Kematian Akibat Resistensi Antibiotik Sering Tak Terdeteksi
Rabu, 5 Agustus 2015 | 14:20 WIB
Jakarta - Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan (Kemkes), Hari Paraton mengatakan, saat ini, resistensi (kebal) antibiotik telah menjadi permasalahan yang sangat serius di tingkat global dan menjadi salah satu tantangan terbesar dunia kesehatan.
Bahkan menurutnya, banyak kasus kematian di rumah sakit, yang sebetulnya disebabkan oleh resistensi antibiotik, namun "terselip" di penyakit lain yang lebih terlihat, seperti gagal jantung atau ginjal.
"Banyak kasus kematian, yang kalau diteliti lebih lanjut sebetulnya disebabkan oleh resistensi antibiotik. Artinya, segala jenis antibiotik yang ada di seluruh dunia sudah tidak mempan lagi membunuh kuman atau bakteri di tubuhnya, sehingga kuman tersebut akhirnya mengeluarkan racun yang bisa menyebabkan gagal jantung atau penyakit lainnya," ungkap Hari di acara seminar "Cegah Resistensi Antibiotik" di Jakarta, Rabu (5/8).
Hari minta kepada para tenaga apoteker untuk lebih bijak dalam melayani pembelian obat tanpa resep dokter, khususnya untuk obat-obatan antibiotik. Begitu juga kepada tenaga kesehatan, Hari berharap agar mereka lebih rasional dalam memberikan resep antibiotik.
"Penggunaan antibiotika harus rasional, karena kalau diminum sembarangan, apalagi tidak tuntas, hal itu bisa mengakibatkan resisten terhadap obat tersebut saat dibutuhkan. Bahkan, saat ini sudah banyak kasus di rumah sakit yang mengalami multiresisten," ujar Hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




