Rupiah Capai Rp 17.500 Per Dolar AS, Money Changer Ramai Diserbu Warga
Kamis, 14 Mei 2026 | 09:16 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu meningkatnya aktivitas transaksi di sejumlah money changer. Masyarakat terlihat memadati tempat penukaran valuta asing untuk membeli maupun menjual dolar AS di tengah fluktuasi kurs yang masih tinggi.
Berdasarkan pantauan Beritasatu.com di salah satu tempat penukaran uang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, aktivitas transaksi pada Rabu (13/5/2026) tampak lebih sibuk dibanding hari biasa. Nasabah datang silih berganti untuk melakukan penukaran mata uang asing sesuai kebutuhan masing-masing.
Salah satu nasabah, Fonda, mengaku baru kembali dari perjalanan kerja sebagai pelaut di Amerika Serikat (AS) dan Taiwan. Ia memilih menukarkan dolar AS ke rupiah sebelum kembali ke kampung halamannya di Lampung.
Menurut Fonda, kurs dolar yang tinggi saat ini membuat nilai tukar menjadi lebih menguntungkan. Dana hasil penukaran tersebut rencananya akan digunakan untuk kebutuhan keluarga hingga investasi.
Ia juga mengungkapkan lebih memilih menukarkan dolar secara mandiri dibanding menggunakan fasilitas konversi otomatis dari perusahaan tempatnya bekerja. Selisih kurs sekitar Rp 200 hingga Rp 300 per dolar dinilai cukup besar, terutama untuk nominal dalam jumlah tinggi.
Selain itu, Fonda mengaku sengaja menyimpan dolar AS terlebih dahulu dan menunggu momen kurs lebih tinggi sebelum ditukarkan ke rupiah. Ia menilai pergerakan rupiah saat ini lebih fluktuatif dibanding masa pandemi Covid-19.
Meski mendapatkan keuntungan dari penguatan dolar, Fonda berharap nilai tukar rupiah tetap stabil. Menurutnya, pelemahan rupiah yang terlalu dalam justru berdampak negatif bagi masyarakat luas.
Nasabah lainnya, Stefani, datang ke money changer untuk membeli dolar AS karena memiliki rencana bepergian ke luar negeri saat libur panjang akhir pekan.
Ia menilai money changer biasanya lebih ramai ketika rupiah melemah karena sebagian masyarakat memilih menyimpan dana dalam mata uang asing yang dianggap lebih stabil terhadap inflasi.
Menurut Stefani, keputusan menukar rupiah ke dolar lebih banyak didorong kebutuhan perjalanan ke luar negeri, bukan semata-mata untuk spekulasi kurs.
Fenomena meningkatnya transaksi di money changer mencerminkan respons masyarakat yang beragam terhadap pelemahan rupiah. Sebagian memanfaatkan kurs tinggi untuk menukar dolar ke rupiah, sementara lainnya membeli valuta asing demi kebutuhan traveling maupun menjaga nilai simpanan.
Meski sempat tertekan di level Rp 17.500 per dolar AS, rupiah akhirnya ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,30% atau 53 poin menjadi Rp 17.475 per dolar AS.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
1
B-FILES
Libur Kenaikan Isa Almasih, Penumpang Bandara Soetta Capai 131.000




