ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Kelaparan Melanda 350.000 Orang di Tigray, Etiopia

Jumat, 11 Juni 2021 | 09:58 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Pengungsi Etiopia yang melarikan diri dari konflik Tigray tiba di Gedaref, Sudan timur, 6 Desember 2020.
Pengungsi Etiopia yang melarikan diri dari konflik Tigray tiba di Gedaref, Sudan timur, 6 Desember 2020. (AFP/Dokumentasi)

Addis Ababa, Beritasatu.com- Lebih dari 350.000 orang di Tigray Etiopia menderita kondisi kelaparan dengan jutaan orang lainnya berisiko. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat (11/6/2021), hasil analisis itu disampaikan badan-badan PBB dan kelompok-kelompok bantuan yang menyalahkan konflik sebagai bencana krisis pangan terburuk dalam satu dekade.

"Sekarang ada kelaparan di Tigray," kata kepala bantuan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Mark Lowcock pada Kamis (10/6) setelah rilis analisis Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), yang menurut IPC belum disahkan oleh pemerintah Etiopia.

"Jumlah orang dalam kondisi kelaparan, lebih tinggi daripada di mana pun di dunia, setiap saat sejak seperempat juta orang Somalia kehilangan nyawa mereka pada 2011," kata Lowcock.

Sebagian besar dari 5,5 juta orang di Tigray membutuhkan bantuan makanan. Pertempuran pecah di wilayah itu pada November antara pasukan pemerintah dan mantan partai yang berkuasa di wilayah itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Pasukan dari negara tetangga Eritrea juga memasuki konflik untuk mendukung pemerintah Etiopia.

ADVERTISEMENT

Kekerasan telah menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa lebih dari 2 juta orang meninggalkan rumah mereka di wilayah pegunungan.

Peringatan paling ekstrem oleh IPC yakni skala yang digunakan oleh badan-badan PBB, badan-badan regional dan kelompok bantuan untuk menentukan kerawanan pangan - adalah fase 5. Peringatan dimulai dengan peringatan bencana dan meningkat menjadi deklarasi kelaparan di suatu wilayah.

IPC menyatakan lebih dari 350.000 orang di Tigray berada dalam bencana fase 5. Itu berarti rumah tangga mengalami kondisi kelaparan, tetapi kurang dari 20% populasi terpengaruh dan kematian serta kekurangan gizi belum mencapai ambang kelaparan.

"Krisis parah ini diakibatkan oleh efek konflik yang berjenjang, termasuk perpindahan penduduk, pembatasan pergerakan, akses kemanusiaan yang terbatas, hilangnya panen dan aset mata pencaharian, dan pasar yang tidak berfungsi atau tidak ada," hasil analisis IPC.

Agar status kelaparan dinyatakan, setidaknya 20% dari populasi "harus" menderita kekurangan pangan yang ekstrem. Setidaknya satu dari tiga anak kekurangan gizi akut dan dua orang dari setiap 10.000 meninggal setiap hari karena kelaparan atau kekurangan gizi dan penyakit.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB

Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB

INTERNASIONAL
Menhut: 23 Persen Mangrove Dimiliki Indonesia, Terbesar di Dunia

Menhut: 23 Persen Mangrove Dimiliki Indonesia, Terbesar di Dunia

NASIONAL
Indonesia Siap Tarik TNI dari Lebanon jika PBB Tak Mampu Melindungi

Indonesia Siap Tarik TNI dari Lebanon jika PBB Tak Mampu Melindungi

NASIONAL
Ratusan Warga Haiti Mengungsi Seusai Geng Bersenjata Mengamuk

Ratusan Warga Haiti Mengungsi Seusai Geng Bersenjata Mengamuk

INTERNASIONAL
PBB: 45 Juta Orang Bisa Kelaparan Akibat Blokade Selat Hormuz

PBB: 45 Juta Orang Bisa Kelaparan Akibat Blokade Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Dubes AS di PBB: Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung

Dubes AS di PBB: Negosiasi dengan Iran Masih Berlangsung

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon