ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Triwulan I-2013, Industri Non-migas Tumbuh 6,69%

Selasa, 28 Mei 2013 | 21:48 WIB
SH
FH
Penulis: Siprianus Edi Hardum | Editor: FER
Ilustrasi produk UKM
Ilustrasi produk UKM (Antara)

Industri makanan dan minuman mampu memberikan kontribusi yang signifikan.

Jakarta - Pertumbuhan industri non-migas pada triwulan I tahun 2013 mencapai 6,69%. Industri makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap total PDB sekitar 6,96% dan terhadap total industri non-migas sebesar 33,79%, jika dibandingkan dengan sektor industri lainnya pada triwulan I tahun 2013.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kemenperin Perindustrian, Euis Saedah, saat membuka Pameran Produk Industri Makanan dan Minuman di Plasa Pameran Industri, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (28/50), mengatakan, terhadap penerimaan devisa sektor industri non-migas melalui investasi, industri makanan dan minuman juga mampu memberikan kontribusi yang signifikan.

Pada tahun 2012, nilai investasi industri ini sebesar Rp 63,65 triliun atau meningkat bila dibandingkan dengan nilai investasi pada tahun 2011 yang mencapai Rp 60,53 triliun.

ADVERTISEMENT

"Peningkatan tersebut didukung oleh program hilirisasi industri agro yang disambut baik oleh banyak investor dalam dan luar negeri," kata dia.

Lebih lanjut Euis mengatakan, program hilirisasi industri agro yang dicanangkan oleh Kementerian Perindustrian telah mencapai hasil-hasil yang cukup baik, antara lain, pertama, utilisasi kapasitas industri minyak goreng kelapa sawit yang meningkat dari 45% pada tahun 2010 menjadi lebih dari 70% pada tahun 2012.

Selain itu, pergeseran tren ekspor yang awalnya didominasi oleh CPO, berubah menjadi ekspor produk hilir yang bernilai tambah tinggi seperti oleo food dan oleo chemical. Investasi di industri hilir kelapa sawit lebih dari Rp. 18 triliun sehingga tren penggunaan CPO sebagai bahan mentah semakin meningkat.

Peningkatan kapasitas produksi industri kakao dari 560 ribu ton (utilisasi 44,6%) pada tahun 2011 menjadi 660 ribu ton (utilisasi 66%) pada tahun 2012. Sejalan dengan peningkatan tersebut, jumlah tenaga kerja yang terserap pada sektor industri ini juga semakin meningkat menjadi 4.300 orang.

Adanya investasi industri kakao baru yaitu Guan Chong Cocoa, PT Cargill Indonesia, JB Cocoa dan Barry-Comextra dengan total investasi lebih dari USD 279 juta, dapat juga menambah kapasitas produksi sebesar 307 ribu ton per tahun.

Terakhir, program revitalisasi industri gula menghasilkan peningkatan kapasitas giling, produksi riil, mutu gula, rendemen dan overall recovery.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pelemahan Rupiah Dinilai Mulai Tekan Harga Pangan hingga BBM

Pelemahan Rupiah Dinilai Mulai Tekan Harga Pangan hingga BBM

EKONOMI
Ekonom Sorot Risiko Peralihan setelah Harga BBM Nonsubsidi Naik

Ekonom Sorot Risiko Peralihan setelah Harga BBM Nonsubsidi Naik

EKONOMI
Perkuat Investasi di Indonesia lewat Pabrik Baru

Perkuat Investasi di Indonesia lewat Pabrik Baru

MULTIMEDIA
Pasokan Gas Industri Menipis sementara Energi Alternatif Mahal

Pasokan Gas Industri Menipis sementara Energi Alternatif Mahal

EKONOMI
Menperin Sarankan IKM Tingkatkan Kapasitas Produksi lewat KIPK

Menperin Sarankan IKM Tingkatkan Kapasitas Produksi lewat KIPK

EKONOMI
Industri Otomotif Jerman Krisis, 200.000 Pekerjaan Terancam Kena PHK

Industri Otomotif Jerman Krisis, 200.000 Pekerjaan Terancam Kena PHK

OTOTEKNO

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon