PTN Kembangkan Penelitian Benih Padi Lokal Banten
Kamis, 17 Mei 2012 | 21:25 WIB
Benih padi lokal atau "pare gede" tersebar di Kecamatan Sajira, Cibeber, Leuwidamar, Muncang, dan Sobang.
Sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia mengembangkan penelitian untuk mengembangkan benih padi lokal Kabupaten Lebak, Banten.
"Keunggulan benih padi lokal itu, selain tahan hama juga belum pernah terjadi puso atau gagal panen," kata Ketua Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lebak Budi Sugianto di Rangkasbitung, hari ini
Budi menjelaskan selama ini petani yang melestarikan benih padi lokal atau "pare gede" tersebar di Kecamatan Sajira, Cibeber, Leuwidamar, Muncang, dan Sobang. Mereka mengembangkan padi lokal itu sejak turun temurun dan menjadikan spesifik khas petani Lebak.
Bahkan, kata Budi, masyarakat Baduy dan Kaolotan di Kecamatan Cibeber setiap tanam selalu menggunakan varietas lokal dengan musin panen selama lima bulan. Oleh karena itu, PTN hingga kini tetap menjaga dan melestarikan benih varietas padi lokal sebab memiliki keunggulan itu.
Ditambahkan Budi, penelitian padi lokal Banten ini juga bisa membantu program ketahanan pangan guna mendukung 10 juta ton beras tahun 2015. "Kami minta petugas penyuluh agar menjaga benih lokal tidak punah, karena benih itu menjadikan khas Lebak," tutur dia.
Menurut dia, saat ini benih padi lokal kerapkali dijadikan subjek penelitian oleh sejumlah PTN seperti IPB dan UGM. Mereka melakukan penelitian mulai persemaian, pertumbuhan hingga panen.
Apalagi, kata dia, benih padi lokal itu menghasilkan beras "cerai" dengan rasa pulen dan beraroma, dan belum pernah mendengar tanaman padi lokal terserang puso atau gagal panen.
Petani yang mengembangkan benih "pare gede" di Lebak relatif kecil dibandingkan benih unggulan seperti Inpari, Ciherang, dan Pandanwangi. Produktivitas padi lokal rata-rata tiga sampai empat ton per hektare gabah kering pungut (GKP).
Sejumlah perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia mengembangkan penelitian untuk mengembangkan benih padi lokal Kabupaten Lebak, Banten.
"Keunggulan benih padi lokal itu, selain tahan hama juga belum pernah terjadi puso atau gagal panen," kata Ketua Badan Pelaksana Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Lebak Budi Sugianto di Rangkasbitung, hari ini
Budi menjelaskan selama ini petani yang melestarikan benih padi lokal atau "pare gede" tersebar di Kecamatan Sajira, Cibeber, Leuwidamar, Muncang, dan Sobang. Mereka mengembangkan padi lokal itu sejak turun temurun dan menjadikan spesifik khas petani Lebak.
Bahkan, kata Budi, masyarakat Baduy dan Kaolotan di Kecamatan Cibeber setiap tanam selalu menggunakan varietas lokal dengan musin panen selama lima bulan. Oleh karena itu, PTN hingga kini tetap menjaga dan melestarikan benih varietas padi lokal sebab memiliki keunggulan itu.
Ditambahkan Budi, penelitian padi lokal Banten ini juga bisa membantu program ketahanan pangan guna mendukung 10 juta ton beras tahun 2015. "Kami minta petugas penyuluh agar menjaga benih lokal tidak punah, karena benih itu menjadikan khas Lebak," tutur dia.
Menurut dia, saat ini benih padi lokal kerapkali dijadikan subjek penelitian oleh sejumlah PTN seperti IPB dan UGM. Mereka melakukan penelitian mulai persemaian, pertumbuhan hingga panen.
Apalagi, kata dia, benih padi lokal itu menghasilkan beras "cerai" dengan rasa pulen dan beraroma, dan belum pernah mendengar tanaman padi lokal terserang puso atau gagal panen.
Petani yang mengembangkan benih "pare gede" di Lebak relatif kecil dibandingkan benih unggulan seperti Inpari, Ciherang, dan Pandanwangi. Produktivitas padi lokal rata-rata tiga sampai empat ton per hektare gabah kering pungut (GKP).
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Harga Emas Antam Jumat 15 Mei 2026 Anjlok Rp 20.000 Jadi Segini




