Tekanan Geopolitik dan Faktor Musiman Jadi Penyebab Rupiah Melemah
Kamis, 14 Mei 2026 | 17:19 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi faktor geopolitik global dan faktor musiman.
Menurut Fithra, berdasarkan simulasi variance decomposition, tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor eksternal dibanding kondisi fundamental domestik.
Fithra menjelaskan, salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan risiko global. Kondisi tersebut berdampak pada pergerakan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun.
“Jadi dengan adanya tensi di Timur Tengah, dalam hal ini meningkatkan faktor risiko, sehingga kalau kita lihat di Amerika Serikat, pergerakan US Treasury yield, yaitu obligasi pemerintah Amerika Serikat yang bertenor 10 tahun, yield-nya naik terus,” kata Fithra dalam program Beritasatu Sore di Beritasatu TV, Kamis (14/6/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan yield terjadi karena sejumlah lembaga asuransi di Amerika Serikat mulai menjual kepemilikan obligasi mereka untuk memenuhi kebutuhan likuiditas.
“Kalau kita lihat perilaku dari lembaga asuransi di Amerika Serikat, mereka sudah mulai menjual kepemilikan obligasinya. Kenapa? Karena mereka harus membayar klaim pengangguran yang meningkat, dan juga klaim kerugian usaha. Sehingga ketika mereka butuh cash, mereka menjual kepemilikan obligasi yang mereka miliki,” ungkapnya.
Fithra menambahkan, kenaikan yield obligasi AS memicu arus keluar modal atau capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Karena itu dijualin semua, maka yield-nya meningkat. Kalau yield-nya sudah meningkat, itu membuat semacam tarikan gravitasi dengan negara-negara lain, sehingga itu pada akhirnya memicu capital outflow,” jelasnya.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi tekanan akibat kenaikan kebutuhan impor minyak bumi di tengah harga energi yang meningkat yang membutuhkan dolar AS.
Selain faktor geopolitik, Fithra menyebut pelemahan rupiah juga dipengaruhi faktor musiman yang meningkatkan permintaan dolar AS pada bulan Mei.
“Di bulan Mei ada dividend repatriation. Permintan dolar juga meningkat karena musim haji dan harus bayar sekolah di luar negeri,” katanya.
Fithra mengungkapkan, nilai tukar rupiah sebenarnya masih berada pada level yang lebih baik apabila tekanan geopolitik dan faktor musiman tidak terjadi.
“Kalau faktor seasonal dan geopolitik ini dihilangkan, maka sebenarnya kondisi rupiah kita Rp 16.700,” ujarnya.
Pemerintah bersama Bank Indonesia saat ini juga terus melakukan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Yang dilakukan oleh pemerintah saat ini bersama dengan Bank Indonesia, melakukan bauran kebijakan dari sisi market, untuk menangani efek secara teknis pergerakan dari US Treasury yield. Itu juga biasanya akan turun dalam beberapa pekan ke depan,” kata Fithra.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
5 Daerah di Sumsel Siaga Karhutla Hadapi Kemarau 2026
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




