Hadapi Generasi Milenial, Masa Depan PR Semakin Menantang

Kamis, 30 November 2017 | 20:54 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Seminar Nasional Komunikasi dan Entrepreneurship: Transformasi Paradigma Public Relations di Era Digital
Seminar Nasional Komunikasi dan Entrepreneurship: Transformasi Paradigma Public Relations di Era Digital" di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Tarumanagara, Jakarta, Rabu (29/11). (Istimewa)

Jakarta - Generasi milenial yang setiap harinya berinteraksi lewat media sosial (Medsos) menjadi tantangan tersendiri bagi praktisi public relations (PR). Generasi kelahiran tahun 1980-an hingga akhir tahun 1999 ini, dinilai lebih kritis dan terbuka dalam mengungkapkan pendapat.

"Dahulu kalau jalan tol BSD banjir, kami langsung telepon wartawan atau media untuk menyampaikan informasi. Sekarang, masyarakat sebagai pengguna jalan tol bisa menciptakan pesan, mereka memotret, mengunggah foto di medsos, kemudian opini berkembang," kata General Manager Corporate Affairs PT Nusantara Infrastructure Tbk, Deden Rochmawaty, dalam Seminar Nasional Komunikasi dan Entrepreneurship: "Transformasi Paradigma Public Relations di Era Digital" di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta, Rabu (29/11).

Menurut Deden, sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan infrastruktur di Indonesia, khalayak PR yang berkaitan langsung dengan PT Nusantara Infrastructure cenderung menggunakan media konvensional seperti media cetak dan televisi. Namun, kata dia, komunikasi interaktif dengan generasi milenial atau stakeholder yang membutuhkan kecepatan informasi dilakukan dalam ranah dunia maya.

"Kami memanfaatkan medsos karena sekarang lebih individualize marketing, terhubung dengan siapa yang kami ajak bicara, baik itu anak muda, orang tua, wanita, dan pria," tambahnya.

Praktisi PR yang juga penulis buku Viral dan PR Profesional, Junita Kartikasari, mengatakan, pelaku PR profesional harus mulai mengikuti pola konsumsi media generasi milenial.

"PR tidak bisa lagi memaksa konsumen untuk mendengar karena they listen what they want to know. Berapa kali Anda mengecek Facebook dan Instagram di-smartphone? Bandingkan berapa kali Anda nonton televisi dan baca koran? The consumer is changing, kita juga harus berubah, kalau tidak kita akan punah," kata wanita yang berpengalaman menjadi PR di sejumlah perusahaan multinasional ini.

Menurut Junita, hal itulah yang kemudian dilakukan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan medsos Facebook, Instagram, dan video blog (vlog) di kanal Youtube. Presiden sendiri, lanjutnya, belajar untuk aktif di medsos dari putranya, Kaesang Pangarep, yang dikenal sebagai Youtuber.

"Lewat medsos, Presiden Jokowi ingin menampilkan kehidupannya secara otentik. Generasi milenial mampu melihat gaya unggahan yang konsisten dan apa adanya di medsos," kata Junita.

Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi yang juga PR Universitas Tarumanagara, Yugih Setyanto, menambahkan, guna menghadapi persaingan dan merespon mitra pendidikan tinggi, maka media konvensional dan medsos saat ini mutlak digunakan. Seringkali, kata dia, mahasiswa menanyakan sesuatu lewat medsos.

"Ada yang menanyakan kuliah libur atau tidak lewat Instagram, ya harus kami respon," kata Yugih yang juga pernah menjadi PR di perusahaan BUMN ini.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon