Waspadai Gejala Diabetes Pada Anak

Rabu, 31 Oktober 2018 | 20:33 WIB
IH
FH
Penulis: Indah Handayani | Editor: FER
Germas menggelar kegiatan diskusi dan media briefing
Germas menggelar kegiatan diskusi dan media briefing "Anak Juga Bisa Diabetes" di Jakarta, Rabu (31/10). (Beritasatu Photo/Indah Handayani)

Jakarta - Penyakit Diabetes Melitus (DM) dianggap sebagai penyakit orang dewasa. Namun, DM juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja, khususnya DM tipe-1.

Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, angka kejadian DM pada anak usia 0 hingga 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700 persen selama jangka waktu 10 tahun. Jumlah kasus baru DM tipe-1 dan tipe-2 berbeda antar populasi dengan distribusi usia dan etnik yang bervariasi. Sejak September 2009 hingga September 2018 terdapat 1.213 kasus DM tipe-1, paling banyak didapatkan di kota-kota besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), DR dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K) mengatakan, gejala-gejala yang perlu diwaspadai jika anak menderita DM adalah banyak makan. Anak dengan DM akan merasakan lapar terus-menerus meski baru selesai makan. Rasa lapar ini didorong oleh jumlah insulin yang tidak memadai sehingga gula tidak dapat diolah menjadi energi. Selain itu, banyak minum.

"Anak akan merasa haus terus-menerus karena ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin sehingga tubuh mengalami dehidrasi," ungkapnya di Jakarta, Rabu (31/10).

Dr Aman menambahkan rasa haus yang menyebabkan anak selalu minum tidak diimbangi dengan kemampuan tubuh untuk menyerap cairan dengan baik. Anak dengan DM akan lebih sering buang air kecil dari pada frekuensi normal, terutama di malam hari. Meski anak sering minta makan, tetapi tubuhnya tidak bertambah gemuk, melainkan cenderung kehilangan berat badan dalam jumlah yang cukup signifikan.

"Hal ini diakibatkan oleh ketidakmampuan tubuh dalam menyerap gula darah dalam tubuh sehingga menyebabkan jaringan otot dan lemak menyusut. Serta, kelelahan dan mudah marah. Tubuh anak yang tidak mampu menyerap gula dari makanan membuatnya kekurangan energi sehingga mudah merasa lelah," paparnya.

Menurut dr Aman, DM tipe-1 tidak dapat dicegah dan siapapun dapat mengalaminya. Di Indonesia, DM tipe-1 pertama kali didiagnosis paling banyak pada kelompok usia 10-14 tahun dengan 403 kasus, kemudian kelompok usia 5-9 tahun dengan 275 kasus, kelompok usia kurang dari 5 tahun dengan 146 kasus, dan paling sedikit adalah usia di atas 15 tahun dengan 25 kasus.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemkes), dr Cut Putri Arianie MHKes menjelaskan, diabetes merupakan penyakit tidak menular yang tidak dapat disembuhkan. Namun, dengan kontrol metabolik yang baik, anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya.

"Kontrol metabolik yang dimaksud adalah mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak malah menjadi kekurangan glukosa dalam darah," jelasnya.

Untuk pengelolaannya, dapat dilakukan antara lain dengan cara pemberian tata laksana yang sesuai baik insulin maupun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, dan edukasi, serta pemantauan gula darah secara mandiri (home monitoring).

"Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal ini dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau dokter anak, ahli gizi, ahli psikiatri, psikologi anak, pekerja sosial, dan edukator," tutupnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon