Kuliner Lokal Jadi Perlindungan Keamanan Pangan

Sabtu, 19 November 2016 | 08:21 WIB
IC
IC
Penulis: Iman Rahman Cahyadi | Editor: CAH
Prof Ir Ahmad Sulaeman
Prof Ir Ahmad Sulaeman (istimewa)

Tomohon, Manado – Globalisasi menghasilkan realitas bahwa kita hidup dalam lingkungan keamanan pangan yang komplek. Menurut WHO, di dunia global kita berenang dalam satu lautan tunggal mikroba. Bahkan dalam perdagangan global terlihat dunia berada di atas piring Anda.

Sebagai contoh sepotong pizza jika ditelisik maka bahan-bahannya melibatkan banyak negara. Untuk dagingnya dari Australia, Selanadia baru, lalu cheese berasal dari Australia dan Belanda, saos cabe dari Amerika, Olive dari Turki dan Spanyol dan Indonesia terlibat di lada hitam.

"Saat ini menikmati makanan adalah proses yang beresiko. Hanya kekebalan alami dan pangan tradisional (lokal) yang bisa menjadi perlindungan utama," ujar Profesor Ir Ahmad Sulaeman, MS, PhD, Pakar Gizi Masyarakat dari Institut Pertanian Bogor dalam Jelajah Gizi di Sulawesi Utara bersama Sarihusada, Jumat (18/11).

Apalagi dikatakannya Indonesia kaya akan pangan lokal yang memiliki gizi. Salah satunya jenis kuliner dari Minahasa. Sebut saja untuk makanan utama ada tinutuan, nasi kuning manado, nasi jaha, brenebon, lalampa, pepeco, nasi bungkus.

Belum lagi ada lauk pauk berupa ikan nike, cilombio, ikan roa, cakalang asap. Ditambah kekayaan jajanan seperti lemet bulu, bobengka, kolembeng merah, lalampa dan panada.

"Contohnya bubur manado yang dibuat dengan campuran sayuran dan tidak mengandung daging. Sehingga makanan ini bisa menjadi makanan pergaulan antarkelompok masyarakat di Manado. Makanan ini mengandung banyak gizi," ujar Profesor Ir Ahmad.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon