Belanda Resmi Minta Maaf
Jumat, 9 Desember 2011 | 11:09 WIB
Permintaan maaf disampaikan secara resmi oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, yang hadir di Rawagede.
Pemerintah Belanda meminta maaf kepada warga Rawagede dan keluarga korban atas penembakan yang dilakukan tentara Belanda di desa itu pada 1947, yang menewaskan lebih dari 400 laki-laki di sana.
Permintaan maaf disampaikan secara resmi oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, yang hadir di Rawagede, dalam upacara tahunan peringatan tragedi Rawagede yang diadakan sejak 1996, saat monumen peringatan pembantaian Rawagede dibangun.
De Zwaan mengatakan tragedi itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Belanda bisa menjadi sangat buruk pada waktu itu.
Ditambahkannya, hari itu juga yang sangat tragis bagi para janda dan keluarga warga Rawagede, saat ini dinamakan Balongsari, karena itu pemerintah Belanda ingin menutup era buruk dalam kehidupan mereka.
"Dalam konteks itu, atas nama pemerintah Belanda, saya minta maaf atas tragedi yg terjadi pada 9 Desember 1947," kata De Zwaan dalam bahasa Inggris di hadapan warga Rawagede dan janda serta keluarga korban yang meninggal dalam penembakan, yang lalu disambut dengan tepuk tangan hadirin.
Kalimat permintaan maaf itu diulangnya dalam Bahasa Indonesia, dan disambut dengan tepuk tangan yang lebih meriah dari hadirin.
Pengacara Belanda para janda dan korban yang mewakili mereka dan memenangkan tuntutan mereka di pengadilan, Liesbeth Zegveld, mengatakan tidak ada jumlah kompensasi sebesar apa pun yang bisa menggantikan kerugian yang mereka alami akibat pembantaian itu.
"Saya sangat menyambut baik keputusan negara Belanda untuk minta maaf tidak hanya kepada para janda tapi juga ke seluruh warga desa Rawagede," kata Liesbeth.
"Tidak pernah terlalu terlambat untuk minta maaf. Permintaan maaf kepada Anda dari negara saya, sangat berarti bagi saya bukan hanya sebagai pengacara tapi juga sebagai warga negara Belanda," kata Liesbeth.
Pemerintah Belanda meminta maaf kepada warga Rawagede dan keluarga korban atas penembakan yang dilakukan tentara Belanda di desa itu pada 1947, yang menewaskan lebih dari 400 laki-laki di sana.
Permintaan maaf disampaikan secara resmi oleh Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Tjeerd de Zwaan, yang hadir di Rawagede, dalam upacara tahunan peringatan tragedi Rawagede yang diadakan sejak 1996, saat monumen peringatan pembantaian Rawagede dibangun.
De Zwaan mengatakan tragedi itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Belanda bisa menjadi sangat buruk pada waktu itu.
Ditambahkannya, hari itu juga yang sangat tragis bagi para janda dan keluarga warga Rawagede, saat ini dinamakan Balongsari, karena itu pemerintah Belanda ingin menutup era buruk dalam kehidupan mereka.
"Dalam konteks itu, atas nama pemerintah Belanda, saya minta maaf atas tragedi yg terjadi pada 9 Desember 1947," kata De Zwaan dalam bahasa Inggris di hadapan warga Rawagede dan janda serta keluarga korban yang meninggal dalam penembakan, yang lalu disambut dengan tepuk tangan hadirin.
Kalimat permintaan maaf itu diulangnya dalam Bahasa Indonesia, dan disambut dengan tepuk tangan yang lebih meriah dari hadirin.
Pengacara Belanda para janda dan korban yang mewakili mereka dan memenangkan tuntutan mereka di pengadilan, Liesbeth Zegveld, mengatakan tidak ada jumlah kompensasi sebesar apa pun yang bisa menggantikan kerugian yang mereka alami akibat pembantaian itu.
"Saya sangat menyambut baik keputusan negara Belanda untuk minta maaf tidak hanya kepada para janda tapi juga ke seluruh warga desa Rawagede," kata Liesbeth.
"Tidak pernah terlalu terlambat untuk minta maaf. Permintaan maaf kepada Anda dari negara saya, sangat berarti bagi saya bukan hanya sebagai pengacara tapi juga sebagai warga negara Belanda," kata Liesbeth.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




