BGR Logistics Usulkan Sistem National Warehouse Data Commodity
Selasa, 26 Maret 2019 | 21:46 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR Logistics, mengusulkan konsep National Warehouse Data Commodity.
Direktur Utama BGR Logistics, M Kuncoro Wibowo, menyampaikan, dalam menghadapi era Industry 4.0 yang terjadi pada saat ini, perusahaan logistik sudah seharusnya melakukan transformasi.
"Hal tersebut untuk menjawab kebutuhan pelanggan atau principal yang menginginkan informasi yang cepat dan akurat untuk memonitor pergerakan barang yang dimiliki," kata Kuncoro saat memaparkan konsep National Warehouse Data Commodity dalam ajang iCIO Exchange 2019, di Jakarta, Selasa (26/3/2019).
Kuncoro mengatakan, dengan infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki perseroan, BGR Logistics berencana menyediakan National Warehouse Commodity untuk keperluan yang lebih luas dan tidak terbatas pada pergudangan. Dengan konsep tersebut, diharapkan BGR Logistics dapat membantu pemerintah dalam mendapatkan data komoditas strategis yang akurat sekaligus mengelola gudang untuk komoditas tersebut.
"Dengan National Warehouse Data Commodity ini, akan banyak memberikan manfaat kepada pemerintah dan pengguna jasa untuk mengeluarkan kebijakan berdasarkan data yang dikeluarkan dari sistem tersebut," terang Kuncoro.
Kuncoro mengungkapkan, saat ini BGR telah Logistics telah membangun Warehouse Integrated Application (WINA) dan Fleet Integrated and Order Monitoring Application (FIONA). "Aplikasi yang kami bangun bertujuan untuk membantu kebutuhan logistik pelanggan, dan siap dikembangkan menjadi National Warehouse Data Commodity," terang Kuncoro.
Kuncoro menambahkan, dengan aplikasi yang dibangun oleh BGR Logistics tersebut, dapat memantau pergerakan barang milik principal atau pelanggan dan diawasi oleh kantor pusat melalui command center yang dimiliki perusahaan. "Semua pergerakan barang di gudang ataupun saat berada dalam proses distribusi termonitor oleh kami," tandas Kuncoro.
Sementara itu, Chairman iCIO Community, Rico Usthavia Frans, menjelaskan, mahalnya ongkos logistik di Indonesia menjadi salah satu faktor rendahnya daya saing produk-produk Indonesia di pasar global. Pentingnya kesamaan visi dan langkah diantara para CIO untuk mendorong agar terbentuk industri logistik Indonesia yang cakap dalam pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunkasi (TIK) yang merupakan salah satu faktor penting untuk memangkas ongkos logistik di Indonesia.
"Komitmen BGR Logistics melakukan transformasi melalui peningkatan pemanfaatan TIK dan menjadi perusahaan logistik berbasis digital akan menjadi tolok ukur pemanfaatan TIK , tidak saja dibidang logistik tapi bisa ditularkan ke seluruh rantai pasok atau supply chain. Dalam lingkup yang lebih luas, pemanfaatan TIK di berbagai bidang perlu menjadi menjadi agenda nasional untuk menjaga dan meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia di era digital," imbuh Rico.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




