MUI Dukung Kebijakan Lima Hari Sekolah
Rabu, 14 Juni 2017 | 19:18 WIB
Jakarta - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin mengatakan kebijakan sekolah lima hari dalam sepekan dengan delapan jam per hari ini mendapat dukungan dari MUI karena program tersebut dirancang untuk penguatan pendidikan karakter anak.
Ma’ruf Amin menuturkan, MUI memahami maksud dari kebijakan yang telah ditetapkan dalam Permendikbud nomor 23Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Namun, harus dilakukan secara bertahap dan dilakukan secara opsional.
"Hal yang kami tangkap ada beberapa kebijakan. Ini akan dilakukan secara bertahap dan akan dilakukan secara opsional," kata Ma’ruf setelah melakukan dialog tertutup dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy di Gedung MUI, Jalan Proklamasi, Jakarta, Rabu, (14/6).
Ma’ruf meminta kebijakan ini dilakukan secara opsional dan bertahap, karena usulan tersebut belum ada dalam Permendikbud Hari Sekolah. Namun secara keseluruhan, MUI mendukung kebijakan tersebut karena dianggap sangat tepat dan sesui dengan keinginan MUI dan masyarakat dalam rangka penguatan karakter.
Bahkan pihak MUI akan merumuskan secara tertulis bentuk dukungannya.
Terkait dengan pendidikan agama, Ma’ruf mengatakan pendidikan agama akan didapatkan siswa dari dalam dan luar sekolah. Ia mengaku, berdasarkan penjelasan akan manfaatnya. pusat–pusat sumber belajar seperti Madrasah Diniyah yang akan diintegrasikan merupakan hal bagus dan akan didukung.
Muhadjir mengatakan pihaknya berdialog dengan MUI untuk berkonsultasi dan meminta saran terkait rencana desiminasi program penguatan karakter yang dimulai pada tahun pelajaran 2017/2018.
"Saya hanya akan menggarisbawahi apa yang disebutkan bapak ketua MUI bahwa kami hadir untuk berkonsultasi termasuk meminta saran terkait dengan recana desiminasi program penguatan karakter," terangnya.
Ia juga menuturkan, banyak saran dan kritik dari MUI. Salah satunya terkait dengan kurang lancarnya proses sosialisasi sehingga timbul kesalahpahaman di beberapa pihak. Muhadjir juga berharap MUI dapat menjadi penengah untuk meredakan kesalahpahaman tersebut.
"Mudah- mudahan dengan kehadiran kami kepada Pak Kyai (Ma’ruf Amin) dan jajaran MUI bisa akan redakan dan bisa jelaskan masalah yang terkait dengan Permendikbud, terutama tentang sekolah lima hari dan juga penguatan pendidikan karakter," ujarnya.
Muhadjir juga menyebutkan program pemerintah tentang Hari Sekolah berbeda dengan Full Day School. Pasalnya branding FDS ditunjukkan untuk sekolah tertentu, serta sistemnya berbeda dengan program Kemdikbud.
Ia menjelaskan, program Hari Sekolah ini adalah bersifat kokurikuler dan ekstrakurikuler yang menjadi penunjang dan pelengkap untuk penyempurnaan dari intrakurikuler. Dalam hal ini, selain mengunakan sarana dan prasarana dalam lingkungan sekolah, juga dapat memanfaatkan sumber belajar di luar lingkungan sekolah.
"Tadi Pak Kyai sebut opsional, jadi kalau memang daerah itu sangat menonjol ciri khas kegiatan Madrasah Diniyah, ya nanti penguatan karakternya ditekankan ciri khas daerah itu pada karakter keagamaan. Tapi, di tempat lain yang kesenian lebih kuat maka daerah itu akan menonjol pada pembentukan karakter penguatan kesenian," ucapnya.
Mantan rektor Universitas Muhammadyah Malang (UMM) itu juga mengatakan, Hari Sekolah ini bukan menjadi suatu keharusan. Ada beberapa pilihan yang harus dilakukan sekolah. Selain itu, ia juga menegaskan, delapan jam sekolah jangan dibayangkan diisi dengan belajar dalam kelas, tetapi diisi dengan penguatan karakter dengan memanfaatkan dan mengoptimalkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




