Saudi Utus Menlu Jubeir Redam Kasus Khashoggi
Selasa, 23 Oktober 2018 | 09:11 WIB
Riyadh- Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menjadi "pemadam kebakaran" bagi Saudi dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) yang dikecam internasional atas kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.
Setelah Saudi bungkam selama hampir tiga minggu, pada Senin (22/10), Jubier mendadak muncul di jaringan televisi Fox News secara eksklusif.
"Orang-orang yang melakukan hal ini di luar lingkup wewenang mereka," kata Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir kepada Bret Baierhe dari Fox News saat wawancara eksklusif.
Jubeir menambahkan, tidak satu pun dari orang-orang yang terlibat dalam kematian Khashoggi memiliki hubungan dekat dengan Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman (MBS).
"Tidak ada orang yang terkait erat dengannya. Ini adalah operasi yang merupakan operasi liar," katanya seolah berusaha keras membersihkan citra MBS.
Pada Senin (22/10), Jubeir juga berkunjung ke Istana Kepresidenan Bogor, untuk menemui Presiden Joko Widodo. Menurut Menlu Retno Marsudi, Jubier juga telah berusaha menjelaskan kematian Khashoggi kepada pemerintah Indonesia sebelum kunjungan ini.
Saudi telah mengumumkan berbagai versi berbeda dari keadaan yang menyebabkan kematian Khashoggi. Kolumnis Washington Post dan seorang kritikus dari Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) itu tidak terlihat lagi setelah memasuki konsulat di Istanbul.
Al-Jubeir adalah pejabat senior Saudi pertama yang berbicara resmi sejak Saudi mengakui pada Sabtu (20/10). Pernyataan Jubeir ini muncul setelah lebih dari dua minggu penyangkalan, bahwa Khashoggi terbunuh di dalam konsulatnya di kota Turki.
Penjelasan itu menandai perubahan tajam bagi kerajaan Saudi yang selalu mengumumkan info bahwa Khashoggi meninggalkan konsulat tak lama setelah dia masuk. Pernyataan ini juga bertentangan dengan informasi yang bocor dari sumber anonim keamanan Turki bahwa Khashoggi disiksa, dibunuh dan dipotong-potong di dalam gedung konsulat.
Pengakuan Saudi, yang datang di tengah meningkatnya tekanan terhadap Riyadh, seolah muncul untuk mengurangi tuntutan akuntabilitas dari kalangan internasional.
Turki menyatakan tidak akan mengizinkan "menutup-nutupi". Sementara para pemimpin Eropa menyatakan bahwa hipotesis yang diajukan sejauh ini dalam penyelidikan Saudi perlu didukung oleh fakta agar bisa dianggap kredibel.[Reuters/Al Jazeera/ BBC/U-5]
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




