Perlu Studi Komprehensif Soal Tumpahan Minyak Laut Timor
Rabu, 25 Juli 2012 | 22:04 WIB
Akibat tumpahan minyak, terlihat bahwa produksi ikan dan rumput laut ikut menurun.
Menjelang tiga tahun tumpahnya minyak dari sumur Montara yang dioperasikan Perusahaan PTTEP Australasia milik Thailand, maka perlu dilakukan kembali studi komprehensif untuk mengetahui dampak-dampak terhadap perairan Indonesia.
"Harus ada studi komprehensif untuk impact-impact dari tumpahan minyak ini dan harus cepat diselesaikan oleh tiga pihak, yaitu pemerintah Indonesia, Australia, dan pihak perusahaan," kata Mukhtasor, profesor bidang pencemaran laut, dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), pada seminar Bencana Polusi Minyak di Laut Timor, di Jakarta, Rabu (24/7).
Dalam studi yang dilakukan Mukhtasor bersama dua rekannya, Mauludiyah, peneliti dari Indonesian Center for Energy and Environmental Studies, dan Dwi Endah Kusrini dari ITS, diperlihatkan dampak-dampak yang dialami oleh masyarakat di perairan Laut Timor sejak terjadinya tumpahan tersebut.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 mendasarkan pada data sekunder dari perikanan, kunjungan lapangan, kuesioner, serta pelajaran dari kasus tumpahan minyak di negara lain.
"Pada tahun 2009 hingga 2010, terliha bahwa produksi ikan menurun, untuk kakap merah, cumi-cumi, lobster," katanya menambahkan penurunan mencapai 10 hingga 44 persen.
Dampak juga sangat terasa bagi petani rumput laut, lanjutnya, yang jumlahnya meningkat sebelum tahun 2009.
"Jumlah petani meningkat karena mereka sedang giat kembangkan rumput laut, tapi tidak dibarengi dengan jummlah tangkapan," ujarnya.
Studi menunjukkan ada penurunan produksi rumput laut sebesar 23 persen di tahun 2009. Setahun sesudahnya, produksi menurun drastis hingga 72 persen pada kabupaten Rote Ndao.
"Untuk frekuensi panen, sebelum tumpahan, bisa dapat 1.360 kg per panen. Sejak kejadian, hanya 400 kg per panen atau 71 persen penurunan," jelasnya. "Untuk volume tangkapan ikan, dari 1,92 ton per trip, atau Rp 17,24 juta. Tetapi, setelah 2009, maka hanya 0,53 ton per trip atau Rp 3,93 juta. Itu enam kali penurunan. Data ini juga konsisten dengan data dari pelabuhan," kata
Perlu ada penelitian terhadap kesehatan masyarakat yang mulai terkena penyakit kulit.
"Kita belum tahu disebabkan oleh apa, apakah terkait dengan minyak atau tidak, makanya perlu studi lebih lanjut," kata Mukhtasor.
Menjelang tiga tahun tumpahnya minyak dari sumur Montara yang dioperasikan Perusahaan PTTEP Australasia milik Thailand, maka perlu dilakukan kembali studi komprehensif untuk mengetahui dampak-dampak terhadap perairan Indonesia.
"Harus ada studi komprehensif untuk impact-impact dari tumpahan minyak ini dan harus cepat diselesaikan oleh tiga pihak, yaitu pemerintah Indonesia, Australia, dan pihak perusahaan," kata Mukhtasor, profesor bidang pencemaran laut, dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), pada seminar Bencana Polusi Minyak di Laut Timor, di Jakarta, Rabu (24/7).
Dalam studi yang dilakukan Mukhtasor bersama dua rekannya, Mauludiyah, peneliti dari Indonesian Center for Energy and Environmental Studies, dan Dwi Endah Kusrini dari ITS, diperlihatkan dampak-dampak yang dialami oleh masyarakat di perairan Laut Timor sejak terjadinya tumpahan tersebut.
Penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 mendasarkan pada data sekunder dari perikanan, kunjungan lapangan, kuesioner, serta pelajaran dari kasus tumpahan minyak di negara lain.
"Pada tahun 2009 hingga 2010, terliha bahwa produksi ikan menurun, untuk kakap merah, cumi-cumi, lobster," katanya menambahkan penurunan mencapai 10 hingga 44 persen.
Dampak juga sangat terasa bagi petani rumput laut, lanjutnya, yang jumlahnya meningkat sebelum tahun 2009.
"Jumlah petani meningkat karena mereka sedang giat kembangkan rumput laut, tapi tidak dibarengi dengan jummlah tangkapan," ujarnya.
Studi menunjukkan ada penurunan produksi rumput laut sebesar 23 persen di tahun 2009. Setahun sesudahnya, produksi menurun drastis hingga 72 persen pada kabupaten Rote Ndao.
"Untuk frekuensi panen, sebelum tumpahan, bisa dapat 1.360 kg per panen. Sejak kejadian, hanya 400 kg per panen atau 71 persen penurunan," jelasnya. "Untuk volume tangkapan ikan, dari 1,92 ton per trip, atau Rp 17,24 juta. Tetapi, setelah 2009, maka hanya 0,53 ton per trip atau Rp 3,93 juta. Itu enam kali penurunan. Data ini juga konsisten dengan data dari pelabuhan," kata
Perlu ada penelitian terhadap kesehatan masyarakat yang mulai terkena penyakit kulit.
"Kita belum tahu disebabkan oleh apa, apakah terkait dengan minyak atau tidak, makanya perlu studi lebih lanjut," kata Mukhtasor.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




