ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pelemahan Rupiah Dinilai Mulai Tekan Harga Pangan hingga BBM

Kamis, 14 Mei 2026 | 15:42 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Ilustrasi BBM nonsubsidi Pertamax Turbo.
Ilustrasi BBM nonsubsidi Pertamax Turbo. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet menilai, pemerintah dan Bank Indonesia perlu bergerak lebih sinkron dalam menjaga stabilitas rupiah sebelum dampaknya semakin meluas terhadap inflasi dan harga kebutuhan masyarakat.

Menurut Yusuf, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai menimbulkan tekanan harga di lapangan meski dampaknya belum sepenuhnya tercermin pada angka inflasi nasional.

“Meskipun inflasi saat ini masih relatif rendah, tekanan di lapangan mulai terasa, terutama dari kenaikan biaya impor, energi, dan distribusi,” kata Yusuf dikutip dari Antara, Kamis (15/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan struktur ekonomi Indonesia masih cukup bergantung pada impor, mulai dari pangan, bahan bakar minyak (BBM), bahan baku industri, hingga barang modal. Kondisi tersebut membuat pelemahan rupiah berpotensi cepat diteruskan ke harga barang dan jasa.

“Dampaknya memang biasanya bertahap, bukan langsung sekaligus. Awalnya, produsen atau distributor masih mencoba menahan harga, tetapi kalau kurs bertahan lemah dalam waktu lama, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan,” ujarnya.

Yusuf menilai tekanan terbesar berasal dari tiga sektor utama. Pertama, pangan impor seperti gandum, kedelai, gula, dan produk turunannya yang sangat sensitif terhadap perubahan kurs.

Kedua, sektor energi dan transportasi karena harga BBM nonsubsidi dan ongkos logistik berpotensi naik ketika rupiah melemah.

Ketiga, biaya produksi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor sehingga pelaku usaha menghadapi kenaikan ongkos produksi yang pada akhirnya dapat dibebankan kepada konsumen.

Menurut dia, langkah intervensi dari Bank Indonesia sangat penting untuk menjaga rupiah agar tidak memicu kepanikan pasar dan efek domino yang lebih luas.

Namun, Yusuf menilai intervensi BI tidak cukup dilakukan sendiri apabila tekanan fundamental ekonomi belum teratasi.

“Sebab, pasar juga melihat kondisi defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, dan persepsi terhadap ruang fiskal pemerintah,” katanya.

Karena itu, Yusuf menyarankan pemerintah dan BI bergerak lebih sinkron dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar.

Ia menilai langkah paling mendesak saat ini adalah memperkuat pasokan devisa di dalam negeri, menjaga disiplin fiskal agar kepercayaan pasar tetap terjaga, serta mempercepat pengurangan ketergantungan impor, terutama di sektor energi dan pangan.

Selain itu, penggunaan transaksi mata uang lokal dengan negara mitra dagang juga dinilai perlu diperluas guna mengurangi tekanan permintaan dolar AS.

Adapun pada penutupan perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah tercatat menguat menjadi Rp 17.476 per dolar AS dibanding sebelumnya Rp 17.529 per dolar AS.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tekanan Geopolitik dan Faktor Musiman Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Tekanan Geopolitik dan Faktor Musiman Jadi Penyebab Rupiah Melemah

EKONOMI
3 Sektor Paling Terdampak Imbas Rupiah Melemah Rp 17.500 Per Dolar AS

3 Sektor Paling Terdampak Imbas Rupiah Melemah Rp 17.500 Per Dolar AS

EKONOMI
Rupiah Capai Rp 17.500 Per Dolar AS, Money Changer Ramai Diserbu Warga

Rupiah Capai Rp 17.500 Per Dolar AS, Money Changer Ramai Diserbu Warga

EKONOMI
Rupiah Semakin Tertekan Terhadap Dolar AS

Rupiah Semakin Tertekan Terhadap Dolar AS

MULTIMEDIA
Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp 17.528 Tertekan 2 Sentimen

Rupiah Hari Ini Ditutup Melemah ke Rp 17.528 Tertekan 2 Sentimen

EKONOMI
Rupiah Anjlok Rp 17.500, Kadin Soroti Anomali Ekonomi Indonesia

Rupiah Anjlok Rp 17.500, Kadin Soroti Anomali Ekonomi Indonesia

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon