Status Gunung Sangeangapi NTB Jadi Siaga

Senin, 15 Oktober 2012 | 14:07 WIB
AN
B
Penulis: Antara/ Ratna Nuraini | Editor: B1
Ilustrasi Gunung Meletus
Ilustrasi Gunung Meletus (Wikipedia)
Aktivitas Gunung Sangeangapi Bima hingga kini masih tinggi.
   

Gunung Sangeangapi di Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Provinsi NTB bertatus siaga atau level III sejak ditingkatkan dari waspada pada 10 Oktober 2012 pukul 12.00 WITA.

Kepala Sub Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi Wilayah Timur, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Jawa Barat, Kristiono, yang dihubungi dari Mataram, hari ini, mengatakan bahwa aktivitas Gunung Sangeangapi Bima hingga kini masih tinggi disertai dengan kegempaan.

"Hingga kini aktivitas Gunung Sangeangapi (ketinggian 1.909 di atas permukaan laut) di Kecamatan Wera masih diwarnai kegempaan cukup tinggi, karena itu gunungapi tersebut masih tetap berstatus siaga atau level III. Kami mengimbau masyararakat di sekitar gunungapi tersebut tetap waspada," ujarnya.

Menurut hasil pemantauan secara visual dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sangeangapi di Sangeang, Bima selama Oktober 2012 pada umumnya gunung tersebt sering tertutup kabut di bagian puncaknya dan pada saat tampak jelas, terlihat adanya asap setinggi 10-20 meter dengan tekanan lemah.

Namun, katanya, baik pada kubah lava maupun daerah di sekelilingnya tidak menunjukan perubahan dibanding dengan kondisi awal 2012. Aktivitas vulkanik juga tidak terlihat di daerah puncak dan sekitarnya.

Sementara jumlah gempa Gunung Sangeangapi selama periode Oktober 2012 masih cukup tinggi. Dalam satu hari rata-rata terekam 55 kejadian Gempa Vulkanik Dalam (VA), 8 kejadian Gempa Vulkanik Dangkal (VB), 49 kejadian Gempa Hembusan, 5 kejadian Gempa Tektonik Lokal, dan empat kejadian Gempa Tektonik Jauh.

"Dari jumlah tersebut masih berada di ata batas normal untuk Gunungapi Sangeangapi yaitu 3-4 kejadian per hari untuk gempa-gempa vulkanik dangkal," ujarnya.

Menurut dia, peningkatan jumlah dan besaran gempa dimulai pada 5 Oktober 2012 dengan terekamnya gempa Vulkanik dalam (VA) sebanyak 105 kejadian, gempa Vulkanik dangkal 10 kejadian, gempa Hembusan sebanyak 39 kejadian.

Kemuduain pada 6 hingga 8 Oktober 2012, gempa yang terekam sempat menurun dan kembali meningkat tajam pada 9 Oktober 2012 dengan terekamnya gempa Vulkanik dalam (VA) sebanyak 128 kejadian, gempa Vulkanik dangkal 44 kejadian, gempa Hembusan sebanyak 64 kejadian.

Kristiono mengatakan, peningkatan aktivitas Gunung Sangeangapi teramati dengan meningkatnya aktivitas kegempaan, terutama Gempa Vulkanik Dangkal (VB) sebanyak 44 kali kejadian, Vulkanik Dalam (VA) sebanyak 128 kali kejadian.

Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA) mulai meningkat pada 5 Oktober 2012 dan cenderung meningkat hingga kini. Analisis kandungan frekuensi gempa yang dilakukan pada gempa-gempa yang terekam di Gunungapi Sangeangapi menunjukkan nilai frekuensi dominan sebesar 8-10 Hz untuk Gempa-gempa Vulkanik.

Di samping itu 7-9 Hz untuk Gempa-gempa Tektonik, dan 7-9 Hz untuk Gempa-gempa yang sebelumnya diidentifikasi sebagai Hembusan. Pemantauan secara visual hingga awal Oktober 2012, kondisi di sekitar puncak G. Sangeangapi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

Dalam kaitan itu potensi bencana yang akan terjadi menurut catatan sejarah aktivitas letusan Gunungapi Sangeangapi umumnya bersifat eksplosif dengan pusat kegiatan di puncak. Namun terkadang muncul aliran lava, awan panas, dan pertumbuhan kubah lava.

Pada saat ini Gunungapi Sangeangapi memiliki kubah lava yang menambah potensi bencana bila terjadi letusan yang menghancurkan kubah lava tersebut dan menimbulkan aliran awan panas dan jatuhan piroklastik.

Karena itu, berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental aktivitas vulkanik, Gunungapi Sangeangapi dinaikkan dari waspada (level II) menjadi Siaga (level III) "Jika terjadi perubahan aktivitas vulkanik Gunungapi Sangeangapi secara signifikan, maka tingkat kegiatannya dapat diturunkan/dinaikkan sesuai dengan tingkat kegiatan dan ancamannya," ujarnya.

Pemantauan secara intensif terus dilakukan guna mengevaluasi kegiatan Gunungapi Sangeangpi, serta pemahaman terhadap aktivitas gunungapi tersebut harus tetap dilakukan secara intensif melalui kegiatan sosialisasi tentang ancaman bahaya letusan Gunung Sangeangapi.

"Sehubungan dengan status sisga Gunung Sangeangapi, maka kami merekomendasikan masyarakat di sekitar Guung Sangeangapi dan pengunjung/wisatawan tidak diperbolehkan mendaki dan mendekati kawah yang ada di puncak Gunung Sangeangapi dalam radius lima kilometer," ujarnya.

Dia mengatakan, masyarakat di sekitar Gunung Sangeangapi diharap tenang dan tetap waspada, tidak terpancing isu-isu tentang letusan Gunung Sangeangapi.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam hal ini Badan Daerah Penanggulangan Bencana Daerah (BDPB)) dan Pemerintah Kabupaten Bima khususnya Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) tentang aktivitas Gunung Sangeangapi.

Masyarakat diimbau selalu mengikuti arahan dari BDPB dan Satlak PB, Pemerintah Daerah senantiasa berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunungapi Sangeangapi yang terletak di wilayah Sangeang Darat, Kecamatan Wera atau dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon