ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

3 Sektor Paling Terdampak Imbas Rupiah Melemah Rp 17.500 Per Dolar AS

Kamis, 14 Mei 2026 | 16:02 WIB
AD
AD
Penulis: Alfi Dinilhaq | Editor: AD
Ilustrasi industri manufaktur.
Ilustrasi industri manufaktur. (Antara/Maulana Surya)

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan, ada tiga sektor utama yang paling terdampak akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurut Yusuf, tekanan mulai terasa pada sektor pangan impor, energi dan transportasi, hingga industri yang masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

“Meskipun inflasi saat ini masih relatif rendah, tekanan di lapangan mulai terasa, terutama dari kenaikan biaya impor, energi, dan distribusi,” kata Yusuf di Jakarta, Rabu (14/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan struktur ekonomi Indonesia masih cukup bergantung pada impor, baik untuk pangan, bahan bakar minyak (BBM), bahan baku industri, maupun barang modal. Akibatnya, pelemahan rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga barang dan jasa secara bertahap.

“Dampaknya memang biasanya bertahap, bukan langsung sekaligus. Awalnya, produsen atau distributor masih mencoba menahan harga, tetapi kalau kurs bertahan lemah dalam waktu lama, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan,” ujarnya.

Yusuf menyebut sektor pertama yang paling sensitif terhadap pelemahan rupiah adalah pangan impor, seperti gandum, kedelai, gula, dan berbagai produk turunannya.

Sektor kedua adalah energi dan transportasi. Pelemahan rupiah dinilai dapat memicu kenaikan harga BBM nonsubsidi dan ongkos logistik karena biaya impor energi menjadi lebih mahal.

Sementara sektor ketiga yang terdampak adalah industri manufaktur yang masih banyak menggunakan bahan baku impor. Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat dan berpotensi diteruskan ke harga jual barang kepada konsumen.

Menurut Yusuf, langkah intervensi Bank Indonesia penting dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah agar tidak memicu kepanikan pasar dan efek domino yang lebih luas.

Namun, ia menilai intervensi BI tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan kebijakan pemerintah.

“Sebab, pasar juga melihat kondisi defisit transaksi berjalan, kebutuhan impor energi, dan persepsi terhadap ruang fiskal pemerintah,” katanya.

Karena itu, Yusuf mendorong pemerintah dan BI bergerak lebih sinkron, termasuk memperkuat pasokan devisa dalam negeri, menjaga disiplin fiskal, serta mempercepat pengurangan ketergantungan impor di sektor energi dan pangan.

Selain itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dengan negara mitra juga dinilai perlu diperluas guna mengurangi tekanan terhadap permintaan dolar AS.

Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah tercatat menguat menjadi Rp 17.476 per dolar AS dari sebelumnya Rp 17.529 per dolar AS.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Pelemahan Rupiah Dinilai Mulai Tekan Harga Pangan hingga BBM

Pelemahan Rupiah Dinilai Mulai Tekan Harga Pangan hingga BBM

EKONOMI
Rupiah Babak Belur, Dunia Usaha Tak Lagi Tenang

Rupiah Babak Belur, Dunia Usaha Tak Lagi Tenang

EKONOMI
Rupiah Jatuh, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi

Rupiah Jatuh, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon