Rupiah Jatuh, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi
Selasa, 12 Mei 2026 | 17:12 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai menekan dunia usaha. Kondisi ini membuat pelaku industri menahan ekspansi bisnis dan lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan perusahaan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah menjadi tekanan eksternal serius bagi industri nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurutnya, sekitar 70% bahan baku manufaktur di Indonesia masih berasal dari impor, sementara porsi bahan baku mencapai sekitar 55% dari total biaya produksi.
“Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” ujar Shinta kepada Beritasatu.com, Selasa (12/5/2026).
Shinta menjelaskan, sejumlah sektor industri menjadi yang paling terdampak, mulai dari petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi.
Ia mencontohkan, kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik telah memicu lonjakan harga resin hingga puluhan persen. Dampaknya kemudian merambat ke industri kemasan dan berbagai sektor hilir lainnya.
Selain biaya produksi yang meningkat, penguatan dolar AS juga memperbesar beban kewajiban perusahaan yang memiliki utang dalam valuta asing, baik pembayaran bunga maupun cicilan pokok utang.
Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi tantangan untuk menaikkan harga jual produk karena daya beli masyarakat dinilai masih lemah.
“Sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Menghadapi tekanan tersebut, dunia usaha mulai menerapkan strategi bisnis yang lebih hati-hati atau prudent. Salah satu langkah yang ditempuh adalah selective growth, yakni tetap melakukan ekspansi tetapi secara lebih selektif dengan mempertimbangkan permintaan pasar, efisiensi biaya, dan kepastian keuntungan investasi.
Sementara itu, investasi yang bersifat spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal mulai ditunda.
Perusahaan juga mulai memperkuat manajemen risiko dengan meningkatkan penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs rupiah. Selain itu, pelaku usaha mulai menata ulang struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing.
Di sisi operasional, perusahaan fokus melakukan efisiensi melalui pengurangan belanja modal atau capital expenditure (capex), optimalisasi modal kerja, hingga peningkatan produktivitas.
Diversifikasi pemasok dan upaya substitusi impor juga mulai dilakukan, meski kemampuan pasokan domestik di berbagai sektor masih terbatas.
“Ruang adaptasi tetap ada, tetapi tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini,” jelas Shinta.
Apindo menilai tekanan terhadap rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global seperti kenaikan imbal hasil US Treasury dan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong arus modal masuk ke aset dolar AS.
Di tengah kondisi tersebut, Apindo menilai langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% merupakan bentuk kehati-hatian untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan pasar.
Namun, Shinta menegaskan stabilitas moneter saja belum cukup untuk menjaga dunia usaha di tengah tekanan global yang masih tinggi.
"Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




