RS Indonesia Jadi Wisata Kesehatan Asia Sebelum 2015
Rabu, 4 Januari 2012 | 20:17 WIB
Upaya yang tengah dilakukan adalah memperbanyak rumah sakit berakreditas internasional.
Indonesia menargetkan menjadi bagian wisata kesehatan Asia sebelum tahun 2015, dengan cara memperbanyak Rumah Sakit (RS) berakreditasi internasional.
"Selama ini kalau menyangkut health tourism terus terang nama Indonesia belum pernah disebut, selalu yang dijadikan referensi Singapura, Malaysia, Thailand atau India. Saya optimis sebelum 2015 nama kita bisa diperhitungkan di antara negara-negara itu," kata Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan (Dirjen BUK Kemenkes) Supriyantoro, di Jakarta, hari ini.
Ia mengatakan, saat ini ada sepuluh Rumah Sakit di Indonesia yang tengah mengupayakan akreditasi World Class Hospital dari Joint Commission International (JCI).
Ke sepuluh rumah sakit tersebut adalah RS Cipto Mangunkusumo, RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Fatmawati di Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RSUP Adam Malik Medan, RSUP Sardjito Yogyakarta, RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, dan RSUP Sanglah Denpasar Bali.
Menurut Supriyantoro, tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri sebagian besar dikarenakan pelayanan RS Indonesia yang masih jauh dari cukup.
"Mereka ke luar negeri bukan karena kualitas kita buruk, tapi karena pelayanan, keramahan, dan manajemen rumah sakit yang tidak baik, kita harus akui itu," ungkap dia.
Untuk itu, menurut Supriyantoro, Kemenkes mendorong agar semua rumah sakit di Indonesia berorientasi pada kepuasan pelanggan.
"Ada tiga paramenter penting, pelayanan harus fokus pada customer care, standar manajemen RS harus baik, dan standar keselamatan pasien diutamakan," ujarnya.
Meskipun bergelar rumah sakit berakreditasi internasional, Suproyantoro mengatakan, tidak berarti biaya berobat akan melambung tinggi.
Menurutnya, jika peningkatan mutu telah dilaksanakan dengan baik, akan terjadi banyak sekali efisiensi biaya yang bisa menekan pengeluaran.
"Kecuali biaya investasi alat-alat canggih, mau tidak mau pasti mahal," tegas dia.
Lebih jauh, Supriyantoro mengatakan, sejauh ini JCI mengapresiasi usaha RS di Indonesia untuk mendapatkan akreditasi.
Hanya saja, lanjut dia, proses akreditasi ini memang mahal dan memakan waktu lama.
"Kita harap akreditasi untuk RSCM akan tuntas akhir 2012 dan segera disusul yang lainnya," imbuh dia.
Ditambahkan Supriyantoro, upaya menjadikan Indonesia sebagai tujuan health tourism akan didahului di RS UP Sanglah yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berobat karena terletak di Pulau Bali yang sudah sangat terkenal dan potensial menjadi tujuan pariwisata.
Saat ini di Indonesia baru ada tiga RS yang sudah mendapat akreditasi internasional dari JCI yaitu, RS Siloam Karawaci, RS Eka Hospital Jakarta, dan RS Santosa Bandung. Ketiganya adalah RS swasta.
Indonesia menargetkan menjadi bagian wisata kesehatan Asia sebelum tahun 2015, dengan cara memperbanyak Rumah Sakit (RS) berakreditasi internasional.
"Selama ini kalau menyangkut health tourism terus terang nama Indonesia belum pernah disebut, selalu yang dijadikan referensi Singapura, Malaysia, Thailand atau India. Saya optimis sebelum 2015 nama kita bisa diperhitungkan di antara negara-negara itu," kata Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan (Dirjen BUK Kemenkes) Supriyantoro, di Jakarta, hari ini.
Ia mengatakan, saat ini ada sepuluh Rumah Sakit di Indonesia yang tengah mengupayakan akreditasi World Class Hospital dari Joint Commission International (JCI).
Ke sepuluh rumah sakit tersebut adalah RS Cipto Mangunkusumo, RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Fatmawati di Jakarta, RS Hasan Sadikin Bandung, RSUP Adam Malik Medan, RSUP Sardjito Yogyakarta, RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar, dan RSUP Sanglah Denpasar Bali.
Menurut Supriyantoro, tingginya jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri sebagian besar dikarenakan pelayanan RS Indonesia yang masih jauh dari cukup.
"Mereka ke luar negeri bukan karena kualitas kita buruk, tapi karena pelayanan, keramahan, dan manajemen rumah sakit yang tidak baik, kita harus akui itu," ungkap dia.
Untuk itu, menurut Supriyantoro, Kemenkes mendorong agar semua rumah sakit di Indonesia berorientasi pada kepuasan pelanggan.
"Ada tiga paramenter penting, pelayanan harus fokus pada customer care, standar manajemen RS harus baik, dan standar keselamatan pasien diutamakan," ujarnya.
Meskipun bergelar rumah sakit berakreditasi internasional, Suproyantoro mengatakan, tidak berarti biaya berobat akan melambung tinggi.
Menurutnya, jika peningkatan mutu telah dilaksanakan dengan baik, akan terjadi banyak sekali efisiensi biaya yang bisa menekan pengeluaran.
"Kecuali biaya investasi alat-alat canggih, mau tidak mau pasti mahal," tegas dia.
Lebih jauh, Supriyantoro mengatakan, sejauh ini JCI mengapresiasi usaha RS di Indonesia untuk mendapatkan akreditasi.
Hanya saja, lanjut dia, proses akreditasi ini memang mahal dan memakan waktu lama.
"Kita harap akreditasi untuk RSCM akan tuntas akhir 2012 dan segera disusul yang lainnya," imbuh dia.
Ditambahkan Supriyantoro, upaya menjadikan Indonesia sebagai tujuan health tourism akan didahului di RS UP Sanglah yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berobat karena terletak di Pulau Bali yang sudah sangat terkenal dan potensial menjadi tujuan pariwisata.
Saat ini di Indonesia baru ada tiga RS yang sudah mendapat akreditasi internasional dari JCI yaitu, RS Siloam Karawaci, RS Eka Hospital Jakarta, dan RS Santosa Bandung. Ketiganya adalah RS swasta.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




