Kelaparan Melanda 350.000 Orang di Tigray, Etiopia
Jumat, 11 Juni 2021 | 09:58 WIB
Addis Ababa, Beritasatu.com- Lebih dari 350.000 orang di Tigray Etiopia menderita kondisi kelaparan dengan jutaan orang lainnya berisiko. Seperti dilaporkan Reuters, Jumat (11/6/2021), hasil analisis itu disampaikan badan-badan PBB dan kelompok-kelompok bantuan yang menyalahkan konflik sebagai bencana krisis pangan terburuk dalam satu dekade.
"Sekarang ada kelaparan di Tigray," kata kepala bantuan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Mark Lowcock pada Kamis (10/6) setelah rilis analisis Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC), yang menurut IPC belum disahkan oleh pemerintah Etiopia.
"Jumlah orang dalam kondisi kelaparan, lebih tinggi daripada di mana pun di dunia, setiap saat sejak seperempat juta orang Somalia kehilangan nyawa mereka pada 2011," kata Lowcock.
Sebagian besar dari 5,5 juta orang di Tigray membutuhkan bantuan makanan. Pertempuran pecah di wilayah itu pada November antara pasukan pemerintah dan mantan partai yang berkuasa di wilayah itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Pasukan dari negara tetangga Eritrea juga memasuki konflik untuk mendukung pemerintah Etiopia.
Kekerasan telah menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa lebih dari 2 juta orang meninggalkan rumah mereka di wilayah pegunungan.
Peringatan paling ekstrem oleh IPC yakni skala yang digunakan oleh badan-badan PBB, badan-badan regional dan kelompok bantuan untuk menentukan kerawanan pangan - adalah fase 5. Peringatan dimulai dengan peringatan bencana dan meningkat menjadi deklarasi kelaparan di suatu wilayah.
IPC menyatakan lebih dari 350.000 orang di Tigray berada dalam bencana fase 5. Itu berarti rumah tangga mengalami kondisi kelaparan, tetapi kurang dari 20% populasi terpengaruh dan kematian serta kekurangan gizi belum mencapai ambang kelaparan.
"Krisis parah ini diakibatkan oleh efek konflik yang berjenjang, termasuk perpindahan penduduk, pembatasan pergerakan, akses kemanusiaan yang terbatas, hilangnya panen dan aset mata pencaharian, dan pasar yang tidak berfungsi atau tidak ada," hasil analisis IPC.
Agar status kelaparan dinyatakan, setidaknya 20% dari populasi "harus" menderita kekurangan pangan yang ekstrem. Setidaknya satu dari tiga anak kekurangan gizi akut dan dua orang dari setiap 10.000 meninggal setiap hari karena kelaparan atau kekurangan gizi dan penyakit.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




