Jumhur: Pemuda tidak Ada Alasan Pesimistik
Kamis, 24 Mei 2012 | 09:05 WIB
Pemuda harus mengubah kondisi budaya yang kian memberi cita rasa asing.
Aktivis mahasiswa ITB era 1980-an Moh Jumhur Hidayat menyatakan, pemuda tidak ada alasan pesimistik dan bermuram durja menghadapi situasi kekinian.
Saat berbicara pada Seminar Nasional Kepemudaan di Bandung, tadi malam, mengajak elemen muda segera bangkit mengangkat harkat hidup rakyat demi kepentingan nasional yang lebih baik di masa depan.
"Panggilan kebangkitan itu tidak boleh ditawar-tawar lagi oleh kaum muda, mengingat keberadaan rakyat yang kini memerlukan kemartabatan di tanah air sekaligus dalam percaturan dengan bangsa lain," katanya.
Pada seminar bertema "Peningkatan Peran Pemuda dalam Pembangunan Nasional Menuju ASEAN Community 2015", Jumhur mengatakan, untuk mendudukkan perannya di tengah kehidupan bangsa atau guna menata kebangkitannya di tingkat nasional, pemuda memiliki tugas.
Tugas itu, antara lain, mencermati pengaruh globalisasi dan bergegas keluar dari jebakan di dalamnya yang sekadar menjadikan Indonesia sebagai bangsa konsumen, penyedia buruh murah, maupun hanya pengolah ketersediaan sumber daya alam bagi pihak asing.
Kemudian, mensyukuri limpahan kesuburan tanah air dengan terus mengembangkan potensi pertanian dan kelautan untuk masa depan rakyat, yang sejauh ini sering tidak disadari kekuatannya sehingga membuat Indonesia rentan bila terjadi goncangan pangan dunia.
"Lalu, bertekad menjadikan bangsa keluar dari cekikan hutang agar tidak selalu menggantungkan hidup pada bangsa lain, karena memang sangat mampu mencari pembiayaan pembangunan dari sumber lain seperti pajak dan pendapatan dari berbagai kekayaan negara," kata Jumhur.
Selanjutnya, katanya, pemuda juga bertugas mengubah kondisi budaya bangsa yang kini semakin memberi cita rasa asing dan menggerus kebudayaan luhur yang ada di tanah air, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah berkembang dari abad ke abad.
Pemuda juga bertugas, membangun moralitas dan agenda politik kaum muda di lingkungan nasional yang sehat, produktif, serta memberi keteladanan sikap jujur utamanya dengan menjalankan pemaknaan atau praktik politik yang menjauhi unsur politik uang (money politics).
"Sedangkan terakhir, keperluan membangun agenda orang muda ke depan tidak perlu dengan mendikotomikan dengan kaum tua, meski pendikotomikan bisa dilakukan antara mereka yang pro dan antirakyat, termasuk apakah juga mengutamakan nasionalisme atau justru menjadi penghamba kekuatan asing," katanya.
Jumhur mengharapkan, peran dan tantangan bagi kalangan muda dalam menciptakan bangsa yang kuat memang tidak ringan tetapi jika berpadu dengan berbagai unsur serta menggunakan semangat yang besar maka segala cita-cita berbangsa akan mudah dicapai.
"Karena itu, jadilah pemuda Indonesia yang selalu dirindukan rakyat, tidak pesimis melihat masa depan, dan selamanya berjuang dalam memberi kemajuan untuk rakyat dan negara," katanya.
Aktivis mahasiswa ITB era 1980-an Moh Jumhur Hidayat menyatakan, pemuda tidak ada alasan pesimistik dan bermuram durja menghadapi situasi kekinian.
Saat berbicara pada Seminar Nasional Kepemudaan di Bandung, tadi malam, mengajak elemen muda segera bangkit mengangkat harkat hidup rakyat demi kepentingan nasional yang lebih baik di masa depan.
"Panggilan kebangkitan itu tidak boleh ditawar-tawar lagi oleh kaum muda, mengingat keberadaan rakyat yang kini memerlukan kemartabatan di tanah air sekaligus dalam percaturan dengan bangsa lain," katanya.
Pada seminar bertema "Peningkatan Peran Pemuda dalam Pembangunan Nasional Menuju ASEAN Community 2015", Jumhur mengatakan, untuk mendudukkan perannya di tengah kehidupan bangsa atau guna menata kebangkitannya di tingkat nasional, pemuda memiliki tugas.
Tugas itu, antara lain, mencermati pengaruh globalisasi dan bergegas keluar dari jebakan di dalamnya yang sekadar menjadikan Indonesia sebagai bangsa konsumen, penyedia buruh murah, maupun hanya pengolah ketersediaan sumber daya alam bagi pihak asing.
Kemudian, mensyukuri limpahan kesuburan tanah air dengan terus mengembangkan potensi pertanian dan kelautan untuk masa depan rakyat, yang sejauh ini sering tidak disadari kekuatannya sehingga membuat Indonesia rentan bila terjadi goncangan pangan dunia.
"Lalu, bertekad menjadikan bangsa keluar dari cekikan hutang agar tidak selalu menggantungkan hidup pada bangsa lain, karena memang sangat mampu mencari pembiayaan pembangunan dari sumber lain seperti pajak dan pendapatan dari berbagai kekayaan negara," kata Jumhur.
Selanjutnya, katanya, pemuda juga bertugas mengubah kondisi budaya bangsa yang kini semakin memberi cita rasa asing dan menggerus kebudayaan luhur yang ada di tanah air, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah berkembang dari abad ke abad.
Pemuda juga bertugas, membangun moralitas dan agenda politik kaum muda di lingkungan nasional yang sehat, produktif, serta memberi keteladanan sikap jujur utamanya dengan menjalankan pemaknaan atau praktik politik yang menjauhi unsur politik uang (money politics).
"Sedangkan terakhir, keperluan membangun agenda orang muda ke depan tidak perlu dengan mendikotomikan dengan kaum tua, meski pendikotomikan bisa dilakukan antara mereka yang pro dan antirakyat, termasuk apakah juga mengutamakan nasionalisme atau justru menjadi penghamba kekuatan asing," katanya.
Jumhur mengharapkan, peran dan tantangan bagi kalangan muda dalam menciptakan bangsa yang kuat memang tidak ringan tetapi jika berpadu dengan berbagai unsur serta menggunakan semangat yang besar maka segala cita-cita berbangsa akan mudah dicapai.
"Karena itu, jadilah pemuda Indonesia yang selalu dirindukan rakyat, tidak pesimis melihat masa depan, dan selamanya berjuang dalam memberi kemajuan untuk rakyat dan negara," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




