Pejabat Tinggi Militer dan Diplomat Korut Membelot ke Korsel

Selasa, 12 April 2016 | 00:11 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Tentara Korea Utara sedang melihat ke arah Korea Selatan di desa Panmunjom yang dijadikan wilayah gencatan senjata dalam Zona Demiliterisasi yang memisahkan dua negara Korea.
Tentara Korea Utara sedang melihat ke arah Korea Selatan di desa Panmunjom yang dijadikan wilayah gencatan senjata dalam Zona Demiliterisasi yang memisahkan dua negara Korea. (AFP Photo)

Seoul – Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menyampaikan pejabat tinggi militer Korea Utara berpangkat kolonel, yang bertanggung jawab soal operasi mata-mata, dan seorang diplomat Korea Utara untuk Afrika Selatan dengan tiga anggota keluarganya telah membelot ke Korsel.

Menurut kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Senin (11/4), sebelum membelot perwira tinggi angkatan darat ini bertugas di Biro Umum Pengintaian – sebuah badan yang menangani pengumpulan data intelijen, operasional spionase, dan perang cyber – untuk mengintai Korea Selatan. Dia dikabarkan tiba di Negeri Ginseng pada tahun lalu.

Juru bicara dari kementerian unifikasi dan pertahanan di Seoul membenarkan laporan tersebut, namun menolak memberi penjelasan lebih lanjut terkait dengan nama pejabat dan tanggal tepatnya pembelotan.

"Dia adalah pejabat militer tingkat tinggi yang pernah membelot ke Selatan," kata pejabat pemerintah seperti dikutip Yonhap.
Pejabat itu meyakini, sang perwira militer telah memberikan penjelasan rinci tentang operasi-operasi biro untuk melawan Korea Selatan kepada pihak berwenang di Seoul.

Juru bicara dari kementerian unifikasi juga menegaskan laporan surat kabar harian Dong-A Ilbo, pada Senin, bahwa seorang pejabat diplomat Korea Utara yang ditempatkan di negara Afrika membelot ke Seoul, pada Mei lalu dengan tiga anggota keluarganya.

Kabar pembelotan ini bermunculan setelah Pemerintah Seoul mengumumkan ada 13 warga Korea Utara, yang bekerja di restoran milik pemerintah di luar negeri, melarikan diri ke Selatan dalam aksi pembelotan massal yang jarang terjadi.

Ketiga belas orang yang terdiri atas satu manajer pria dan belasan perempuan telah tiba di Selatan, Kamis (7/4). Mereka dikabarkan bekerja di restoran yang terletak di kota pelabuhan bagian tenggara Tiongkok, Ningbo sebelum datang ke Selatan melalui jalur negara ketiga di Asia Tenggara.

Pemerintah Seoul sendiri terbilang jarang mengeluarkan konfirmasi pembelotan warga Korea Utara, khususnya yang memiliki jabatan senior. Mereka beralasan, hal itu berpotensi mengancam keselamatan mereka.

Selain itu, Pemerintah Korea Selatan juga tidak ingin merusak hubungan dengan negara-negara yang menjadi jalur transit untuk membelot.

Di sisi lain, Tiongkok adalah sekutu tunggal dan utama Korea Utara. Bahkan Pyongyang telah sering melaporkan dan mengajukan protes kepada negara-negara transit yang digunakan oleh para pembelot untuk melakukan perjalanan ke Seoul.

Pengungkapan tak biasa ini mendapat desakan dari partai oposisi utama Seoul yang menuding pihak pemerintah mencoba menggalang dukungan kalangan konservatif sebelum pemilihan parlemen, Rabu (13/4).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon