SBY Larang PLN Bangun Listrik Bertenaga BBM
Selasa, 29 Mei 2012 | 23:39 WIB
Saat ini pemerintah sedang negosiasi dengan perusahaan yang memproduksi gas.
PT Perusahaan Listrik Negara diminta untuk menambah jumlah pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan, dan tak lagi mengandalkan bahan bakar minyak (BBM).
"Kepada jajaran PLN, saya minta untuk menghentikan pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan BBM. Sebaliknya, perluas dan tingkatkan pembangunan pembangkit listrik dengan energi baru dan terbarukan, seperti listrik tenaga surya, panas bumi, tenaga air, dan biomasa," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan hari ini.
Pesan tersebut disampaikan SBY dalam pidatonya tentang kebijakan energi pemerintah yang bertujuan mengurangi sebanyak mungkin subsidi BBM dan listrik pemerintah yang kian membengkak. Tak hanya PLN, presiden juga memberi instruksi khusus ke BUMN-BUMN bidang energi lainnya.
"Secara khusus, kepada jajaran Pertamina, saya minta untuk meningkatkan usaha eksplorasi dan produksi, termasuk di negara-negara lain. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan tingkat produksi minyak kita, yang dari tahun ke tahun cenderung menurun," kata SBY.
"Kepada jajaran PGN (Perusahaan Gas Negara), saya minta untuk segera mempercepat dan memperluas pembangunan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi gas, yang sangat penting bagi pelaksanaan konversi BBM ke BBG untuk sektor transportasi, pembangkit listrik, industri, serta rumah tangga."
Presiden juga mengatakan akan mengalokasikan gas yang lebih besar bagi keperluan dalam negeri dibandingkan ekspor.
"Untuk itu Pemerintah berketetapan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur jaringan pipa gas, serta pembangunan instalasi pencairan dan pemurnian LNG untuk keperluan dalam negeri. Tentu saja, kita juga terus meningkatkan kapasitas industri gas di tanah air, agar lebih banyak lagi gas alam yang dihasilkan di dalam negeri," kata SBY.
Tujuan dan sasaran kebijakan alokasi gas yang lebih besar di dalam negeri adalah untuk mengurangi impor minyak mentah dan BBM dari luar negeri, serta mengurangi ketergantungan pada BBM. Peningkatan alokasi gas untuk dalam negeri juga diarahkan untuk mendorong industri dan transportasi, dengan menggunakan gas bumi, kata presiden.
"Sebagai negara penghasil gas bumi yang berpotensi terus berkembang, maka seharusnyalah kita lebih mendorong penggunaan gas untuk keperluan dalam negeri. Saat ini pemerintah sedang negosiasi dengan perusahaan yang memproduksi gas untuk keperluan ini. Hasilnya positif. Di tahun-tahun mendatang akan jauh lebih banyak gas yang akan digunakan untuk kepentingan dalam negeri kita," kata SBY.
PT Perusahaan Listrik Negara diminta untuk menambah jumlah pembangkit listrik yang menggunakan energi baru dan terbarukan, dan tak lagi mengandalkan bahan bakar minyak (BBM).
"Kepada jajaran PLN, saya minta untuk menghentikan pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan BBM. Sebaliknya, perluas dan tingkatkan pembangunan pembangkit listrik dengan energi baru dan terbarukan, seperti listrik tenaga surya, panas bumi, tenaga air, dan biomasa," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan hari ini.
Pesan tersebut disampaikan SBY dalam pidatonya tentang kebijakan energi pemerintah yang bertujuan mengurangi sebanyak mungkin subsidi BBM dan listrik pemerintah yang kian membengkak. Tak hanya PLN, presiden juga memberi instruksi khusus ke BUMN-BUMN bidang energi lainnya.
"Secara khusus, kepada jajaran Pertamina, saya minta untuk meningkatkan usaha eksplorasi dan produksi, termasuk di negara-negara lain. Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan tingkat produksi minyak kita, yang dari tahun ke tahun cenderung menurun," kata SBY.
"Kepada jajaran PGN (Perusahaan Gas Negara), saya minta untuk segera mempercepat dan memperluas pembangunan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi gas, yang sangat penting bagi pelaksanaan konversi BBM ke BBG untuk sektor transportasi, pembangkit listrik, industri, serta rumah tangga."
Presiden juga mengatakan akan mengalokasikan gas yang lebih besar bagi keperluan dalam negeri dibandingkan ekspor.
"Untuk itu Pemerintah berketetapan untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur jaringan pipa gas, serta pembangunan instalasi pencairan dan pemurnian LNG untuk keperluan dalam negeri. Tentu saja, kita juga terus meningkatkan kapasitas industri gas di tanah air, agar lebih banyak lagi gas alam yang dihasilkan di dalam negeri," kata SBY.
Tujuan dan sasaran kebijakan alokasi gas yang lebih besar di dalam negeri adalah untuk mengurangi impor minyak mentah dan BBM dari luar negeri, serta mengurangi ketergantungan pada BBM. Peningkatan alokasi gas untuk dalam negeri juga diarahkan untuk mendorong industri dan transportasi, dengan menggunakan gas bumi, kata presiden.
"Sebagai negara penghasil gas bumi yang berpotensi terus berkembang, maka seharusnyalah kita lebih mendorong penggunaan gas untuk keperluan dalam negeri. Saat ini pemerintah sedang negosiasi dengan perusahaan yang memproduksi gas untuk keperluan ini. Hasilnya positif. Di tahun-tahun mendatang akan jauh lebih banyak gas yang akan digunakan untuk kepentingan dalam negeri kita," kata SBY.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




