Populasi Harimau Sumatera Terus Berkurang karena Perburuan

Senin, 11 Januari 2016 | 12:24 WIB
U
JS
Penulis: Usmin | Editor: JAS
Ilustrasi harimau Sumatera
Ilustrasi harimau Sumatera (Wikimedia.org)

Bengkulu - Populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di kawasan hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) di wilayah Sumatera terus berkurang karena diduga terus diburu oknum tidak bertanggung jawab.

"Hasil pendataan tahun 2014 lalu, perkirakan jumlah populasi harimau sumatera di hutan TNKS Sumatera sekitar 150 ekor lagi. Bahkan, jumlahnya sudah berkurang karena terus diburu masyarakat setempat," kata Kepala Seksi TNKS Wilayah IV Bengkulu dan Sumatera Selatan (Sumsel), M Mafhud, di Bengkulu, Senin (11/1).

Khusus untuk populasi harimau sumatera di hutan TNKS wilyah Bengkulu, sampai sekarang jumlahnya tidak bisa dipastikan, tapi diperkirakan mencapai puluhan ekor.

Namun, jumlah populasi tersebut diperkirakan terus berkurang karena kegiatan perburuan harimau sumatera di wilayah TNKS dan hutan lindung di Bengkulu terus berlangsung.

Hal ini terbukti masih banyaknya ditemukan jerat seling di hutan TNKS wilayah Bengkulu. Jerat tersebut dipasang warga di daerah yang sering dilintasi raja hutan tersebut.

Tujuan warga menjerat harimau Sumatera untuk mengambil kulitnya, karena harga kulit hewan langka ini cukup mahal. 

Untuk mengatasi masalah tersebut, pihak TNKS Wilayah IV Bengkulu, terus melakukan operasi rutin di wilayah TNKS Bengkulu guna mengecah masyarakat memasang jerat harimau di daerah ini.

Selain itu, jika warga tertangkap tangan oleh petugas TNKS sedang memasang jerat harimau, maka pihaknya langsung memproses sesuai dengan hukum yang berlaku tanpa terkecuali.

Sikap tegas ini dilakukan agar masyarakat lain tidak berani lagi untuk memasang jerat atau perangkap di daerah ini, sehingga keberadaan popluasi raja hutan ini di hutan Bumi Raflesia tetap lestari.

Upaya lain untuk menjaga kelestarian harimau sumatera di Bengkulu, Mahfud mengatakan, pada tahun 2016 ini, pihaknya akan melakukan perbaikan ekosistem hutan TNKS seluas 15 hektare itu.

Perbaikan ekosistem ini dilakukan dengan cara memperbaiki fungsi hutan yang rusak oleh ulah oknum masyarakat dengan menanam beberapa jenis flora endemik.

Dengan ditanamnya flora endemik tersebut, diharapkan satwa langka kembali mendiami hutan tersebut, termasuk harimau sumatera. "Sehingga mereka tidak mencari makan keluar dari hutan TNKS tersebut, seperti yang terjadi sekarang," katanya.

Khusus harimau sumatera jika ekosistemnya terjaga dengan baik, maka hewan langka ini tidak lagi masuk ke perkampungan warga mencari makan.

"Sekarang sering kali harimau sumatera masuk ke perkampung warga mencari makan, akibatnya aktivitas warga jadi terganggu. Ini terjadi karena hutan yang menjadi habitat mereka rusak dirambah masyarakat," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon