ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Pengusaha Petrokimia Nasional Kucurkan Investasi US$ 9 Miliar

Kamis, 4 Desember 2014 | 11:03 WIB
C
FB
Penulis: COY/EME | Editor: FMB
Ilustrasi pabrik Petrokimia
Ilustrasi pabrik Petrokimia (GlobeAsia/Mohammad Defrizal)

Jakarta — Industri petrokimia nasional investasi besar-besaran hingga 2019. Dana yang digelontorkan mencapai sekitar US$ 9 miliar untuk ekspansi dan pembangunan pabrik baru.

Investasi sebesar itu dikucurkan tiga pemain papan atas industri petrokimia, yakni PT Pertamina, PT Chandra Asri Tbk, dan PT Polytama Propindo. Pertamina berkolaborasi dengan PTT Global Chemical, raksasa petrokimia asal Thailand, untuk membangun kompleks petrokimia terintegrasi. Nilai investasi proyek ini membengkak menjadi US$ 8 miliar dari sebelumnya US$ 5 miliar.

Selanjutnya, Chandra Asri, produsen petrokimia terbesar nasional, menginvestasikan dana US$ 1,3 miliar untuk membangun pabrik styrene butadiene rubber (SBR), menambah kapasitas kilang nafta (naphta cracker), dan ekspansi ke industri ban otomotif. Dalam proyek SBR, perusahaan yang dikendalikan taipan Prajogo Pangestu ini menggandeng Michelin, perusahaan ban global berbasis di Prancis.

Adapun Polytama berencana membangun terminal penerima (receiving terminal) propilena impor senilai US$ 10 juta. Impor terpaksa dilakukan, menyusul langkah Pertamina menghentikan pasokan propilena ke Polytama. Propilena adalah bahan baku polipropilena (PP), produk yang dihasilkan Polytama.

ADVERTISEMENT

PP merupakan bahan baku plastik, selain polietilena (PE) dan polietilena tereftalat (PET). PP biasanya digunakan untuk memproduksi kemasan plastik yang kuat seperti karung beras, PE untuk kemasan fleksibel seperti bungkus rokok, dan PET untuk kemasan plastik rigid seperti botol plastik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan, saat ini merupakan momen yang tepat untuk menggenjot invetasi di sektor hulu industri petrokimia dalam negeri. Sebab, harga bahan baku resin diperkirakan masih rendah dalam beberapa bulan mendatang, seiring terkoreksinya harga minyak mentah ke level terendah dalam empat rahun.

"Dengan harga bahan baku yang murah, produsen resin PP dan PE diuntungkan dengan harga berkisar US$ 1.450 per ton," kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (3/12).

Dia mencatat, harga nafta, bahan baku produk monomer, saat ini mencapai US$ 660 per ton, dari sebelumnya US$ 900 per ton. Harga US$ 900 per ton dicapai pada saat harga minyak US$ 90 per barel. Nafta dihasilkan dari penyulingan minyak di kilang.

Adapun harga produk monomer (etilena dan propilena) saat ini mencapai US$ 1.050-1.100 per ton, sedangkan produk polimer (PP dan PE) turun dari US$ 1.600 per ton menjadi US$ 1.450-1.500 per ton.

"Harga kemungkinan besar mentok pada level itu, tidak akan anjlok lagi, karena sudah masuk musim dingin. Biasanya, konsumsi minyak naik pada musim dingin, sehingga harga bakal terkerek," papar dia.

Fajar menyatakan, Inaplas memangkas target pertumbuhan industri petrokimia tahun ini menjadi 5,5% dari sebelumnya 5,8%. Pemicunya adalah serbuan produk impor di sektor hilir (industri plastik). Tahun depan, level pertumbuhan ditargetkan sama seperti tahun ini sebesar 5,5%.

Fajar menuturkan, saat ini, mayoritas produk konsumsi impor sudah dibungkus dalam kemasan. Akibatnya, kata dia, pangsa pasar industri kemasan dalam negeri tergerus.

"Produk-produk makanan dan minuman (mamin), shampo, atau kosmetik impor itu sudah menggunakan kemasan dan juga mencantumkan label berbahasa Indonesia. Selain itu, impor beras atau gula yang tadinya dalam bentuk curah (bulk) didatangkan dalam kemasan karung, sehingga industri karung plastik nasional juga tertekan," kata dia.

Hal ini, kata dia, sangat disayangkan, karena beberapa produsen karung domestik sudah merevitalisasi pabrik untuk menambah kapasitas produksi. Pemanfaatan kapasitas terpasang industri ini tergerus menjadi 60%.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Harga Plastik Naik, Industri Beralih ke Bahan Baku Alternatif

Harga Plastik Naik, Industri Beralih ke Bahan Baku Alternatif

EKONOMI
Exxon Dikabarkan Tutup Pabrik Pengolahan Petrokimia Tertua Singapura

Exxon Dikabarkan Tutup Pabrik Pengolahan Petrokimia Tertua Singapura

EKONOMI
Bahlil: Kehadiran Pabrik Lotte di Cilegon Tekan Impor Petrokimia RI

Bahlil: Kehadiran Pabrik Lotte di Cilegon Tekan Impor Petrokimia RI

EKONOMI
Final Four Livoli: 1 Kemenangan Lagi, Petrokimia ke Grand Final

Final Four Livoli: 1 Kemenangan Lagi, Petrokimia ke Grand Final

SPORT
Jadwal Final Four Livoli Divisi Utama Minggu 12 Oktober 2025

Jadwal Final Four Livoli Divisi Utama Minggu 12 Oktober 2025

SPORT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon