2016, Omzet Industri Games US$ 700 Juta
Jumat, 24 Februari 2017 | 13:12 WIB
Jakarta - Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memperkirakan, total nilai transaksi (omzet) industri games di Indonesia mencapai US$ 600-700 juta, atau berkisar Rp 8-9,34 triliun pada 2016. Nilai tersebut terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dibandingkan tahun 2014 masih sekitar US$ 181 juta dan US$ 321 juta pada 2015. Kehadiran para developer dengan mengangkat tema-tema kearifan lokal dalam memproduksi games ikut meramaikan jagat industri ini.
Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari mengatakan, games dan aplikasi merupakan salah satu item yang berhasil memberikan kontribusi sebesar 1% terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif yang mencapai Rp 700 triliun pada 2015. Jumlah tersebut masih kecil dibandingkan dengan item lainnya, yaitu fesyen dan kuliner. Meski demikian, pertumbuhan industri games dan aplikasi lebih tinggi dibandingkan item fesyen dan kuliner, mencapai 7-8% setiap tahun sejak 2013.
"Kami memperkirakan market size games pada 2016 sekitar US$ 600-US$ 700 juta pada 2016. Itu belum final yah, karena kami masih dalam proses penghitungan," ujar Hari, dalam acara konferensi pers Indonesia Games Championship yang digelar Telkomsel di Jakarta, Kamis (23/2).
Menurut dia, potensi industri games di Indonesia itu sangat cerah. Para developer lokal pun diharapkan mau membuat games dengan selalu mengangkat kearifan lokal, karena di situ ada nilai edukasi bagi para penggunanya. Harapannya, para pemain games lokal yang didominasi generasi muda bisa memperoleh inspirasi dan kemampuan inovasi dari apa yang dimainkannya.
Karena itu, para developer selalu diingatkan agar membuat games dengan konten dari kearifan lokal. Misalnya, ada yang membuat game pocong, tahu bulat, dan Pangeran Diponegoro. "Tahu gak, game tahu bulat misalnya, sudah di-download mencapai 3 juta, game mari belajar (marbel) sudah di-download 20 juta. Jadi, tugas kita tidak hanya membangun dari sisi suplai, tetapi juga dari sisi demand-nya. Karena, sekarang, ada perubahan di mindset konsumen terhadap games," tutur Hari.
Hari menyampaikan, pada 2015, nilai PDB ekonomi kreatif telah mencapai Rp 700 triliun. Dari jumlah tersebut, pada 2019, kontribusi dari aplikasi dan games berkontribusi terhadap PDB bisa meningkat jadi 5% dari tahun lalu masih sekitar 1%.
Pada 2017, Bekraf menargetkan kontribusinya naik jadi dua kali lipat menjadi 2%, sehingga bisa mencapai 5% tahun 2019. "Ini jangan didiamkan. Karena menurut para analis, kalau didiamkan, kontribusinya malah turun. Karena itu, kita akan terus memfasilitasi para developer sambil bekerja sama dengan para provider telekomunikasi. Misalnya, kami sediakan ruangan untuk para developer mupun akses internetnya," ujar Hari.
Dia menuturkan, saat ini, jumlah developer aplikasi maupun games yang sudah tergabung melalui asosiasi dan juga terdaftar di Bekraf sebanyak 42 ribu. Pada umumnya, mereka yang terdaftar adalah para developer yang mampu menghasilkan karya-karya yang disukai oleh konsumen. Namun, para developer juga harus memperhatikan tata kelola perusahaan, atau start-up yang dibangun, sehingga bisa terus bertahan dan berkembang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




