Perlakuan Myanmar terhadap Rohingya Menuai Kecaman dan Ancaman
Minggu, 3 September 2017 | 17:36 WIB
Myanmar - Lebih dari 2.600 rumah di sekitar Rakhine di Myanmar dibakar dalam sepekan terakhir. Pemerintah menuduh kelompok militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) sebagai pelakunya, tetapi organisasi kemanusiaan Human Rights Watch mengatakan bahwa justru militer Myanmarlah pelakunya.
"Gambar satelit menunjukkan penghancuran total sebuah desa Muslim dan ini menimbulkan kekhawatiran yang lebih serius akan kehancuran yang lebih luas daripada yang kita duga sebelumnya," kata Phil Robertson Direktur Asia dari HRW.
Menurut organisasi pengungsi PBB UNHCR, sekitar 58.600 warga Rohingya mengungsi ke Bangladesh di mana mereka hidup di kemah-kemah pengungsi dalam kondisi serba kekurangan. World Food Programme juga menghentikan sementara pengiriman bantuan makanan ke Rakhine, negara bagian tempat mayoritas Rohingya bermukim, karena situasi keamanan yang semakin tidak jelas.
Dalam pelarian, lebih dari 50 Rohingya -mayoritas anak-anak dan perempuan- tewas tenggelam ketika perahu yang mereka tumpangi terbalik di Sungai Naf, Rabu lalu. Jumlah korban tewas bisa terus bertambah karena tidak diketahui berapa orang yang menyeberang Sungai Naf dalam perahu-perahu tersebut. Jika mereka memutusan untuk tinggal, mereka menjadi sasaran persekusi militer dan mayoritas penduduk Myanmar.
Penindasan yang dilakukan pemerintah dan penduduk mayoritas Myanmar menuai kecaman internasional, bahkan ancaman pembunuhan dari kelompok Alqaeda.
Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson meminta pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan terhadap Rohingya.
"Aung San Suu Kyi adalah salah satu figur inspiratif di era kita tetapi perlakuan Myanmar terhadap Rohingya mencoreng reputasinya," kata Johnson.
Suu Kyi adalah pemenang nobel perdamaian namun tuntutan mencabut penghargaan nobel semakin menguat tiap harinya.
Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap laporan persekusi yang dilakukan Myanmar terhadap Rohingya di Rakhine. Guterres mengatakan bahwa pemerintah bertanggung jawab menyediakan keamanan dan memastikan bantuan kemanusiaan sampai ke yang membutuhkan.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bahkan menyebut penindasan terhadap Rohingya adalah genosida.
"Barang siapa yang menutup mata terhadap genosida di bawah penutup demokrasi ini adalah bagian dari kolaborator (genosida)," kata Erdogan.
Alqaeda Yaman mencoba membuat suasana semakin panas dengan menyerukan serangan terhadap otoritas Myanmar sebagai bentuk aksi balasan atas Rohingya. Pimpinan Alqaeda Yaman, Khaled Batarfi, menyerukan Muslim di Bangladesh, India, Indonesia, dan Malaysia untuk melakukan "jihad".
Dini hari tadi Kedubes Myanmar dilempar molotov oleh orang tak dikenal. Hingga saat ini polisi masih mencari pelaku.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




