan bisa hanya sepekan. Kami yakin, Trump akan berhati-hati dalam menetapkan kebijakan, lebih ke yang propasar. Amerika kan juga punya kepentingan, mereka tidak akan tinggal diam melihat kondisi bursanya anjlok," katanya kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (9/11) malam.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio mengatakan, sentimen hasil pemilu presiden Amerika Serikat yang dimenangkan Donald Trump memang cenderung berimbas negatif terhadap IHSG, namun hanya dalam jangka pendek. Faktor yang menggerakkan pasar saat ini lebih ke psikologis pelaku pasar.
"Saat ini, faktor psikologis pasar yang sedang bermain. Ini bukan faktor fundamental ekonomi kita. Efek psikologis itu hanya sebentar, apalagi sebenarnya data ekonomi Indonesia cukup bagus," ujar Tito di Jakarta, Rabu (9/11).
Sementara itu, Trump dalam pidato kemenangannya menegaskan, AS tidak akan mencari konflik, tapi kerja sama dengan negara lain. AS akan mencari common ground, mencari solusi-solusi yang kooperatif.
Kunci Kemenangan Trump
Hingga Rabu (9/11) sekitar pukul 10.00 waktu AS, Trump meraih setidaknya 289 suara elektoral dari total 538 electoral vote di 50 negara bagian. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari suara minimal 270 yang dibutuhkan untuk terpilih menjadi presiden AS ke-45. Pengusaha properti ini menggantikan Barack Obama untuk memimpin Amerika mulai Januari tahun depan. Sedangkan rivalnya Hillary Clinton, yang hingga sehari sebelum hari pemilihan diunggulkan, hanya meraup 218 suara elektoral.
Meski memenangi electoral vote, Trump ternyata tidak meraih kemenangan berdasarkan hasil suara populer sementara. Data CNN menunjukkan, dari 91% suara masuk, Trump meraih 58.917.580 atau 47,5% suara. Sedangkan Clinton meraih 59.040.900 atau 47,6%.
Di sisi lain, kemenangan Trump juga diiringi keberhasilan Partai Republik mempertahankan kekuasaan di Kongres AS. Di Senat, data sementara menunjukkan Republik meraih 51 kursi, Partai Demokrat 45 kursi. Demikian pula di Dewan Perwakilan, Republik meraih 240 kursi dan Demokrat 195 kursi.
Sebagaimana dalam pilpres-pilpres terdahulu, kemenangan seorang calon presiden (capres) banyak ditentukan oleh keberhasilan merebut swing states. Negara bagian seperti ini dalam pilpres AS adalah yang tidak ada kandidat atau partai yang mendapat dukungan penuh untuk bisa meraup suara-suara elektoralnya.
Negara bagian ini mendapatkan perhatian besar sepanjang kampanye pilpres, karena memenangi negara bagian ini memberikan peluang terbaik bagi sebuah partai untuk mendapatkan suara elektoralnya. Sedangkan negara-negara bagian non-swing dianggap negara-negara bagian yang 'aman', di mana seorang kandidat mendapatkan dukungan kuat sehingga diasumsikan 'aman' untuk meraih kemenangan di situ.
Konsultan survei terkemuka AS, FiveThirtyEight, mengidentifikasi Colorado, Florida, Iowa, Michigan, Minnesota, Ohio, Nevada, New Hampshire, North Carolina, Pennsylvania, Virginia, dan Wisconsin sebagai swing states. Trump berhasil merebut Florida yang memiliki 29 suara elektoral, Iowa (6), New Hampshire (4), Carolina Utara (15), Ohio (18), Pennsylvania (20), dan Wisconsin (10). Sedangkan Clinton hanya menang di swing states Colorado (9), Nevada (6), dan Virginia (13).
Kunci kemenangan Trump yang lain adalah memperoleh dukungan kuat dari pemilih kelas pekerja dan kulit putih. Ia pun memastikan perolehan di atas 270 suara elektoral dengan merebut Wisconsin.
Memasuki Rabu pagi waktu setempat, Trump berhasil menembus tembok elektoral Clinton di wilayah Rust-Belt dengan memenangi Pennsylvania, yang sejak 1992 di bawah genggaman Demokrat. Sedangkan Wisconsin belum pernah memilih capres Republik, sejak Ronald Reagan menang telak di sana pada 1984.
CNN melaporkan, Trump meraih 63% suara pemilih pria kulit putih dan 53% suara perempuan kulit putih. Sedangkan Clinton meraih 74% suara pemilih nonkulit putih. Trump juga mendapatkan dukungan dari sepertiga pria Latin dan 26% perempuan Latin.
Selain itu, Trump meraih 51% suara pemilih berpendidikan SMA ke bawah dan 43% pemilih berpendidikan tinggi. Clinton meraih 52% suara di pemilih berpendapatan kurang dari US$ 50.000 per tahun, tapi kalah dari Trump di kelompok-kelompok pendapatan lainnya.
Menurut Ketua Umum PPP Rommy yang tengah berada di AS, kunci kemenangan Trump yg mengejutkan adalah di 3 hal eksternal di luar dirinya dan 3 hal internal. "Faktor eksternalnya, pertama, keinginan rakyat AS untuk perubahan setelah 2 term kepresidenan dikuasai Demokrat. Adalah hal yang siklikal dalam politik AS yang rasional di beberapa dekade terakhir, mereka hanya memberikan kesempatan selama 2 term kepada setiap partai politik untuk berkuasa. Kedua, budaya patriarkhal yg masih sangat kuat di AS. Bayangkan, setelah 240 tahun merdeka, baru kali ini lolos seorang nominee presiden perempuan. Ketiga, kewajaran sebuah bangsa ketika dihadapkan pada ketidakpastian di dunia internasional, akan kembali pada dirinya, alias menguatnya proteksionisme," paparnya.
American Dream
Untuk faktor internal, yang pertama, Trump mampu mengartikulasikan true Republican values kepada pemilih, dengan menancapkan tekad "Make America Great Again". Kedua, Trump mampu membangkitkan kebutuhan seorang pemimpin yg menggambarkan "American Dream". Ini merupakan mimpi rakyat Amerika untuk kembali meraih kesejahteraan ekonomi, kebebasan individu, kesempatan yang sama bagi setiap warga untuk menduduki semua jabatan publik, mengembalikan rasa aman bagi setiap warga, dan nilai-nilai moral keluarga sebagai basis negara.
Dia mampu meyakinkan bahwa AS yang besar hanya bisa dipimpin seorang yang terbukti berhasil, apa pun perilaku moral masa lalunya. Ini sekaligus mengonfirmasi bahwa publik AS lebih menghargai honesty (keterusterangan) daripada avoidancy (penghindaran). Hal ini terlepas dari perilaku dan pernyataan Trump, yang dalam exit poll CNN dipersepsikan 'mengganggu' oleh 70% pemilih perempuan. Di sisi lain, publik juga dihadapkan pada dugaan skandal manipulasi email yang dilakukan Hillary yang terus dinyatakannya tak terlibat.
Faktor internal ketiga, Trump mampu meyakinkan publik AS, bahwa proteksionisme, unilateralisme, dan jawaban atas kesalahan preskripsi Obama dalam soal kesehatan adalah jawaban untuk membuat bangsa AS kembali berjaya. Exit poll CNN juga menggambarkan bahwa Trump mampu menundukkan hati publik AS dalam isu terorisme, imigran, dan efek perdagangan internasional. Rakyat AS meyakini, Trump mampu melindungi warga AS atas meningkatnya radikalisme dan membanjirnya imigran dan pengungsi.
Program Ekonomi Trump
Dalam sektor ekonomi, Trump juga diyakini mampu melindungi rakyat AS dari dampak buruk blok perdagangan bebas seperti Trans-Pacific Partnership (TPP). Selain berjanji menarik AS dari TPP, Trump juga akan merenegosiasikan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).
Ia juga bertekad mencabut pembatasan terhadap bahan bakar fosil, meluncurkan lagi proyek jaringan pipa minyak Keystone XL yang ditangguhkan oleh Obama, dan membatalkan pembayaran miliaran dolar AS untuk program perubahan iklim PBB.
Hubungan Trump dengan RI
Indonesia selama ini tak luput dari target ekspansi Donald Trump. Tahun lalu, Trump Hotel Collection, perusahaan milik Donald Trump yang dibentuk pada 2007, menjalin kemitraan strategis dengan Grup MNC untuk mengembangkan hotel bintang enam di Tanah Lot, Bali. Ini merupakan ekspansi pertama Trump di Asia.
Pemilik Trump Hotel Donald J Trump itu telah meneken perjanjian kerja sama dengan CEO MNC Hary Tanoesoedibjo pada Agustus 2015. Trump Hotel dan MNC berambisi menjadikan resor dan kawasan hunian di Tanah Lot, Bali, sebagai salah satu tujuan wisata termegah di Asia. Rencananya, proyek ini akan mulai dikerjakan awal 2016 dan rampung 2018. "Bali telah diakui sebagai salah satu pulau terbaik di dunia. Kami merasa terhormat mengumumkan ekspansi perusahaan ini," ujar Donald Trump Jr.
Selain di Bali, MNC juga mengajak Trump mengembangkan proyek serupa di Lido, Jawa Barat. Proyek yang akan dibangun di atas tanah seluas 2.000 hektare (ha) ini diklaim lebih besar dibanding proyek di Tanah Lot, Bali. Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pengembangan proyek ini cukup fantastis, mencapai Rp 20 triliun.
Di Lido ini akan dibangun taman rekreasi ala Disney Land. Selain itu, kawasan Lido akan dihiasi dengan lapangan golf, hotel, vila, dan fasilitas pendukung lainnya.
Politik LN Trump
Selain bakal mengubah prioritas-prioritas kebijakan AS, kemunculan Trump sebagai presiden ke-45 AS juga secara fundamental bakal mengubah hubungan negaranya dengan seluruh dunia. Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Tantowi Yahya menilai, terpilihnya Donald Trump akan memberi dampak positif untuk Indonesia.
"AS diprediksi memberi peran lebih untuk Indonesia, khususnya dalam penanganan proses damai di Timur Tengah. Prediksi saya, hubungan bilateral kita dan AS banyak mengalami kemajuan," kata Tantowi.
Masalah Ekonomi AS
Sementara itu, ekonomi AS saat ini masih tertekan sejumlah masalah, antara lain membanjirnya produk RRT. Selain itu, negara dengan ekonomi terbesar itu juga tengah terlibat currency war dengan Tiongkok.
Trump mengatakan, Tiongkok adalah manipulator mata uang. Namun, dia belum menyatakan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




